Satu sosok renta berjalan pelan tertatih
Wajah sayu menghias jelas dimukanya
Guratan dalam kulit hitam legam dibakar matahari
Dihiasi keringat yang mengalir derasMenampakkan beban berat dalam hidupnyaIbarat lukisan alam saksi perjuangan Dia hidup sebatang karaMenempuh hidup dalam kesendirian kelabuMengais sisa-sisa nyawaYang kian lemah dimakan usia Tiada ingin ia jalani semua iniNamun nasib menghantarkan Mencampakkan dirinya disanaBerusaha tegar menjalani hariTerus berharap esok akan berganti Namun sang mentari seakan enggan terbitDitelan kepahitan kelabu yang kian pekatSinar-sinar itu tiada terlihat kembaliSeakan malu melihat sosok renta Yang tak kunjung meraih harapan dan cita Dia terus berjalan menyusuri waktuHarapan itu masih tergenggam kuatDitangan renta yang gemetar semakin lemahDalam kesunyian dia berjalan sendiriMenyibak takdir esok hari Kini lelaki renta terhuyung menatap jalan panjangDengan bibir tuanya dia bertanya”Akankah sampai diriku diujung jalan ini?”Sunyi, semua bisu dalam keheningan mencekamTiada suara yang menjawab lelaki rentaKarena kepedulian ibarat permataYang kian sulit ditemukan disepanjang jalan ini Lelaki renta tengah meregang nyawaTubuh rentanya tiada lagi kuasaMembawa nyawa suci turut sertaPerlahan dia menatap langitSenyum kecil menghiasi mulutnyaDengan terbata dia berkata”Surgaku adalah citaku…”Akhirnya tibalah diujung usia Lelaki renta telah pergi untuk selamanyaMengejar cita-cita dan impian hidupnya
DIarsipkan di bawah: Uncategorized