<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Moslem Community</title>
	<atom:link href="http://shaifullah.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://shaifullah.wordpress.com</link>
	<description>Setiap kisah menyimpan makna, setiap peristiwa mengandung hikmah berharga</description>
	<lastBuildDate>Tue, 11 Mar 2008 05:07:47 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='shaifullah.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Moslem Community</title>
		<link>http://shaifullah.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://shaifullah.wordpress.com/osd.xml" title="Moslem Community" />
	<atom:link rel='hub' href='http://shaifullah.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Air kehidupanku</title>
		<link>http://shaifullah.wordpress.com/2008/03/11/air-kehidupanku/</link>
		<comments>http://shaifullah.wordpress.com/2008/03/11/air-kehidupanku/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 Mar 2008 05:07:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>shaifullah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah teladan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://shaifullah.wordpress.com/2008/03/11/air-kehidupanku/</guid>
		<description><![CDATA[Di saat semuanya membayang indah dalam sederet angan yang melenakan. Kita seharusnya ingat bahwa kenyataan itu lebih susah diterka dibanding rencana-rencana manusia. Semua kenyataan harus bertarung dalam sebuah takdir yang telah tergariskan dalam setiap nafas kehidupan ini. Semua angan boleh ditampakkan, setiap harapan masih diperkenankan untuk dirajut dalam sela-sela waktu yang ada dan cita-cita tidak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=shaifullah.wordpress.com&amp;blog=763319&amp;post=117&amp;subd=shaifullah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di saat semuanya membayang indah dalam sederet angan yang melenakan. Kita seharusnya ingat bahwa kenyataan itu lebih susah diterka dibanding rencana-rencana manusia. Semua kenyataan harus bertarung dalam sebuah takdir yang telah tergariskan dalam setiap nafas kehidupan ini. Semua angan boleh ditampakkan, setiap harapan masih diperkenankan untuk dirajut dalam sela-sela waktu yang ada dan cita-cita tidak dilarang untuk ditinggikan sejauh-jauhnya. Namun kita harus ingat bahwa semua itu ada bingkai yang membatasinya untuk bergerak liar tanpa kendali. Bingkai itu teramat kokoh untuk sekedar ditembus oleh ambisi manusia yang serakah akan kemewahan. Bingkai yang akan memberikan kita kesadaran penuh bahwa kita ini manusia biasa dan berperan sebagai pelaku dari skenario yang telah terhampar di dunia. Sebuah babak dan episode yang terus bersambung menyusun sejarah kehidupan.<br />
Kita adalah pemain yang terus bergerak menyambut setiap babak yang akan dimainkan oleh sang pembuat kehidupan ini. Setiap hari kita akan dihadapkan pada sebuah tantangan yang hadir silih berganti, membuat tegar bagi yang lemah, membuat berani bagi sang penakut. Tantangan itu kadang hadir menggunung bak tembok besar yang melintang, perlu nyali yang lebih untuk sekedar menatapnya dengan penuh wibawa. Tidak sedikit yang menyerah kalah dan mengkerut dalam benaman kepasrahan. Mereka telah kalah sebelum bertanding, bahkan menjadi pengecut yang lari menjauh dari rintangan untuk mencari padang datar tanpa pendakian yang terjal. Selamanya tubuh mereka kecil karena otot dan badannya tidak terlatih dalam kerja keras perjuangan. Mereka menjadi orang kerdil dan otot mereka melemah dari waktu kewaktu. Tapi mereka bangga dan merasa asyik dengan kondisinya. Begitulah mereka dengan kondisinya akan terus mengalir dalam kehidupannya ibarat air yang mencari ladang datar dan segera bergegas menuruni lahan landai dan turunan yang terkadang menjebaknya untuk terus menghuni lahan terendah tanpa punya kemampuan lagi untuk naik ke permukaan. Mereka terus disitu berdiam diri dalam suasana kepasrahan hingga membusuk dan berubah jadi sarang berbagai penyakit dan kotoran. Mereka enggan dan tidak ingin melonjak naik ke atas karena itu adalah sesuatu yang mustahil untuk dilakukan. Mereka binasa dalam kubangan besar yang terus menjadi penjara akan semua keinginan dan harapan.<br />
Mereka butuh sebuah timba yang akan mengangkatnya keatas untuk melihat kembali lahan tinggi yang membanggakan. Disana mereka akan melihat suasana dan kondisi yang teramat berbeda ketika mereka terperosok dalam kubangan kepasrahan. Kini setelah naik tinggi, air kembali punya daya yang mampu meyalakan lampu. Mereka punya penerang dan harapan baru untuk kembali menapaki hidup ini dan menyelesaikan episode yang terus berjalan hingga akhirnya sampai pada akhir yang mengharukan.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/shaifullah.wordpress.com/117/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/shaifullah.wordpress.com/117/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/shaifullah.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/shaifullah.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/shaifullah.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/shaifullah.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/shaifullah.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/shaifullah.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/shaifullah.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/shaifullah.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/shaifullah.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/shaifullah.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/shaifullah.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/shaifullah.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/shaifullah.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/shaifullah.wordpress.com/117/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=shaifullah.wordpress.com&amp;blog=763319&amp;post=117&amp;subd=shaifullah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://shaifullah.wordpress.com/2008/03/11/air-kehidupanku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/12cc1bf658e00f36fa7d24506100c13a?s=96&#38;d=" medium="image">
			<media:title type="html">yayan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kisah Hidup Lelaki Renta</title>
		<link>http://shaifullah.wordpress.com/2008/03/07/kisah-hidup-lelaki-renta/</link>
		<comments>http://shaifullah.wordpress.com/2008/03/07/kisah-hidup-lelaki-renta/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 07 Mar 2008 05:21:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>shaifullah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://shaifullah.wordpress.com/2008/03/07/kisah-hidup-lelaki-renta/</guid>
		<description><![CDATA[Satu sosok renta berjalan pelan tertatih Wajah sayu menghias jelas dimukanya Guratan dalam kulit hitam legam dibakar matahari Dihiasi keringat yang mengalir derasMenampakkan beban berat dalam hidupnyaIbarat lukisan alam saksi perjuangan Dia hidup sebatang karaMenempuh hidup dalam kesendirian kelabuMengais sisa-sisa nyawaYang kian lemah dimakan usia Tiada ingin ia jalani semua iniNamun nasib menghantarkan Mencampakkan dirinya disanaBerusaha tegar [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=shaifullah.wordpress.com&amp;blog=763319&amp;post=116&amp;subd=shaifullah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span><font face="Times New Roman">Satu sosok renta berjalan pelan tertatih</font></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Wajah sayu menghias jelas dimukanya</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Guratan dalam kulit hitam legam dibakar matahari</font></p>
<p><span><font face="Times New Roman">Dihiasi keringat yang mengalir deras</font></span><span><font face="Times New Roman">Menampakkan beban berat dalam hidupnya</font></span><span><font face="Times New Roman">Ibarat lukisan alam saksi perjuangan</font></span><span><font face="Times New Roman"> </font></span><span><font face="Times New Roman">Dia hidup sebatang kara</font></span><span><font face="Times New Roman">Menempuh hidup dalam kesendirian kelabu</font></span><span><font face="Times New Roman">Mengais sisa-sisa nyawa</font></span><span><font face="Times New Roman">Yang kian lemah dimakan usia</font></span><span><font face="Times New Roman"> </font></span><span><font face="Times New Roman">Tiada ingin ia jalani semua ini</font></span><span><font face="Times New Roman">Namun nasib menghantarkan </font></span><span><font face="Times New Roman">Mencampakkan dirinya disana</font></span><span><font face="Times New Roman">Berusaha tegar menjalani hari</font></span><span><font face="Times New Roman">Terus berharap esok akan berganti</font></span><span><font face="Times New Roman"> </font></span><span><font face="Times New Roman">Namun sang mentari seakan enggan terbit</font></span><span><font face="Times New Roman">Ditelan kepahitan kelabu yang kian pekat</font></span><span><font face="Times New Roman">Sinar-sinar itu tiada terlihat kembali</font></span><span><font face="Times New Roman">Seakan malu melihat sosok renta </font></span><span><font face="Times New Roman">Yang tak kunjung meraih harapan dan cita</font></span><span><font face="Times New Roman"> </font></span><span><font face="Times New Roman">Dia terus berjalan menyusuri waktu</font></span><span><font face="Times New Roman">Harapan itu masih tergenggam kuat</font></span><span><font face="Times New Roman">Ditangan renta yang gemetar semakin lemah</font></span><span><font face="Times New Roman">Dalam kesunyian dia berjalan sendiri</font></span><span><font face="Times New Roman">Menyibak takdir esok hari</font></span><span><font face="Times New Roman"> </font></span><span><font face="Times New Roman">Kini lelaki renta terhuyung menatap jalan panjang</font></span><span><font face="Times New Roman">Dengan bibir tuanya dia bertanya</font></span><span><font face="Times New Roman">”Akankah sampai diriku diujung jalan ini?”</font></span><span><font face="Times New Roman">Sunyi, semua bisu dalam keheningan mencekam</font></span><span><font face="Times New Roman">Tiada suara yang menjawab lelaki renta</font></span><span><font face="Times New Roman">Karena kepedulian ibarat permata</font></span><span><font face="Times New Roman">Yang kian sulit ditemukan disepanjang jalan ini</font></span><span><font face="Times New Roman"> </font></span><span><font face="Times New Roman">Lelaki renta tengah meregang nyawa</font></span><span><font face="Times New Roman">Tubuh rentanya tiada lagi kuasa</font></span><span><font face="Times New Roman">Membawa nyawa suci turut serta</font></span><span><font face="Times New Roman">Perlahan dia menatap langit</font></span><span><font face="Times New Roman">Senyum kecil menghiasi mulutnya</font></span><span><font face="Times New Roman">Dengan terbata dia berkata</font></span><span><font face="Times New Roman">”Surgaku adalah citaku&#8230;”</font></span><span><font face="Times New Roman">Akhirnya tibalah diujung usia </font></span><span><font face="Times New Roman">Lelaki renta telah pergi untuk selamanya</font></span><span><font face="Times New Roman">Mengejar cita-cita dan impian hidupnya</font></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/shaifullah.wordpress.com/116/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/shaifullah.wordpress.com/116/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/shaifullah.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/shaifullah.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/shaifullah.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/shaifullah.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/shaifullah.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/shaifullah.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/shaifullah.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/shaifullah.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/shaifullah.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/shaifullah.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/shaifullah.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/shaifullah.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/shaifullah.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/shaifullah.wordpress.com/116/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=shaifullah.wordpress.com&amp;blog=763319&amp;post=116&amp;subd=shaifullah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://shaifullah.wordpress.com/2008/03/07/kisah-hidup-lelaki-renta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/12cc1bf658e00f36fa7d24506100c13a?s=96&#38;d=" medium="image">
			<media:title type="html">yayan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pacaran&#8230;? Gimana ya&#8230;?</title>
		<link>http://shaifullah.wordpress.com/2008/01/20/pacaran-gimana-ya/</link>
		<comments>http://shaifullah.wordpress.com/2008/01/20/pacaran-gimana-ya/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 20 Jan 2008 00:35:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>shaifullah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://shaifullah.wordpress.com/2008/01/20/pacaran-gimana-ya/</guid>
		<description><![CDATA[Pada satu malam di tepi pantai pulau Selayar. Aku berjalan sambil melepas pandangan jauh ke tengah laut yang gelap diselingi deru ombak terus-menerus memukul bibir pantai berhias tiang-tiang dermaga. Kejenuhan selama  berada di dalam rumah telah menuntunku untuk menuju pantai sekedar melepas penat mencari  inspirasi baru. Nyaman rasanya berada di tepi pantai dengan angin sepoi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=shaifullah.wordpress.com&amp;blog=763319&amp;post=114&amp;subd=shaifullah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span>Pada satu malam di tepi pantai pulau Selayar. Aku berjalan sambil melepas pandangan jauh ke tengah laut yang gelap diselingi deru ombak terus-menerus memukul bibir pantai berhias tiang-tiang dermaga. Kejenuhan selama<span>  </span>berada di dalam rumah telah menuntunku untuk menuju pantai sekedar melepas penat mencari <span> </span>inspirasi baru. Nyaman rasanya berada di tepi pantai dengan angin sepoi menjadikan badanku terasa segar walaupun hawa dingin turut serta menyelimutiku. Namun suasana teduh pantai yang nyaman mengalahkannya dengan segera. Sambil menikmati suasana pantai aku berjalan pelan menuruti langkah kakiku menyusuri pasir hitam yang basah oleh air laut yang dingin. </span><span>Setelah berjalan beberapa lama tibalah aku di satu tempat yang cukup luas berdiri diatas bibir pantai. </span><span>Karena malam suasananya sepi serta cahaya lampu kecil dan redup membuat tempat ini remang-remang. Akupun naik ke tempat ini dari bibir pantai yang telah ku susuri sejak tempat pertama kudatangi. Sedikit heran aku melihat ada beberapa motor terparkir di tepi bangunan yang menjorok ke laut. Setelah aku amati lebih teliti terpampang satu adegan mengusik pikiran sehatku karena menurut hati kecilku kurang layak dilihat ditempat umum seperti itu. Sepasang muda-mudi dengan tanpa merasa canggung berpelukan mesra seakan tidak ada yang memperhatikan mereka. Sesekali mereka tertawa lepas sambil menikmati pantai dengan ombak terus berderu menambah suasana semakin romastis bagi mereka. Bukan hanya satu dua pasang yang aku lihat tapi beberapa juga melakukan hal yang sama, bahkan ada yang turun ke bawah bangunan dengan berpasang-pasangan. Dan saya tidak tahu apa yang mereka lakukan karena terhalang oleh bangunan yang menyerupai panggung diatas pantai. Terhenyak aku melihat pemandangan di depan mataku, satu pulau yang terpencil dan jauh dari peradaban kota besar ternyata sedemikian rusaknya pergaulan remaja, bahkan menyerupai kota-kota besar yang lebih dahulu rusak. Ironi sekali kondisi ini. Ternyata kerusakan pergaulan remaja dan pemuda telah sedemikian akut dan menjamah seluruh pelosok negeri ini, bukan hanya di kota besar yang telah maju dalam hal teknologi dan informasi, namun juga di desa yang terpencil pun telah terjamah nilai-nilai rusak tersebut. </span><span>Pikiranku menerawang mencari satu jawaban singkat yang dapat menjelaskan suasana malam ini, belum lagi kutemukan jawabannya, pikiranku diserbu berbagai pertanyaan yang rumit. Ada apa dengan bangsa ini? Inikah potret masa depan bangsa ini? Bukanlah pertanyaan yang salah ketika melihat kondisi pergaulan remaja saat ini. Pacaran seakan menjadi gaya hidup bagi remaja. Bukan dimulai dari usia yang cukup baligh, bahkan di SD pun mereka sudah terjangkiti virus mematikan ini. Kalau dimasa usia-usia rawan dalam kehidupannya telah terserang virus ini, maka potensi besar mereka telah terkebiri dan tumbuh kerdil. Karena dalam benak mereka hanyalah bagaimana memperoleh pasangan (pacar) dan mengisi hari-harinya dengan pasangannya. Tentunya aktivitas yang akan dijalani di hari-hari setelah virus ini mulai bekerja akan semakin kacau dan tidak bermutu. Simak saja aktivitas mereka yang telah terserang akut virus ini, kita bisa tengok dari pagi-pagi mereka bangun sudah sibuk dengan sms-sms tidak bermutu mulai dari ”Lagi ngapain? Dah bangun belom? Hari ini ada acara? Tadi malam ngimpiin aku ndak? Dan sederet sms yang kurang bermutu lainnya. Kemudian di siang hari selepas mereka sekolah sering kita jumpai sepasang remaja nongkrong di mall, pusat perbelanjaan, lokasi hiburan, taman rekreasi hingga jalan-jalan sepi yang romantis. Setelah malam mereka mengajak keluar untuk nongkrong, dan aktivitas lainnya yang tidak bermutu. Begitupun ketika mau tidur, bukannya langsung tidur, tapi sms ria dan ngobrol bahkan sampai larut malam mereka masih asyik ngobrol dengan bahan yang tidak berguna sama sekali. Mereka menghabiskan waktu-waktu berharga mereka dengan sia-sia. Waktu-waktu tersebut seharusnya digunakan untuk mengukir masa depan mereka. Waktu yang sangat rawan tersebut dihabiskan begitu saja tanpa menghasilkan satu prestasi yang menghantarnya menjadi pribadi pilihan yang suatu saat akan mewarisi bangsa ini. Mereka larut dalam dunia pergaulan yang hitam dan sulit untuk keluar darinya. Sebenarnya bukanlah kebahagiaan dan kesenangan yang dijanjikan dalam dunia pergaulan semacam ini, bahkan kekecewaan, kesedihan dan keputusaan juga akan diperoleh. Banyak yang bunuh diri karena pustus cinta, ada yang menenggak racun, gantung diri, potong urat tangan, terjun bebas dan sebagainya. Bahkan ada yang patah semangat dan linglung setelah ditinggal pergi pacarnya. Belum lagi resiko yang harus dihadapi dari pergaulan bebas ini, mulai dari hamil diluar nikah, kisah aborsi yang berujung kematian, kucilan dari masyarakat karena perselingkuhan dan seabreg masalah sosial ikutan bagi masing-masing keluarga. </span><span>Kalau menimbang dengan pikiran bijak kita heran dengan para pemuda dan remaja yang memilih kegiatan pacaran ini sebagai aktivitas mereka. Dimulai dari sedikitnya manfaat, disertai dengan resiko dan banyaknya permasalahan yang akan timbul di kemudian hari apabila telah terjebak dalam aktivitas ini, mulai dari pribadi, keluarga, dan masyarakat. Sesungguhnya kondisi ini adalah sebuah skenario besar untuk menghancurkan sebuah bangsa. Sebuah logika sederhana mampu mengurai permasalahan ini. Jika kita membicarakan suatu bangsa maka salah satu aset berharganya adalah generasi mudanya, karena ada satu pepatah yang mengatakan ’Kondisi pemuda saat ini adalah gambaran kondisi bangsa dimasa mendatang’. Karena mereka akan menjadi penerus yang melanjutkan estafet perjuangan suatu bangsa menuju cita-cita besarnya, ketika suatu bangsa kehilangan satu generasi, maka dapat dipastikan bangsa tersebut akan gagal dan tersungkur dalam keterpurukan yang dalam. Mereka yang sekarang memegang tampuk pemerintahan tidak akan selamanya hidup, tidak akan selamanya berdaya menjawab tantangan jaman yang terus berkembang dan berevolusi. Butuh generasi muda dengan jiwa, semangat darah segarnya mampu menjawab semua tantangan tersebut. Satu masa mempunyai permasalahannya sendiri, dan demikian terus-menerus melengkapi sejarah sebuah bangsa. Diperlukan pahlawan-pahlawan baru yang menjadikan suatu bangsa menjadi besar. Dan para pahlawan yang menghantarkan satu bangsa berjaya disuplai dari generasi muda, tidak ada pahlawan yang datang dari generasi tua yang kembali berjaya, sejarah telah membuktikannya. Peristiwa Rengasdengklok yang menjadi cikal bakal kemerdekaan Indonesia adalah dipelopori oleh pemuda, demikian kisah berdirinya Budi Utomo yang jauh hari sebelum gerakan perjuangan menggelora di tanah air juga didirikan oleh pemuda. Selanjutnya salah satu deklarasi yang dicetuskan pada tahun 1928 adalah sumpah pemuda, bukan sumpah tua. Dari sana muncul berbagai organisasi kepemudaan yang sangat berperan besar dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Demikian juga dengan kisah-kisah bangsa lain yang bergulir dan bergerak maju dengan adanya peran pemuda didalamnya.</span><span>Memang kita tidak bisa dengan serta merta menyalahkan mereka tanpa memberikan satu solusi yang mampu menjaga mereka dari virus berbahaya ini. Sudah sepantasnya kita turut prihatin dan sama-sama menggalang kekuatan menyembuhkan penyakit ini. Kalau bukan kita siapa lagi yang akan peduli dengan mereka? Apakah kita rela bangsa ini terpuruk dengan kualitas pemuda yang semakin rendah karena terkontaminasi virus berbahaya ini. Kita akan mencoba mengurai satu solusi yang kita tawarkan sebagai bentuk keprihatinan yang mendalam. Semoga solusi tersebut berguna tentunya dengan segala kekurangan yeng menyertainya.</span><span>Kita dapat membagi solusi tersebut menjadi dua bagian utama yaitu internal dan eksternal. Internal adalah satu solusi yang berasal dari pribadi remaja, sedangkan eksternal berasal dari luar yang mampu memperkuat solusi internal dan sifatnya sebagai pendukung dari solusi yang pertama. Namun dalam usulan ini tidak dipisahkan secara langsung, tapi dianggap sebagai satu kesatuan yang diharapkan mampu dilaksanakan dilapangan secara padu yang membidik dari dua sisi internal dan ekternal Solusi yang kita usulkan adalah sebagai berikut :</span><span> </span><span><span>1.<span style="font:7pt 'Times New Roman';">      </span></span></span><span>Memperkuat karakter keagamaan remaja melalui pelajaran agama dan mentoring di sekolah</span><span><span>2.<span style="font:7pt 'Times New Roman';">      </span></span></span><span>Menggalakkan seminar dan talkshow tentang peran remaja dan pemuda terhadap kejayaan suatu bangsa di sekolah dan kampus</span><span><span>3.<span style="font:7pt 'Times New Roman';">      </span></span></span><span>Menggalakkan seminar bahaya pergaulan bebas di sekolah dan kampus</span><span><span>4.<span style="font:7pt 'Times New Roman';">      </span></span></span><span>Menyediakan sarana edukatif dan kreatif sebagai penyalur bakat remaja</span><span><span>5.<span style="font:7pt 'Times New Roman';">      </span></span></span><span>Mengurangi program tayangan televisi yang bertemakan cinta anak remaja dan derivasinya</span><span><span>6.<span style="font:7pt 'Times New Roman';">      </span></span></span><span>Membuat undang-undang dan membentuk <span> </span>badan pemerintah yang membatasi aktivitas pacaran</span><span><span>7.<span style="font:7pt 'Times New Roman';">      </span></span></span><span>Memberlakukan jam malam bagi pelajar dibawah usia 17 tahun</span><span><span>8.<span style="font:7pt 'Times New Roman';">      </span></span></span><span>Mengurangi aktivitas bersama antara remaja putri dan remaja putra baik dilingkungan sekolah dan kampus</span><span><span>9.<span style="font:7pt 'Times New Roman';">      </span></span></span><span>Mengkampanyekan peran penting keluarga sebagai pembentuk kepribadian remaja melalui pengawasan dan pembinaan intensif di lingkungan keluarga</span><span> </span><span>Pembahasan dari berapa usulan solusi. </span><span>Solusi yang pertama adalah memperkuat karakter keagamaan remaja melalui pelajaran agama dan mentoring di sekolah. Solusi ini adalah yang utama dari solusi-solusi lain. Karena agama merupakan </span><span> </span><span>Mungkin solusi-solusi diatas adalah solusi teoritis, diperlukan satu sarana yang mampu menterjemahkannya dalam tataran praktis sehingga jauh akan lebh efektif dan edisien untuk mengatasi permasalahan yang ada dilapangan. </span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/shaifullah.wordpress.com/114/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/shaifullah.wordpress.com/114/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/shaifullah.wordpress.com/114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/shaifullah.wordpress.com/114/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/shaifullah.wordpress.com/114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/shaifullah.wordpress.com/114/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/shaifullah.wordpress.com/114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/shaifullah.wordpress.com/114/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/shaifullah.wordpress.com/114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/shaifullah.wordpress.com/114/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/shaifullah.wordpress.com/114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/shaifullah.wordpress.com/114/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/shaifullah.wordpress.com/114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/shaifullah.wordpress.com/114/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/shaifullah.wordpress.com/114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/shaifullah.wordpress.com/114/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=shaifullah.wordpress.com&amp;blog=763319&amp;post=114&amp;subd=shaifullah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://shaifullah.wordpress.com/2008/01/20/pacaran-gimana-ya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/12cc1bf658e00f36fa7d24506100c13a?s=96&#38;d=" medium="image">
			<media:title type="html">yayan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Selembar kertas kusut dari perjalanan singkat di Pontianak dan Sulawesi Selatan</title>
		<link>http://shaifullah.wordpress.com/2007/11/29/selembar-kertas-kusut-dari-perjalanan-singkat-di-pontianak-dan-sulawesi-selatan/</link>
		<comments>http://shaifullah.wordpress.com/2007/11/29/selembar-kertas-kusut-dari-perjalanan-singkat-di-pontianak-dan-sulawesi-selatan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Nov 2007 12:26:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>shaifullah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://shaifullah.wordpress.com/2007/11/29/selembar-kertas-kusut-dari-perjalanan-singkat-di-pontianak-dan-sulawesi-selatan/</guid>
		<description><![CDATA[Dengan sebuah semangat besar untuk memberikan manfaat kepada orang lain melalui kegiatan berdagang (bisnis) itulah, seorang mahasiswa di surabaya mencoba untuk berkiprah. Sebelum memasuki gerbang aktivitas ini, terkadang ada satu beban menggayut berat, bayangan dan rintangan yang harus dihadapi, mulai dari keluarga, teman kuliah, dan seabreg tantangan dilapangan yang nantinya akan dia masuki. Langkah yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=shaifullah.wordpress.com&amp;blog=763319&amp;post=113&amp;subd=shaifullah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dengan sebuah semangat besar untuk memberikan manfaat kepada orang lain melalui kegiatan berdagang (bisnis) itulah, seorang mahasiswa di surabaya mencoba untuk berkiprah. Sebelum memasuki gerbang aktivitas ini, terkadang ada satu beban menggayut berat, bayangan dan rintangan yang harus dihadapi, mulai dari keluarga, teman kuliah, dan seabreg tantangan dilapangan yang nantinya akan dia masuki. Langkah yang sedikit galau bercampur cemas membuatnya harus berkonsultasi dengan beberapa orang yang bisa diajak diskusi untuk memantapkan langkahnya. Disitulah dia memulai sebuah proses pendewasaan diri di dunia pasca kampus, saatnya baginya berkiprah setelah digodog di kawah candradimuka tarbiyah kampus. Berbekal nasehat dan semangat yang masih kuat di dadanya, buah dari tarbiyah yang dia dapatkan, ia mulai melangkah pelan dan mantap. Kini hari-harinya dihiasi dengan perjalanan jauh ke pulau-pulau kecil di Indonesia yang memungkinkan aktivitas dagangnya bisa berjalan. Disanalah dia melihat satu kondisi nyata di Indonesia tentang nasib dan kehidupan rakyat pinggiran. Hatinya basah melihat kondisi tragis dimasyarakat yang telah bersusah payah mengurus lahannya kemudian memetik hasil buminya dan dihargai dengan ala kadarnya. Hasil dari jerih payahnya tidaklah sebanding dengan pengorbanannya. Para pengelola perkebunan ini sangat sulit untuk hidup berkecukupan, bahkan hanya cukup untuk sekedar bertahan melanjutkan nafas kehidupannya. Bukan hanya itu, kesulitan hidup itupun bertambah karena kondisi alam dengan hasil perkebunannya sangat sulit untuk menghasilkan bahan pangan yang bisa dimakan, suplai ke darahnya pun sangat terbatas sehingga harga makanan membumbung tinggi. Kondisi itupun diperparah dengan adanya sistem monopoli yang menggandeng sistem ijon dalam proses jual beli hasil perkebunan. Kesengsaraan mereka nyaris sempurna dengan kondisi alam yang kian tidak menentu menjadikan hasil perkebunannya kurang maksimal, kondisi ini yang sering disebut global warming yang lagi santer dibicarakan dalam forum internasional.<br />
Kisah pilu masyarakat ini bisa digambarkan dari satu daerah terpencil di Pontianak, bernama pulau Batu Ampar. Untuk mencapainya diperlukan perjalanan selama 3 jam menggunakan speed boat dengan tarif Rp. 200.000,- sekali jalan. Sedangkan kalau menggunakan kapal kecil atau kapal klotok ditempuh selama 8 jam lebih dengan tarif Rp.30.000,- sekali jalan. Dikesempatan itu saya dan seorang teman juga dari surabaya tinggal selama 6 hari disana, banyak sekali informasi yang kami dapatkan, terutama bagi saya karena mampu membuka mata dan wawasan saya bahwa masih banyak masyarakat Indonesia yang hidup dibawah garis kemiskinan yang terus berharap ada satu kekuatan besar mengangkatnya dari kungkungan kemisknan. Berbagai pengalaman baru saya peroleh karena rumah yang saya tinggali adalah salah satu tokoh desa yang akan mencalonkan diri menjadi lurah atau kepala desa, sehingga banyak yang sering datang untuk berbincang-bincang. Suatu saat saya makan di warung dekat rumah, satu porsi nasi goreng seharga Rp. 10.000,- dan setelah saya melihat papan harga disana semua masakan berharga sama, mulai dari soto, mie rebus dan menu sederhana lainnya. Dan itu satu-satunya warung yang saya jumpai selama disitu, harga yang menurut saya cukup tinggi jika dibandingkan dengan kondisi ekonomi daerah itu, karena untuk mendapatkan uang sejumlah itu masyarakat harus kerja ekstra. Perbandingannya adalah upah dari seorang tukang panjat kelapa hanya dihargai Rp. 1000,- per pohon. Rata-rata dia dapat memanjat 70 pohon kelapa.<br />
Sempat suatu sore selepas sholat maghrib saya berbincang dengan seorang bapak. Dia bertutur pelan memulai perbincangan itu tentang kondisi masyarakat disana, dibawah lampu redup yang dihasilkan dari generator kecil disamping masjid yang mensuplai satu desa, dia bercerita dengan ramah dan lugu. Lampu kecil yang terkadang kian redup itupun menyala hanya mulai jam enam sore hingga jam sepuluh malam. </p>
<p>Dengan suara parau dia memulia ceritanya,”Yah seperti inilah kondisi desa kami” dengan bahasa Indonesia yang kurang lancar.<br />
“Kami disini hanya mengandalkan hasil dari kebun kelapa kami, Ya dari hasil bikin kopra” Dia diam sebentar sambil melinting bakau untuk diisap sebagai ganti rokok, setelah dilinting, dia nyalakan dengan korek api, kemudian menyambung ceritanya. “Masyarakat disini ada juga sebagian yang menebang kayu dihutan untuk di jual kepada penadah yang kebanyakan adalah orang cina, sehari kadang bisa dapat seratus ribu, itupun kami juga harus waspada kalau ada polisi hutan yang datang, karena kalau ketahuan urusannya jadi rumit. Pekerjaan itu terpaksa mereka lakukan untuk menyambung asap di dapur karena kelapa kami hanya bisa dipanen setiap tiga bulan sekali”.<br />
Sesekali bapak ini menghisap rokok lintingannya, terus kembali melanjutkan ceritanya. “Kadang kalau ada keperluan mendesak kami ambil uang dulu ke pengumpul kopra dan kami janjikan dengan buah kelapa kami yang masih hijau dipohon untuk pembayarannya. Walaupun kami tahu resikonya harga kopra kami akan dihargai jauh lebih rendah, tapi gimana lagi karena terdesak kebutuhan”.<br />
Terkadang bapak yang mulai memutih rambutnya ini batuk-batuk karena pengaruh rokok lintingannya, kemudian kembali bertutur,”Karena uang hasil penjualan kopra kami hanya cukup untuk hidup sekitar satu bulan hingga satu setengah bulan, dan sisanya kami harus mencari dari yang lain. Kadang melaut dan mengganti nasi dengan singkong yang kami tanam di kebun belakang rumah. Kami sebenarnya sangat berharap perubahan terhadap kondisi kami, kalau bukan kami yang merasakan, mungkin anak atau cucu kami. Walaupun saya bukan orang yang begitu tahu tentang politik, tapi sejak beberapa tahun yang lalu ada satu partai politik datang. Tapi saya heran kok pemimpinnya yang kampanye disini seorang ustadz. Yah semoga itu pertanda baik”.<br />
Mimik muka bapak ini mulai serius,”Karena selama ini kami banyak dijanjikan ini itu dari partai politik yang datang disini, namun setelah selesai pemilihan mereka pergi meninggalkan kami dalam kondisi yang sama tanpa perubahan”.<br />
Dengan memalingkan muka memandang wajah saya bapak tadi bertanya,”Oh ya anak ini dari mana tadi asalnya?”.<br />
Dengan cepat saya menyahut,”Dari Surabaya pak, tapi Aslinya Jawa Tengah”. Kemudian bapak melanjutkan pertanyaannya,”Kondisi di Jawa pasti jauh lebih baik dari disini ya? Disana lebih makmur dari sini?”.<br />
Dengan menghela nafas aku menjawab,”Ya memang dijawa lebih baik dari disini pak, dalam hati saya berkata, -jauh lebih baik-, Mungkin nanti bapak berkesempatan pergi ke Jawa sendiri sehingga bisa melihatnya”.<br />
Sambung sang bapak,”Saya sudah tua, tapi kalau yang diatas masih memberi kesempatan bisa jadi”. Setelah menghisap rokok lintingnya dia melanjutkan ceritanya, “Kami disini sangat sulit karena hidup dipulau kecil yang terpencil, dan jauh dari kota. Harga-harga sangat mahal. Itupun kami sangat tergantung dengan mereka yang punya kapal besar untuk mengangkut barang-barang dari kota. Sekolah disini gratis, tapi sedikit yang mau sekolah karena mereka kebanyakan kerja dikebun membantu orang tuanya untuk mencari penghasilan”.<br />
Dengan mimik muka yang ramah bapak mengajak ke rumahnya, ”Nak main kerumah, itu di seberang jalan itu rumah bapak. Saya pulang dulu kalau nanti punya banyak waktu main ke rumah ya. Mari nak bapak permisi dulu”.<br />
Setelah salaman bapak tadi pergi meninggalkan musholla untuk pulang kerumah. Sebentar tubuh bapak sudah hilang dibalik tembok musholla dan melanjutkan ke rumah panggung sederhana yang berdiri dekat dari musholla. Selepas pembicaraan itu banyak pikiran yang bersarang di kepalaku. Rasa simpati, haru, bersatu mengenang pembicaraan kami.<br />
Keharuan itupun terus menggumpal menajamkan tekadku untuk terus berdagang. Selepas itu terdengar panggilan dari ujung jalan,”Mas pulang dulu!” dengan logat Pontianak. Mendengar suara yang tidak asing ditelinga itu, aku melihat dengan seksama ke asal suara memastikan siapa yang mengajak pulang, ternyata Mas Abbas.<br />
Dengan segera aku menyahut,”Ya mas sebentar&#8230;”. Setelah itu aku bergegas ambil sandal dan pulang bersama mas Abbas.<br />
	Mas Abbas, begitu sering aku memanggilnya. Dia adalah seorang pemuda, kakak dari teman saya di Pontianak yang mengajakku datang ke Padang Tikar. Mas Abbas punya saudara kembar yang mau mencalonkan diri menjadi Kades, beliau bernama Syafruddin, biasa dipanggil Didin. Keduanya belum menikah, tapi Mas Didin sudah tunangan, rencana bulan depan dia sudah menikah dengan seorang guru sekolah disana. Tapi Mas Abbas belum ada niatan untuk menyusul saudara kembarnya itu untuk menikah.<br />
Dalam sebuah perbincangan santai aku pernah bertanya kepada mas Abbas,”Kapan nikah mas?”,<br />
Dengan santai dia menjawab,”Belum ada rencana, masih mikir pekerjaan. Disini pekerjaan sulit. Jadi banyak perjaka yang terlambat kawin. Gimana lagi, mereka ndak tahu harus mencari penghasilan dari mana untuk menafkahi istri dan anaknya. Termasuk saya”.<br />
Dengan singkat aku menyambung,”Ohhh&#8230;gitu ya! Berapa usia mas Abbas?” dengan nada sedikit menurun takut membuatnya tersinggung.<br />
Mas Abbas menjawab,”Saya sudah tiga puluh tahun, kenapa? Aneh ya? Kalau di daerah mas pasti dah menikah seumuran saya. Yah mungkin belum ada jodoh juga.”<br />
Sambil berpindah posisi duduk, aku menjawab,”Ndak&#8230;Di Jawa juga ada yang nikah terlambat sampai hampir empat puluh tahun, tapi ya lagi-lagi jodoh mungkin yang berbicara.”<br />
Dengan segera aku mencoba ganti topik pembicaraan karena melihat mas Abbas kurang nyaman,”Mas pernah ke Jawa?”<br />
Dengan segera dia menjawab,”Pernah, saya dulu kerja di Jakarta menjadi peternak udang di sana sama-sama dengan Didin. Yah kira-kira tiga tahunanlah, sebenarnya hasilnya cukup lumayan. Tapi karena suatu hal kami putuskan untuk pulang ke kampung.” Kemudian dia mengambil rokok di meja dan menyulutnya,”Maaf saya sambil merokok ya..!.”<br />
Aku menyahut, ’Oh ya silahkan ndak apa-apa kok&#8230;”<br />
Setelah menghisap rokok dan kelihatan santai dia mulai melanjutkan ceritanya,”Di kampung saya dulu pernah punya pengalaman yang mengkin unik untuk mas. Saya pernah menjadi penarik harta karun di dalam tanah dengan teman-teman”<br />
Dengan wajah penasaran saya berucap,”Penarik harta karun, maksudnya? Terus gimana caranya?”<br />
Sambil memegang rokok dan membetulkan tempat duduk, dia berkata,” Ya bener. Penarik harta karun yang lama terpendam di bawah tanah. Cara kita mencarinya dengan magis gitulah penjelasan sederhananya”<br />
”Trus sudah pernah berhasil”, sambungku<br />
”Kalau harta berupa emas dan perak kami tidak pernah berhasil, tapi ada yang pernah berhasil mendapatkan kayu jati yang besar dan bagus di dalam tanah terpendam dibawah rumah. Ia peroleh dari mimpi dan keahliannya dengan profesinya sebagai pencari harta karun” jelasnya.<br />
”Oooo&#8230;.jadi disini banyak ya mas yang berprofesi seperti itu?”, tanyaku karena semakin penasaran.<br />
”Ndak banyak tapi ada”, jawabnya singkat.<br />
Kemudian datang ibu mas Abbas membawa tiga minuman teh. ”Mari silahkan diminum!” suruhnya setelah semua minuman tersaji di depan kami.<br />
”Oh ya mari mas diminum, lumayan untuk teman ngobrol&#8230;” sambung mas Abbas.<br />
Setelah kami menikmati teh manis dan beberapa kue yang ada, mas Abbas memulai pembicaraan lagi. ”Trus gimana mas rencananya untuk berbisnis kopra?”<br />
Sahutku,”Kita masih survey dan hitung semuanya, serta lihat-lihat sarana dan kemampuan kopra disini. Kalau kapasitas yah lumayan besar tapi ada beberapa masalah yang mungkin menjadi pertimbangan untuk melanjutkan bisnis kopra disini”<br />
”Ooo&#8230;tapi jadi kan beli kopra disini?” sambung mas Abbas.<br />
”Tergantung nanti dari hasil semua survey, karena untuk keuangannya sangat sulit. Disini ndak ada bank. Setelah tadi kami ke kantor pos satu-satunya dipulau ini untuk membicarakan keuangan, dia tidak berani menjanjikan bawa uang diatas sepuluh juta dalam satu minggu dari kota. Permasalahan kedua adalah kualitas kopra disini kurang bagus. Masih agak basah. Terus kita kesulitan dalam trasnportasi karena tidak ada truk, pick-up atau grobag untuk membawa kopra dalam jumlah besar ke dermaga”.<br />
Dengan mimik serius dia berkata,”Yah seperti ini memang kondisi desa kami, jalannya masih kecil itupun mudah rusak karena Cuma beton. Transportasi utama menggunakan sampan atau ojek. Jadi ndak bisa mas ya&#8230;?”<br />
Sambungku,”Belum final tapi sepertinya cukup berat disini, apalagi harga juga lumayan tinggi dengan kualitas seperti itu. Kami ndak ada lahan untuk mengeringkan sebelum dikirim ke pabrik”<br />
”Oh kalau masalah lahan nanti bisa saya carikan, disamping desa kami masih banyak lahan kosong, tenang saja, kalau masalah itu&#8230;” sambungnya.<br />
”Yah semoga nanti bisa kita lanjutkan&#8230;Eh sudah adzan nih mas kita sholat dulu!”,ajakku ke mas Abbas.<br />
”Oh ya&#8230;sebentar aku ambil sarung dulu&#8230;!”, jawabnya singkat.<br />
Setelah beberapa saat kami jalan bareng ke musholla dekat rumah sambil sesekali bercanda di jalan. Maklum anak muda walaupun baru saja kenal tapi dah kelihatan cukup akrab.<br />
&#8230;&#8230;.<br />
Malam hari setelah makan, kami kumpul di ruang depan, dengan serius kami memulai pembicaraan,”Mas Abbas dan Mas Didin, kami rencananya besok mau pulang ke Pontianak. Kesimpulan dari survey kami disini masih kami pikirkan solusinya disana. Semoga saja nanti bisa berjalan. Saya sangat berterimakasih dengan keramahan keluarga ini menyambut kami. InsyaAllah nanti kami singgah lagi kesini untuk berkunjung. Dan juga terimakasih atas semua bantuan dari Mas berdua, karena tanpa kalian kami ndak bisa berbuat banyak”<br />
Sambung dari mas Didin,”Oh jadi besok mau pulang, Kenapa ndak disini lebih lama?. Kami senang kalau sekiranya kalian masih mau singgah lebih lama disini. Tapi kami menyadari kalian harus terus keliling untuk melanjutkan bisnis kopranya. Yah semoga lancar untuk usahanya. Kami sekeluarga ndak bisa memberikan lebih banyak karena keterbatasan dari kami, maklum kampung mas. Kami sekeluarga Cuma bisa mendoakan semoga usahanya lancar aja.”<br />
	Setelah kami berpamitan, besoknya pagi-pagi kami berkemas untuk pulang. Karena harus berburu waktu dengan kapal yang mau ke Pontianak. Kami tidak menggunakan speed boat lagi karena uang saku kami habis dan ndak mencukupi. Dalam perjalanan pulang itu, kami melihat pemandangan yang cukup memilukan hati. Sebuah potret kehidupan nyata terpampang di depan mata kami. Kondisi rakyat bangsa ini yang terpuruk dalam kemiskinan. Memang bukan hanya di Pontianak, bahkan di Jawapun kita masih banyak menjumpai pemandangan yang serupa. Tapi pemandangan ini memilukan hati karena ditengah keterpurukan itu tersimpan potensi yang besar. Ditengah-tengah mereka ada potensi yang luar biasa untuk mengubah sejarah hidup mereka. Ada kekayaan melimpah yang tersimpan, namun tidak mampu mereka manfaatkan untuk kesejahteraan hidupnya. Keterbatasan akal dan kebodohan seakan menjadi dinding tebal yang menghalangi mereka. Bahkan seakan ada satu kekuatan besar yang membiarkan kebodohan dan keterbelakangan itu terus ada, sehingga mereka bisa mengambil keuntungan dari kondisi tersebut. Ironi sekali kondisi masyarakat ini, sambil mengusap mukaku yang basah oleh  keringat aku terpaku melihat gubug kecil, reot dan sangat sederhana ditepi sungai tempat kapalku berlayar. Dibawahnya ada sampan kecil yang menjadi kendaraan penghuninya untuk memancing. Di dalam gubug reot itu terlihat wajah-wajah sayu. Pilu hati saya memandang kondisi itu, seandainya aku punya waktu ingin rasanya singgah sebentar untuk mengulum senyum dan menghapus duka mereka walau hanya sebentar. Wajah tua yang berkerut karena guratan jaman dan kerasnya kehidupan, wajah itu terus ada di kepalaku seakan memanggil-manggil. Terus dan terus aku berandai-andai menjadi seorang kaya yang berkuasa, pastilah aku dapat membantu mereka. Tapi khayalan tetaplah khayalan yang cepat dan mudah hilang dihapus kejutan hidup yang nyata.<br />
	Setelah dua bulan berlalu dan berkeliling dari satu daerah ke daerah yang lain di Pontianak, ternyata pemandangan nyaris sama seperti yang kulihat di tepi sungai juga saya temukan. Kesimpulanku adalah memang inilah potret nyata masyarakat pedesaan di Pontianak yang teramat jauh berbeda dengan kondisi di kota. Di kota tempat Universitas Tanjung Pura berdiri, aku melihat wajah-wajah mahasiswa dan masyarakat Pontianak yang larut dalam suasana hura-hura. Setiap malam minggu ada panggung besar berdiri tempat band-band anak muda melantunkan lagu-lagu tidak bermutu. Dalam satu jalan sepanjang satu hingga dua kilometer bukan hanya satu panggung, bahkan ada tiga panggung besar. Belum lagi melihat cara mereka berhura-hura dari segi pakaian dan pergaulan. Itu kondisi di dalam kampus dan di tepi jalan, kalau seandainya kita masuk lebih kedalam di klab-klab malam dan bar-bar yang ada tentu kondisinya lebih ngeri lagi.<br />
Rasa penatku setelah berputar-putar seakan semakin berat karena aku menahan nafas melihat satu pemandangan yang cukup memilukan, seharusnya mereka yang menjadi garda depan untuk memikirkan solusi praktis terhadap kemiskinan yang melanda daerah ini, tapi selayang pandang membuatku seakan pupus harapan adanya perubahan dalam masyarakat dalam kondisi yang memilukan itu. Sebuah harapan muncul perlahan. Aku berhusnudzon, semoga pemandangan ini bukanlah mencerminkan semua pemuda dan masyarakat di Pontianak ini, saya berharap masih ada sekelompok pemuda dan pihak-pihak yang terus memutar otak untuk mengatur langkah menghadapi kemiskinan di daerah tersebut dan di Indonesia secara umum.<br />
	Setelah tiba di kost saya langsung menuju lantai atas dan berbaring untuk melepas lelah. Yang kami sebut kost adalah sebuah kantor Trusco cabang Pontianak. Trusco adalah sebuah lembaga pelatihan pengembangan diri yang melayani pelatihan-pelatihan dan berbagai game yang mendidik. </p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/shaifullah.wordpress.com/113/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/shaifullah.wordpress.com/113/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/shaifullah.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/shaifullah.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/shaifullah.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/shaifullah.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/shaifullah.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/shaifullah.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/shaifullah.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/shaifullah.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/shaifullah.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/shaifullah.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/shaifullah.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/shaifullah.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/shaifullah.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/shaifullah.wordpress.com/113/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=shaifullah.wordpress.com&amp;blog=763319&amp;post=113&amp;subd=shaifullah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://shaifullah.wordpress.com/2007/11/29/selembar-kertas-kusut-dari-perjalanan-singkat-di-pontianak-dan-sulawesi-selatan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/12cc1bf658e00f36fa7d24506100c13a?s=96&#38;d=" medium="image">
			<media:title type="html">yayan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Andaikan Mereka Tahu Cinta Kita&#8230;.</title>
		<link>http://shaifullah.wordpress.com/2007/11/29/andaikan-mereka-tahu-cinta-kita/</link>
		<comments>http://shaifullah.wordpress.com/2007/11/29/andaikan-mereka-tahu-cinta-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Nov 2007 12:24:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>shaifullah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nasehat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://shaifullah.wordpress.com/2007/11/29/andaikan-mereka-tahu-cinta-kita/</guid>
		<description><![CDATA[” sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rosul dari kamu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat mengiginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin&#8221;. Itulah pujian Allah yang diberikan kepada Rasulullah, karakter yang mulia, karakter yang juga sekaligus menjadi &#8220;rahasia&#8221; kesuksesan dakwah Rasulullah. beliau begitu empati pada masalah umat, begitu peduli [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=shaifullah.wordpress.com&amp;blog=763319&amp;post=112&amp;subd=shaifullah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>” sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rosul dari kamu sendiri, berat terasa<br />
olehnya penderitaanmu, sangat mengiginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat<br />
belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin&#8221;. Itulah pujian Allah yang<br />
diberikan kepada Rasulullah, karakter yang mulia, karakter yang juga sekaligus<br />
menjadi &#8220;rahasia&#8221; kesuksesan dakwah Rasulullah. beliau begitu empati pada masalah<br />
umat, begitu peduli dan juga begitu cinta. Cukuplah ucapan &#8220;ummati&#8230; ummati&#8230;&#8221;<br />
(umatku&#8230;umatku) menjelang beliau wafat sebagai buktinya. Cinta kepada ummatnya<br />
tidak hanya didunia, tapi dibawa sampai ke akhirat, beliau akan memeberikan syafaat<br />
kepada umatnya, beliau akan menjadi manusia terakhir dikalangan umat Islam yang<br />
masuk surga. Bukan karena beliau tidak bisa masuk sorga sendirian, tetapi karena<br />
cintanya kepada umat, memastikan bahwa seluruh umatnya masuk surga. subhanallah.<br />
Masih ingatkah kita tentang kisah yang begitu luar biasa pasca kewafatan rasulullah.<br />
Abu bakar sebagai khalifah pengganti Rasul mengantikan seluruh peran rasul sebagai<br />
pemimpin umat. termasuk meneruskan amanat pribadi rasul . Setiap hari abu bakar<br />
datang ke rumah orang yahudi yang buta dan sangat tua, untuk memberikan makan<br />
sekaligus juga menyuapi orang tua tersebut.&#8221;Tugas&#8221; yang selama ini dilakukan Rasul,<br />
tanpa diketahui oleh orang tua tersebut. Tetapi uniknya orang tua tersebut selalu<br />
memaki-maki Rasulullah dalam setiap kesempatan, karena orang tua tersebut buta, dan<br />
juga rasul tidak pernah menyebut identitasnya dihadapan orang tua tersebut. Tetapi<br />
yang lebih &#8220;unik&#8221; adalah rasul tetap istiqomah memberikan makan dan sekaligus<br />
menyuapinya. Seperti yang kita ketahui, orang yang pernah menyuapi kita adalah orang<br />
yang paling mencintai kita, salah satunya adalah ibu. Berarti begitu besar cinta<br />
rasul kepada orang tua tersebut walaupun dimaki-maki setiap hari.<br />
 Tahukah antum, orang tua itu baru tahu bahwa yang memberikan makan kepadanya dan<br />
yang menyuapinya selama ini adalah Rasul yang mulia, yang selama ini pula ia<br />
maki-maki. orang itu baru tahu setelah diberi tahu oleh abu bakar. yang akhirnya<br />
mebuat dia sadar dan bertaubat dan akhirnya memeluk agama Islam. Subhanallah.<br />
Itulah salah satu rahasia keberhasilan dakwah Rasul. Sebuah risalah yang jelas<br />
kebenaranya yang kemuadian disampaikan kepada umat manusia dengan kasih sayang,<br />
cinta, pengorbana, empati dan semangat untuk menyelematkan umat dengan mengajak<br />
kepada Islam. Sekali lagi Islam tidak hanya benar, tetapi didakwahkan secara benar.<br />
Ada sebuah penuturan yang cukup menarik dari mantan rohaniawan sebuah agama, yang<br />
akhirnya ia memeluk Islam. Dalam agamanya yang lama, &#8220;daya tarik&#8221; agama tersebut<br />
bukan pada kebenaran agama tersebut, karena memang ajarannya tidak sesuai dengan<br />
fitrah dan tidak masuk akal dan yang jelas buatan manusia. Oleh karena itu betapa<br />
banyak orang yang sudah mencapai tarap &#8220;ulama&#8221; dalam agama tersebut, akhirnya mereka<br />
memeluk agama Islam setelah menyadari kesalahan ajaran agama tersebut dan menyadari<br />
kebenaran Islam. Tetapi, lanjut mantan rohaniawan agama tersebut, yang menjadi &#8220;daya<br />
tarik&#8221; agama tersebut adalah jargon cinta dan kasih sayang yang mereka kemas<br />
sedemikian rupa, yang mereka lembagakan, yang mereka kurikulumkan, yang mereka<br />
doktrinkan secara sistematis melalui sekolah calon rohaniawan mereka, mereka kemas<br />
jargon cinta dan kasih sayang mereka dengan pemahaman antropologi dan sosiokultural<br />
yang begitu mendalam, penguasaan psikilogi manusia maupun<br />
 psikologi sosial. Bagaiman secara cerdas mereka bisa masuk ke jantung pertahanan<br />
umat islam. Mereka secara gilang-gemilang mengambil satu-persatu umat islam dari<br />
pangkuan islam, bukan dengan modal kebenaran agama mereka atau kesalahan agama<br />
Islam, tetapi dengan modal &#8220;cinta dan kasih sayang&#8221;. Mereka paham betul yang<br />
dibutuhkan oleh orang yang kelaparan adalah makanan, mereka paham betul yang<br />
diperlukan oleh masyarakat marjinal adalah perhatian dan kasih sayang, mereka paham<br />
betul yang diperlukan oleh pengangguran adalah pekerjaan yang layak, mereka paham<br />
betul yang diperlukan orang tua adalah pendidikan yang pantas dan murah bagi<br />
anak-anak mereka. Dan mereka bisa memberikan semuanya. Mereka datangi kawasan kumuh<br />
-yang para da&#8217;i belum menyentuhnya-, mereka bagikan makann, mereka beri pekerjaan<br />
pemuda mereka, mereka berikan ketrampilan kepada mereka, mereka berikan pendidikan<br />
gratis. Mereka advolasi, mereka rela tidur ditempat kumuh, bahkan ada kisah yang<br />
 cukup kesohor adalah bagaimana seorang rohaniawan agama tersebut rela tidur<br />
berbulan-bulan lamanya bersama dengan mereka &#8220;dengan atas nama cinta&#8221;. Siapa yang<br />
tidak kepincut dengan &#8220;cinta&#8221; mereka. dan akhirnya sang rohaniawan tersebut secara<br />
perlahan tapi pasti berhasil memurtadakan umat Islam. Di sisi lain memang benarlah<br />
sabda Rasul bahwa kefakiran mendekatkan pada kekafiran. Diakhir pemaparannya<br />
amantan rohaniawan agama tertentu yana akhirnya masuk Islam menyimpulkan bahwa,<br />
agama lamanya tersebut sangat tergantung dengan &#8220;performance&#8221; cinta para pengemban<br />
misinya. Berbeda dengan Islam yang memang sudah benar dari &#8220;sononya&#8221;, asal sedikit<br />
saja manusia berpikir oblektif dan berpikir rasional, pasti manusia akan memilih<br />
Islam.<br />
Apakah disini saya mengajak untuk meneladani mereka? demi Allah tidak, sekali lagi<br />
demi allah tidak. cukuplah rasul sebagai teladan kita. Cinta rasul kepada umat<br />
manusia dibangun atas dasar iman, begitu pula seharusnya kita. cinta kita kepada<br />
manusia bukan atas dasar dorongan psikologi atau sekolah kepribadian tapi atas dasar<br />
iman.<br />
Dengan landasan cinta kepada umat inilah Insya Allah dakwah Islam akan kembali<br />
menemui kejayannya. Orang akan berbondong-bondong mendukung barisan dakwah. Cinta<br />
kita bukan cinta semu,cinta kita bukan sekedar janji tapi cinta kita adalah cinta<br />
yang terbukti, cinta yang diwujudkan dengan nyata. hasan al-banna pernah<br />
menyampaikan &#8221; seandainya umat ini tahu bahwa mereka lebih kami cintai daripada diri<br />
kami sendiri niscaya umat ini akan berbondong-bondong untuk mendukung dakwah ini&#8221;.<br />
wallahu a&#8217;lam bisshawab</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/shaifullah.wordpress.com/112/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/shaifullah.wordpress.com/112/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/shaifullah.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/shaifullah.wordpress.com/112/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/shaifullah.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/shaifullah.wordpress.com/112/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/shaifullah.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/shaifullah.wordpress.com/112/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/shaifullah.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/shaifullah.wordpress.com/112/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/shaifullah.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/shaifullah.wordpress.com/112/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/shaifullah.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/shaifullah.wordpress.com/112/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/shaifullah.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/shaifullah.wordpress.com/112/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=shaifullah.wordpress.com&amp;blog=763319&amp;post=112&amp;subd=shaifullah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://shaifullah.wordpress.com/2007/11/29/andaikan-mereka-tahu-cinta-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/12cc1bf658e00f36fa7d24506100c13a?s=96&#38;d=" medium="image">
			<media:title type="html">yayan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Peran Pemuda dalam Gerakan Dakwah Oleh: Ust. Hilmi</title>
		<link>http://shaifullah.wordpress.com/2007/11/19/peran-pemuda-dalam-gerakan-dakwah-oleh-ust-hilmi/</link>
		<comments>http://shaifullah.wordpress.com/2007/11/19/peran-pemuda-dalam-gerakan-dakwah-oleh-ust-hilmi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Nov 2007 12:53:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>shaifullah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nasehat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://shaifullah.wordpress.com/2007/11/19/peran-pemuda-dalam-gerakan-dakwah-oleh-ust-hilmi/</guid>
		<description><![CDATA[Saya selalu merasa sangat bergembira kalau bertemu dan harus berbicara di hadapan para pemuda. Ini semua menandakan bahwa pemuda tetap bersemangat dan serius, karena setiap gerakan yang berhasil pasti memiliki kemauan yang kuat, harapan yang jauh ke depan, dan orientasi yang jelas serta terarah terutama di basis pemudanya. Walaupun kadang-kadang gerakan pemuda kepentok masalah klasik [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=shaifullah.wordpress.com&amp;blog=763319&amp;post=111&amp;subd=shaifullah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya selalu merasa sangat bergembira kalau bertemu dan harus<br />
berbicara di hadapan para pemuda. Ini semua menandakan bahwa pemuda tetap<br />
bersemangat dan serius, karena setiap gerakan yang berhasil pasti memiliki<br />
kemauan yang kuat, harapan yang jauh ke depan, dan orientasi yang jelas<br />
serta terarah terutama di basis pemudanya.</p>
<p>Walaupun kadang-kadang gerakan pemuda kepentok masalah klasik<br />
kekurangan dana, misalnya. Hal itu biasa dan terjadi di mana-mana, di<br />
setiap waktu dan tempat, bukan hanya di Indonesia dan di masa sekarang<br />
saja. Meskipun tidak mempunyai materi berlimpah, semua pergerakan disusun,<br />
dirancang, dan dilaksanakan oleh pemuda. Pemuda aktivis boleh miskin<br />
materi, tetapi jiwanya kaya, sehingga pantang menyerah dan mengeluh.<br />
Mereka tidak mengorbankan iffah, kehormatan diri, hanya untuk<br />
meminta-minta, karena pemuda perintis dan pelopor pergerakan yang berhasil<br />
adalah mereka yang bermental baja.</p>
<p>Kekuatan moral dan spiritual menjadi  modal utama dan pertama dalam<br />
setiap pergerakan. Mungkin saja landasan moral dan spiritual sebuah<br />
pergerakan salah atau bathil, tetapi pasti punya semangat. Apatah lagi<br />
kita yang mempunyai landasan moral dan spiritual yang benar, bersumber<br />
dari petunjuk Allah SWT. Kekuatan moral dan spiritual yang benar<br />
akan menghasilkan azam dan iradah qawiyah. Bahkan, orang akan<br />
menjadi muda selamanya dan bergairah terus, jika bergerak atas landasan<br />
moral dan spiritual yang benar. Alhamdulillah, kita telah diberikan<br />
karunia itu oleh Yang Mahakuasa.</p>
<p>Modal kedua ialah kemampuan intelektual. Allah sangat merangsang<br />
manusia melalui ayat-ayat Al Qur’an.<br />
Menurut penelitian, otak manusia yang terpakai hanya 5%<br />
dari volume otak yang sebenarnya. Apalagi otak orang Indonesia yang<br />
mungkin tidak mencapai batas maksimal itu. Bayangkan, jika kemampuan otak<br />
itu ditambah dengan kekuatan  pendidikan (tarbiyah) yang kita jalankan,<br />
bagaimana hasilnya. Menurut catatan, anggota gerakan 70% adalah para<br />
sarjana yang diberi petunjuk dan kemudahan oleh Allah untuk bergabung<br />
dalam jamaah dakwah, itu melebihi kualitas kelompok masyarakat pada<br />
umumnya.</p>
<p>Modal ketiga adalah ideologi atau idealisme yang dengannya kita<br />
mempunya visi dan misi perjuangan yang jelas. Ini juga merupakan karunia<br />
Allah kepada kita berupa pemikiran yang paripurna, bisa memiliki pandangan<br />
jauh ke depan, walaupun pada masa-masa sulit. Kita selalu menjadi barisan<br />
pelopor dan perintis dalam kejelasan ideologi.</p>
<p>Modal keempat adalah manhaj atau metodologi. Allah tidak hanya<br />
memberikan perintah saja, melainkan juga konsepsi dan landasan<br />
operasional. Shalat dan haji memang diperintahkan oleh Allah, tetapi dalam<br />
pelaksanaannya Allah mencontohkan melalui tindakan Rasulullah. Dalam<br />
berjuang dan berjihad pun harus mengikuti Rasul, tidak membeo, tapi<br />
memahami dan mengerti maksudnya.  Qudwah kepada Rasul merupakan kebutuhan,<br />
bukan hanya sekadar kewajiban, karena tanpa Rasul, maka ajaran Islam tak<br />
bisa jalan. Rasulullah-lah yang mencontohkan kepada kita, bagaimana dakwah<br />
yang jelas, terarah dan sistemik.</p>
<p>Modal kelima adalah kefitrahan. Dinul Islam itulah modal besar,<br />
karena sesuai dengan fitrah manusia, tidak berbenturan dengan kultur<br />
manusia, binatang, dan ekosistem. Bahkan, Allah menegaskan bahwa semua<br />
makhluk itu adalah junud (tentara) Allah. Artinya, kita harus<br />
yakin bahwa pergerakan yang bertentangan dengan fitrah manusia adalah<br />
bertentangan dengan kehendak Allah, karena semuanya bergerak dalam nuansa<br />
dan irama yang sama. Semuanya bertasbih kepada Allah. Jika perjuangan<br />
Islam kompak dengan perjuangan alam (universe), maka perjuangan<br />
itu akan berhasil. Pohon dan tetumbuhan, binatang, cuaca, gejala alam<br />
semuanya menjadi teman-teman perjuangan kita.</p>
<p>Berjuang tanpa fitrah alam akan gagal, karena hukum itu  bersifat<br />
baku dan tetap sepanjang zaman. Ini adalah modal yang sangat besar,<br />
walaupun kita tidak merasakannya. Padahal, bantuan Allah lewat alam<br />
(nature) itu sangat banyak. Misalnya, bekerja dalam hujan, tetapi<br />
tidak masuk angin, malah hujan itu menjadi penyegar. Bahkan, semuanya itu<br />
untuk mengokohkan, jika kita berstatus juga sebagai Jundullah. Caranya,<br />
sesuaikanlah sifat jundiyah kita dengan jundiyah angin,<br />
binatang, pohon, dan lain-lain.</p>
<p>Rasulullah sering dibantu oleh para jundi alam ini: tumbuhan,<br />
binatang, cuaca, dan sebagainya. Bahkan, karamah para sahabat<br />
dalam perang Qadisiyah, ketika mereka menyeberang sungai sambil berkata:<br />
”Wahai air, kita sama-sama jundullah, bantulah kami karena sedang<br />
melaksanakan tugas” Akhirnya, air yang dalam dan deras itu menjadi<br />
dangkal dan tenang untuk dilewati.</p>
<p>Modal keenam adalah modal institusional. Kerja kita adalah kerja<br />
Jama’ah yang banyak orang tidak melakukannya. Kita  memperoleh<br />
banyak dukungan dari proses jama’i ini, seperti thawashau bil<br />
haq dan thawashau bis shobri. Itu hanya bisa dilakukan<br />
dengan jamaah, karena saling mengingatkan itu diperlukan dalam gerakan<br />
agar tidak tergelincir. Ba’duhum awliya’u<br />
ba’din. Kritik dan peringatan itu perlu.</p>
<p>Kita sedih menyaksikan ada pejabat tinggi pemerintah yang tidak mau<br />
dinasehati salah seorang ikhwah. Padahal kita hanya ingin menyelamatkan<br />
umat, bukan mengincar jabatan. Tetapi, pejabat tersebut setelah menduduki<br />
posisinya justru keenakan dan tidak mau direpoti oleh saran-saran yang<br />
berguna bagi umat.</p>
<p>Itu semua hanya bisa dilakukan dalam proses institusionalisasi,<br />
ketika tantangan dakwah berat dan sulit. Ada tawashau bil haq wa bis<br />
shobri, sehingga menimbulkan daya tahan (QS Ali Imran: 157). Wa<br />
ma dla’ufu wa ma istakanu (mereka tidak lemah dan tidak<br />
menyerah). Juga dilengkapi dengan tawashau bil marhamah. Tatkala<br />
seseorang mendapat musibah dan menderita, maka orang tersebut tidak<br />
sendirian, tetapi bersama-sama dengan banyak orang, sehingga potensinya<br />
tidak terpuruk.</p>
<p>Modal ketujuh bersifat material. Sebenarnya Allah telah banyak<br />
memberikan modal material kepada kita berupa alam semesta beserta segala<br />
isinya, tetapi mungkin kita belum bisa mendayagunakannya. Bahkan, dalam al<br />
Qur’an surat al Hajj ayat 31, Allah berfirman: ”Telah Aku<br />
datangkan segala apa yang kamu butuhkan, wa in ta’uddu<br />
ni’matallah laa tuhsuha” Karena kezaliman dan<br />
ketidakproporsionalan sikap kita, sehingga tidak memiliki daya<br />
inovatif dan kreatif untuk memanfaatkannya. Menyadari dan mensyukuri<br />
nikmat Allah itu penting. Bagaimana nikmatnya udara, sehari kurang lebih<br />
350 kilogram kita memakai oksigen untuk tubuh kita, seperlima diantaranya<br />
dipakai oleh otak.</p>
<p>Kesadaran memiliki modal dasar itu penting demi iradah qawiyah dan<br />
azam yang tinggi. Kalau melihat perjalanan dakwah ke belakang  pada<br />
tahun 1980-an, ketika Orde Baru berkuasa, bagaimana dakwah ini dikekang,<br />
diatur dan dikendalikan oleh pemerintah. Bahkan, dai yang menafsirkan<br />
surat Al Ikhlas sebagai ajaran tauhid saja sudah diberangus, sampai<br />
dikejar-kejar, sehingga akhirnya tema ceramah diubah menjadi syarat sahnya<br />
berwudlu. Justru di masa-masa sulitlah dakwah berkembang dan berekspansi,<br />
karena punya modal banyak.</p>
<p>Pada saat itu para muwajjih tidak dijemput dengan mobil,<br />
tetapi banyak yang berjalan kaki, karena keadaan ekonomi yang sulit. Cari<br />
tempat untuk acara pengajian atau daurah juga sulit.<br />
Halaqah dilakukan di kebun binatang, di taman, di lapangan, di<br />
kebun raya tanpa whiteboard dan peralatan tulis memadai.<br />
Itu semua karena kita mempunyai kesadaran bahwa kita kaya, yang<br />
menyebabkan kita selalu menjadi barisan perintis dan pelopor<br />
kebaikan.</p>
<p>Strategi awal dakwah kita adalah harakah at taghyir yang<br />
membutuhkan anashir at  taghyir. Karena kita membutuhkan banyak<br />
unsur perubahan, maka kita perlu mendapatkan akses dakwah pada pusat-pusat<br />
perubahan, yaitu markaz at taghyir. Dalam tahap awal, pusat<br />
perubahan yang kita akses adalah wilayah ilmiyah, yaitu<br />
kampus-kampus dan sekolah-sekolah. Setelah itu kita mengakses wilayah<br />
sya’biyah (masyarakat umum) melalui masjid-masjid dan pengajian<br />
umum.</p>
<p>Kampus dan sekolah itu pada dasarnya adalah milik umat. Sesudah itu,<br />
dakwah dalam amal thullabi dilanjutkan dengan amal<br />
mihani (dakwah profesi). Seyogyanya memang amal thullabi dan<br />
amal mihani itu disinergikan, karena mengarahkan kemampuan<br />
profesional harus dimulai sejak masa mahasiswa.</p>
<p>Amal mihani terdiri dari dakwah di kalangan perusahaan<br />
(tenaga kerja) dan pengembangan profesi. Harus disadari bahwa<br />
perusahaan-perusahaan umum itu tidak bisa atau sulit dijadikan<br />
lembaga perjuangan, sehingga hanya dipenuhi  dengan karir,<br />
ma’isyah (pekerjaan), rekrutmen dan pengembangan<br />
kafa’ah saja. Yang masih lemah dari para aktivis adalah<br />
memasuki lembaga-lembaga profesi.</p>
<p>Itulah yang bisa dijadikan lembaga perjuangan. Tetapi kenyataannya<br />
sekarang lembaga-lembaga profesi itu banyak yang lemah dari sisi<br />
perjuangan, hanya sekadar tempat kumpul-kumpul, bagi-bagi proyek, dan<br />
kadang-kadang peningkatan kafa’ah saja. Fenomena kelemahan<br />
lembaga profesi ini bukan hanya di Indonesia, tetapi terjadi di<br />
mana-mana.</p>
<p>Dakwah Islam memandang situasi itu sebagai sesuatu yang besar, bahkan<br />
keharusan perjuangan. Di Mesir, tahun 1960-1970 an, aktivitas<br />
kemahasiswaan berjaya dan mulai memasuki dakwah profesi. Lembaga-lembaga<br />
profesi yang tadinya lemah, maka sepuluh tahun kemudian menjadi kuat dan<br />
hampir 90% organisasi profesi dikuasai aktivis dakwah. Ikhwan dan akhwat<br />
yang masuk ke lembaga profesi harus kompetitif, jujur dan amanah. Aktivis<br />
Kristen Koptik di Mesir  pun memilih dan mengakui kepemimpinan aktivis<br />
dakwah yang dinilai paling amanah dan memiliki etos perjuangan.</p>
<p>Semua proses tersebut berjalan secara wajar dan terjadi pemberdayaan<br />
yang luar biasa terhadap lembaga profesi. Lembaga profesi teknik<br />
(persatuan insinyur) tidak hanya bekerja pada bidang teknik, tetapi juga<br />
membuat RUU dan advokasi keteknikan yang bernuansa Islam, karena aktivis<br />
dakwah mampu mewarnai lembaga tersebut. Akhirnya lembaga profesi itu<br />
bertindak seperti partai politik dan pressure groups terhadap<br />
pemerintah. Karena aktivis mewarnai dan menguasai banyak lembaga profesi,<br />
maka seakan-akan mereka memiliki banyak partai politik dan kelompok<br />
penekan yang mengontrol pemerintah dengan kebijakan dasar yang sama.</p>
<p>Pada tahun 1995, pemerintah Mesir menyadari hal itu, sehingga<br />
lembaga-lembaga profesi mau dibredel, tetapi sulit karena terkait dengan<br />
institusi negara, infrastruktur dan suprastruktur politik. Kalau<br />
dibubarkan sulit,  karena bertentangan dengan UU dan bisa membentuk<br />
lembaga yang baru lagi. Kalau kantornya ditutup, pemerintah dituntut lewat<br />
pengadilan. Aktivis bisa membuka kantor yang baru, atau menguasai dan<br />
mewarnai lembaga profesi sejenis. Kalau aktivisnya ditangkapi dan<br />
dipenjarakan, industri dan pelayanan jasa (terutama rumah sakit, konsultan<br />
proyek, dan pengacara) akan mengeluh, karena tidak bisa berjalan, sebab<br />
tidak ada tenaga ahlinya. Maka, proses pembangunan pun bisa<br />
terhambat.</p>
<p>Kelompok Salsabil di Mesir, misalnya, membuat perusahaan komputer dan<br />
berkembang sampai bisa mengikuti tender penyediaan software di<br />
Departemen Pertahanan Mesir, karena murah dan paling baik, akhirnya<br />
menang. Setelah pejabat militer sadar bahwa perusahaan tersebut milik<br />
aktivis dakwah, maka mereka ketakutan dan menggerebek serta menyegel<br />
kantornya. Peristiwa itu menjadi berita besar, karena secara beramai-ramai<br />
lembaga profesi di Mesir bersuara, mulai dari lembaga profesi teknik,<br />
komputer, pengacara dan lainnya, hingga akhirnya dibebaskan dan dibuka<br />
kembali.</p>
<p>Para dokter di Mesir juga menggelar acara munasharah untuk<br />
kasus Bosnia sampai terkumpul dana sebesar US$ 4 juta, tetapi dilarang<br />
pemerintah. Akhirnya kasus itu menjadi berita besar lagi, karena dibela<br />
oleh lembaga profesi kedokteran, keperawatan, pengacara dan sebagainya.<br />
Kasus itu dibawa ke pengadilan dan akhirnya dinyatakan menang, walaupun<br />
dananya terpaksa dibagi dua (fifty-fifty) untuk lembaga<br />
pemerintah dan lembaga dakwah.</p>
<p>Jika ada bencana alam, gempa bumi, kebakaran dan sebagainya, aktivis<br />
selalu terdepan bersama masyarakat menyantuni korban. Itu semua adalah<br />
hasil dakwah thullabi yang dilanjutkan dakwah profesi. Yang lebih<br />
penting lagi di mihwar muassasi ini, tanpa pengembangan profesi<br />
akan sulit, karena kita membutuhkan para ahli dalam bidangnya yang bisa<br />
menjawab dan menjelaskan tantangan zaman melalui kacamata Islam.<br />
Konsep-konsep Islam harus dirumuskan dan dilaksanakan sebagai solusi bagi<br />
persoalan bangsa ini. Semuanya itu mengharuskan kita, mau tidak mau, untuk<br />
terjun dalam lembaga profesi. </p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/shaifullah.wordpress.com/111/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/shaifullah.wordpress.com/111/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/shaifullah.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/shaifullah.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/shaifullah.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/shaifullah.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/shaifullah.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/shaifullah.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/shaifullah.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/shaifullah.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/shaifullah.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/shaifullah.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/shaifullah.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/shaifullah.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/shaifullah.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/shaifullah.wordpress.com/111/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=shaifullah.wordpress.com&amp;blog=763319&amp;post=111&amp;subd=shaifullah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://shaifullah.wordpress.com/2007/11/19/peran-pemuda-dalam-gerakan-dakwah-oleh-ust-hilmi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/12cc1bf658e00f36fa7d24506100c13a?s=96&#38;d=" medium="image">
			<media:title type="html">yayan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Plis Dong, Akh! Oleh: Nova Ayu Maulita</title>
		<link>http://shaifullah.wordpress.com/2007/11/19/plis-dong-akh-oleh-nova-ayu-maulita/</link>
		<comments>http://shaifullah.wordpress.com/2007/11/19/plis-dong-akh-oleh-nova-ayu-maulita/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Nov 2007 12:52:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>shaifullah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nasehat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://shaifullah.wordpress.com/2007/11/19/plis-dong-akh-oleh-nova-ayu-maulita/</guid>
		<description><![CDATA[Plis Dong, Akh! Oleh: Nova Ayu Maulita &#8220;Hallo, Ukhti!&#8221; suara melengking itu spontan membuatku mendongak. Tommy terlihat sumringah saat melihatku. &#8220;Apa kabar nih? Lama nggak ketemu. Jadi kangen!&#8221; Mulutku tercekat. Hari gini dia bilang kangen sama aku? Ugh. Rasanya aku ingin tenggelam ditelan bumi. Masalahnya saat itu aku tidak sendirian. Aku sedang bersama adik mentoringku. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=shaifullah.wordpress.com&amp;blog=763319&amp;post=110&amp;subd=shaifullah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Plis Dong, Akh!<br />
Oleh: Nova Ayu Maulita</p>
<p>&#8220;Hallo, Ukhti!&#8221; suara melengking itu spontan membuatku mendongak.<br />
Tommy terlihat sumringah saat melihatku.</p>
<p>&#8220;Apa kabar nih? Lama nggak ketemu. Jadi kangen!&#8221;</p>
<p>Mulutku tercekat. Hari gini dia bilang kangen sama aku? Ugh. Rasanya<br />
aku ingin tenggelam ditelan bumi. Masalahnya saat itu aku tidak<br />
sendirian. Aku sedang bersama adik mentoringku. Masalahnya lagi, baru<br />
lima menit yang lalu aku mengisi mentoring tentang manajemen hati dan<br />
sikap. Nah, kalau sekarang aku disapa Tommy seperti itu kan jadi<br />
rumit. Bisa-bisa dikira aku punya skandal dengan ikhwan yang satu ini.</p>
<p>&#8220;Iya, liburan kemana aja, Ukh? Cerita-cerita dong!&#8221; Tommy masih<br />
nyerocos tanpa merasa bersalah sama sekali. Sementara itu aku<br />
senin-kamis menahan malu sambil menghindari tatapan adik-adik mentorku<br />
yang sesekali tersenyum nakal dan berdehem-dehem. Mungkin saat itu<br />
mukaku sudah berubah menjadi traffic light, merah kuning hijau. Tapi<br />
dia tetap saja cuek dan pasang innocent face.</p>
<p>Tommy adalah teman sekelas SD-ku. Enam tahun sekelas dengan nomor<br />
absen berurutan membuat kami lumayan akrab. Sering ngobrol, sering<br />
kerja kelompok, sering merancang ide-ide konyol, tapi sering<br />
bertengkar juga. Pokoknya dulu bisa dikatakan kami berteman baik deh.<br />
Waktu lulus SD, dia pindah ke luar kota. Tidak pernah ada kabar sampai<br />
tiba-tiba dia sudah satu jurusan, bahkan sekelas denganku di<br />
universitas. Tapi tentu saja semua sudah berubah. Paling tidak<br />
sekarang aku sedikit-sedikit juga tahu adab bergaul dengan lawan jenis.</p>
<p>Tapi, entahlah bagaimana dengan Tommy. Dia memang terbuka, suka<br />
bergaul, bercanda, dan ngobrol dengan siapa saja. Sepertinya sekarang<br />
dia juga sudah cukup paham. Sekarang kami sama-sama bergabung di rohis<br />
fakultas. Tommy sering juga ikut kajian umum di fakultas, sering<br />
terlihat kumpul bareng ikhwan-ikhwan mushala, sering ikut dalam<br />
kepanitiaan SKI, dan juga cukup sering menyebutkan dalil-dalil yang<br />
menunjukkan pengetahuan Islamnya cukup terakreditasi. Tapi untuk<br />
masalah &#8216;centilnya&#8217; ini, ah entahlah&#8230; .</p>
<p>&#8220;Kok diem terus sih, Van! Ngomong dong! Ngomong&#8230;!&#8221; Disuruh ngomong aku<br />
malah semakin kikuk. Apa lagi kalau mengingat nada suaranya yang<br />
mirip-mirip iklan operator telepon selular yang beberapa waktu lalu<br />
sempat populer, &#8220;Ngomong dong, sayang..!&#8221; Weeit&#8230;!</p>
<p>&#8220;Iya, ya, liburanku biasa-biasa aja kok. Pulang cuma seminggu, belum<br />
hilang kangennya sama orang rumah. Kemari&#8230; nggak jadi deh!&#8221; aku nyaris<br />
saja keterusan bicara. Tadinya aku mau cerita kalau kemarin aku ketemu<br />
sama Dela, teman kami dalam hal gila-gilaan waktu di SD dulu. Wah,<br />
kalau tadi aku cerita, pasti obrolan nostalgia SD akan jadi panjang.</p>
<p>&#8220;Kemarin kenapa? Cerita dong&#8230; aku jadi penasaran nih.&#8221;</p>
<p>&#8220;Nggak usah, nggak penting kok! Anggap aja tadi aku nggak ngomong apa-apa&#8221;</p>
<p>&#8220;Uh&#8230; dari dulu kamu nggak berubah. Bikin orang penasaran.&#8221;</p>
<p>Aku cuma ngiyem mendengarnya.</p>
<p>&#8220;Eh, Van, Van. Kamu liat akhwat itu nggak?&#8221; Kali ini Tommy mengalihkan<br />
pembicaraan. Matanya mengarah pada seorang akhwat yang berbaju abu-abu<br />
di seberang. &#8220;Emangnya kenapa?&#8221; Aku terpancing ingin tahu.</p>
<p>&#8220;Itu tuh, bajunya kok nggak match ya. Liat tuh, bajunya abu-abu,<br />
bawahannya hijau, jilbabnya item, eh&#8230; tasnya merah. Bagusan kan kalau<br />
roknya item dan tasnya apa gitu kek, yang penting jangan merah. Trus<br />
kaos kakinya itu lho, kok kuning. Aduh&#8230;!&#8221; Tommy sok-sok memberikan<br />
penilaian bak seorang desainer sambil memukul-mukulkan telapak tangan<br />
ke jidatnya. &#8220;Payah ah, penampilannya! Kalau kamu hari ini sudah cukup<br />
match kok, Van. Bagus, bagus!&#8221; Tommy memandangi sekilas setelan biru<br />
yang kupakai.</p>
<p>Aku sudah tidak tahan mendengar komentar-komentarny a tadi. Siapa yang<br />
butuh komentar darinya? Kalau saja kami masih jadi anak SD, sudah<br />
kutonjok dia dari tadi. Hiiihhh!</p>
<p>&#8220;Plis dong, Akh! Penting nggak sih buat kamu? Kasian lagi kalau<br />
beliaunya denger kamu ngomongin dia kaya gitu. Bisa kehilangan pede.<br />
Lagian harusnya kan antum jaga pandangan dong!&#8221; jawabku ketus disertai<br />
tampang bete. Khusus kalau sedang bicara dengan Tommy kata-kataku jadi<br />
campur aduk, tergantung mood. Kadang pakai istilah akhi, antum, afwan,<br />
atau istilah-istilah Arab lain. Tapi kadang juga keluar aku, kamu,<br />
kasian deh lu, dan bahasa-bahasa gaul lainnya yang dulu biasa kami pakai.</p>
<p>&#8220;Emang nggak boleh ya komentar kaya gitu? Kalau aku malah seneng kalo<br />
ada yang ngeritik. Ah, wanita memang susah dimengerti.&#8221;</p>
<p>Aku menahan diri untuk tidak berkomentar sambil mengepal-kepalkan<br />
telapak tanganku di samping baju. Rasanya darahku sudah mendidih<br />
sampai ke otak. Melawan kata-katanya hanya akan memicu perdebatan yang<br />
sulit diramalkan endingnya.</p>
<p>&#8220;Eh, udah deh, aku pergi dulu ya.&#8221;</p>
<p>Tiba-tiba rongga dadaku terasa lega mendengar kalimat terakhirnya itu.<br />
Lega.</p>
<p>&#8220;Tapi Ukh, sebelumnya tolong liatin muka saya ada tip-exnya nggak?&#8221;</p>
<p>Saking gembiranya, aku langsung menuruti persyaratan untuk membuatnya<br />
menghilang dari hadapanku. Aku mendongak menatap wajah yang ditumbuhi<br />
sehelai jenggot itu. &#8220;Nggak ada, kok,&#8221; jawabku.</p>
<p>&#8220;Makasih ya, Ukh! Tapi bukannya kita nggak boleh memandang wajah lawan<br />
jenis? Sudah ya, wassalamu&#8217;alaikum&#8230; !&#8221;</p>
<p>Tinggal aku yang bengong dan gondok habis. Ugh&#8230; kena deh! Awas ya!</p>
<p>***</p>
<p>&#8220;Assalamu&#8217;alaikum&#8230; &#8221; Sosok Tommy sudah muncul di depan kostku. Aku<br />
celingukan mencari teman yang mungkin dibawanya serta. Nihil.</p>
<p>&#8220;Waalaikum salam warah-matullah. . sendirian aja, Tom? Nggak bawa<br />
temen?&#8221; aku jadi kikuk. Serba salah. Setahuku kalau ada dua orang<br />
laki-laki dan perempuan maka ketiganya ada setan. Hiyy. Di sini ada<br />
setan dong!</p>
<p>Tommy sudah empat kali berkunjung ke kostku. Aku juga sudah selalu<br />
berpesan kalau dia harus mengajak seorang teman biar kami nggak<br />
ngobrol berdua. Tapi sampai sekarang dia masih suka nekat datang<br />
sendirian. Dan aku juga belum bisa mengusirnya dengan tegas. Nggak tega.</p>
<p>&#8220;Afwan, tadi cuma mampir karena habis beli jus dekat sini. Udah bikin<br />
tugas analisis konflik dan perdamaian, Ukh?&#8221;</p>
<p>&#8220;Udah, baru aja selesai.&#8221; Aku berusaha menghemat kata-kataku.</p>
<p>&#8220;Aku bingung nih, masalahnya gimana sih? Bisa minta tolong dijelasin<br />
nggak?&#8221;</p>
<p>Pertanyaannya bikin aku garuk-garuk kepala. Memaksaku untuk menjawab<br />
panjang lebar. &#8220;Bisa nggak kalo nanya di kampus aja?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi aku kan mau ngerjain nanti malem. Besok kita juga nggak ketemu<br />
di kampus. Padahal lusa harus dikumpulin.&#8221; Suaranya bernada kecewa.</p>
<p>&#8220;Emang nggak bisa nanya ke yang lain?!&#8221;</p>
<p>&#8220;Eh, kok ketus banget sih, Van! Aku kan udah bilang, mampir kesini<br />
karena kebetulan habis beli jus di samping kostmu, trus inget kalau<br />
ada tugas yang aku nggak ngerti. Jadi sekalian nanya. Malu bertanya<br />
sesat di jalan. Kita kan nggak boleh menyembunyikan ilmu yang kita<br />
miliki. Ya udah kalau nggak boleh.&#8221;</p>
<p>Tiba-tiba hatiku meluluh. Kena jebakan kata-katanya. &#8220;Emang mau nanya<br />
apa sih?&#8221;</p>
<p>Tommy nyengir. &#8220;Nah, gitu dong!&#8221;</p>
<p>Akhirnya terjadilah diskusi kecil kami selama hampir setengah jam.</p>
<p>&#8220;Makasih banyak, Vanti! Entar namamu kucantumin di daftar pustaka<br />
deh.&#8221; Tommy berusaha melucu.</p>
<p>Tapi bagiku yang sudah bete banget jadi tidak lucu sama sekali. Plis<br />
dong, Akh!</p>
<p>&#8220;Pulang dulu ya. Sampai jumpa. Mimpi indah ya! Bu bye..&#8221;</p>
<p>Gleg. &#8220;Kok sampai jumpa sih? Pake bubye pula.&#8221;</p>
<p>&#8220;Eh, iya, afwan. Assalamu&#8217;alaikum&#8230; &#8220;</p>
<p>&#8220;Alaikum salam warahmatullah. &#8220;</p>
<p>***</p>
<p>Sepertinya belakangan ini Tommy menjadi sebuah masalah bagiku. Dan<br />
entah kenapa banyak kebetulan-kebetulan yang menyebabkan aku harus<br />
bersama dengannya. Misalnya pernah waktu jalan tiba-tiba kebetulan dia<br />
juga sedang jalan kaki dan tanpa sungkan-sungkan langsung mengajak<br />
ngobrol. Waktu beli makan di kantin juga ketemu. Tiga kali ketemu di<br />
toko buku. Ke perpustakaan juga ketemu. Di luar kebetulan-kebetulan<br />
itu, Tommy juga sering sekali mengirim sms, menelepon, dan menanyakan<br />
hal-hal yang sama sekali tidak penting. Suka curi-curi pandang, suka<br />
memujiku, dan hal-hal lain yang menurutku sangat menjengkelkan.<br />
Rasanya aku ingin beberapa hari cuti jadi orang yang mengenalnya, biar<br />
kalau ketemu lagi aku tidak perlu merasa begitu bosan seperti sekarang.</p>
<p>&#8220;Jangan-jangan kalian jodoh&#8221; Aku hampir tersedak waktu Ika tiba-tiba<br />
mengucapkan hal itu. Memecahkan keasyikanku menikmati makan siang di<br />
kantin Yu Jum.</p>
<p>&#8220;Uhuk&#8230; uhuk&#8230; hari gini ngomongin jodoh?!&#8221; aku buru-buru minum karena<br />
tenggorokanku tercekat.</p>
<p>&#8220;Emangnya nggak boleh? Kuliah sudah semester lima, umur sudah kepala<br />
dua. Kalau memang jodoh kan bisa segera&#8230;&#8221; Ika cengar-cengir melihatku.</p>
<p>&#8220;Astaghfirullah, ngapain sih ngomong kaya gitu, Ka? Jodoh itu rahasia<br />
Allah, dengan siapa dan kapan itu rahasia Allah. Nggak usah dipikirin<br />
pun toh kalau sudah tiba waktunya akan datang sendiri. Nggak bisa<br />
diundur dan nggak bisa dipercepat.&#8221;</p>
<p>&#8220;Iya, tapi kan kalau memang sudah siap maka makruh hukumnya<br />
menunda-nunda pernikahan.&#8221; Kali ini Ika mengedip-ngedipkan matanya<br />
centil. Membuatku serasa semakin ingin menghilang.</p>
<p>&#8220;Yee, siapa yang bilang sudah siap nikah?&#8221;</p>
<p>&#8220;Lho, kamu belum tahu ya? Tommy kan mau nikah muda! Jadi&#8230;<br />
jangan-jangan dia sudah punya calon. Siapa tahu&#8230;! Inget lho, kalau<br />
sudah ketemu jodoh dan mampu, maka makruh hukumnya menunda<br />
pernikahan.&#8221; Ika kembali bersemangat sekali membuatku jengkel.</p>
<p>&#8220;Udah ah&#8230; kamu bikin aku kehilangan nafsu makan aja, Ka! Kalau kamu<br />
berminat, bungkus deh buat kamu!&#8221; Ika hanya terkekeh mendengarnya.</p>
<p>***</p>
<p>Entah kenapa tanpa kusadari, obrolan dengan Ika itu menghantui<br />
pikiranku. &#8220;Iya, jangan-jangan, jangan-jangan&#8230; oh tidak! Paling hanya<br />
aku yang ke-geer-an.</p>
<p>New sms! Handphoneku tiba-tiba mengoceh sendiri.</p>
<p>Ups, dari Tommy!</p>
<p>Vanti yang baik, tolong ya siapin surat izin pinjam tempat buat syura<br />
besok. Plizz, you are my only hope =)</p>
<p>Ih, apa-apaan sih ini kok minta tolong saja merayunya sampai maut<br />
begini. Nggak menghargai banget, masa ngomong sama akhwat masih tetap<br />
gombal-gambel kaya gini sih. Tiba-tiba pikiranku kembali melayang pada<br />
perkataan Ika siang tadi. Jangan-jangan&#8230; . Kadang sikapnya memang suka<br />
aneh sih, suka ngajak ngobrol lama-lama, suka memuji, suka sok<br />
kebetulan mampir dengan alasan beli jus. Padahal di dekat kostnya<br />
pasti juga ada yang jual jus, ngapain juga jauh-jauh beli jus sampai<br />
ke sini. SMS yang model begitu juga bukan barang baru lagi. Ihh.</p>
<p>***</p>
<p>&#8220;Hati-hati lho, Van!&#8221;</p>
<p>&#8220;Kenapa?&#8221; alis mataku terangkat refleks.</p>
<p>&#8220;Hati-hati lah&#8230; sama ikhwan kaya gitu!&#8221; tukas Evi, tetangga kamarku.</p>
<p>&#8220;Tahu nggak, kemarin Tommy ke sini lagi lho&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;O ya?&#8221; kini mataku yang terbelalak.</p>
<p>&#8220;Hati-hati sama hatimu sendiri. Kan kamu sendiri yang bilang apa tuh&#8230;<br />
witing tresna jalaran suka kulina. Nah, kalau kamu tiba-tiba jadi suka<br />
sama dia gara-gara dia sering ke sini gimana?&#8221; Evi menatapku serius.</p>
<p>&#8220;Apalagi kalian sudah kenal sejak kecil kan?&#8221; pertanyaannya semakin<br />
menusukku.</p>
<p>&#8220;So what gitu lho&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya silakan ditafsirkan sendiri&#8230; aku cuma mengingatkan, setan itu<br />
cerdik bin lihai lho&#8230;&#8221;</p>
<p>Aku manggut-manggut.</p>
<p>&#8220;Harus bisa tegas!&#8221; tambah Evi lagi.</p>
<p>&#8220;Tegas? Maksudnya, kalau dia dateng lagi aku harus apa? Kalau dia sms<br />
nggak usah dibales gitu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Iyalah&#8230; kalau dia dateng tuh, nggak usah dibukain pintu! Kalau sms<br />
nggak usah dibales. Kalau becanda nggak usah diladeni, pokoknya<br />
bersikaplah dingin!&#8221;</p>
<p>&#8220;O&#8230; gitu ya?&#8221;</p>
<p>***</p>
<p>Ternyata saran Evi cukup jitu. Tommy tidak lagi menjadi masalah bagiku<br />
dalam tiga minggu terakhir. Senangnya&#8230;.</p>
<p>&#8220;New sms!&#8221;</p>
<p>Kuraih handphoneku.</p>
<p>Tommy!</p>
<p>Ass. Van, tidak saya kira, anti juga bisa bersikap tegas dan cool.<br />
Cocok dengan kriteria saya. Jadi, kapan anti siap menikah?</p>
<p>Pliss dong, Akh!</p>
<p>Tiba-tiba mataku memanas. Aku tidak sanggup bernapas lagi.</p>
<p>[Mata adalah penuntun, dan hati adalah pendorong dan penuntut. Mata memiliki<br />
kenikmatan pandangan dan hati memiliki kenikmatan pencapaian. Keduanya<br />
merupakan sekutu yang mesra dalam setiap tindakan dan amal perbuatan<br />
manusia, dan tidak bisa dipisahkan antara satu dengan yang lain]<br />
**YATHIE**</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/shaifullah.wordpress.com/110/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/shaifullah.wordpress.com/110/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/shaifullah.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/shaifullah.wordpress.com/110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/shaifullah.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/shaifullah.wordpress.com/110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/shaifullah.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/shaifullah.wordpress.com/110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/shaifullah.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/shaifullah.wordpress.com/110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/shaifullah.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/shaifullah.wordpress.com/110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/shaifullah.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/shaifullah.wordpress.com/110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/shaifullah.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/shaifullah.wordpress.com/110/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=shaifullah.wordpress.com&amp;blog=763319&amp;post=110&amp;subd=shaifullah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://shaifullah.wordpress.com/2007/11/19/plis-dong-akh-oleh-nova-ayu-maulita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/12cc1bf658e00f36fa7d24506100c13a?s=96&#38;d=" medium="image">
			<media:title type="html">yayan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Teman Hidup</title>
		<link>http://shaifullah.wordpress.com/2007/07/21/teman-hidup/</link>
		<comments>http://shaifullah.wordpress.com/2007/07/21/teman-hidup/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Jul 2007 12:36:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>shaifullah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tulisanku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://shaifullah.wordpress.com/2007/07/21/teman-hidup/</guid>
		<description><![CDATA[Dalam barisan kata yang singkat inilah aku mulai merangkai kata untuk menuangkan sedikit kegelisahan yang terus membuatku gundah. Sebuah pertanyaan yang terus mengalir menuntut jawaban dariku, namun aku selalu menghindar dan lari, takut tidak mampu menjawab dengan semestinya. Begitulah perasaanku yang selalu dikejar-kejar oleh bayangan semu yang meminta penjelasan singkat tentang arah hidupku yang mulai [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=shaifullah.wordpress.com&amp;blog=763319&amp;post=109&amp;subd=shaifullah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam barisan kata yang singkat inilah aku mulai merangkai kata untuk menuangkan sedikit kegelisahan yang terus membuatku gundah. Sebuah pertanyaan yang terus mengalir menuntut jawaban dariku, namun aku selalu menghindar dan lari, takut tidak mampu menjawab dengan semestinya. Begitulah perasaanku yang selalu dikejar-kejar oleh bayangan semu yang meminta penjelasan singkat tentang arah hidupku yang mulai goyah mencari makna sejati kehidupan. Bayangan itu gelap, namun seakan aku kenal pasti siapa dia. Setelah sedikit sinar datang dari sudut hati, semakin jelas dan yakin, bayangan itu adalah diriku yang sedang bingung dicerca perbagai pertanyaan masa depan yang masih jauh dan gamang dihiasi fatamorgana dan janji-janji semu. Memang hidup itu rumit dengan berbagai cabang yang gelap dan susah diraba. Disana ada jurang-jurang yang siap menahan mereka yang lalai dan lupa bawa penerang dalam usahanya meraih kesuksesan diujung waktu. Dalam kegamangan batin yang sangat itulah aku mencoba merangkai kembali obor hidupku yang telah redup dimakan rintik air mata yang terus menetes buah dari kekecewaanku. Dengan kesabaranku yang mulai usang, obor itu mulai terangkai dan bersinar untuk menerangi jalanku yang remang-remang nyaris gelap. Kini langkahku mantap dengan obor yang kecil menyusuri kehidupanku. Memang disana, diujung usiaku masih tersimpan sejuta misteri. Namun aku akan tetap berjalan menyusuri takdirku, mencari jawaban hidupku. Jalanku telah terhampar dan tidak akan pernah dilalui siapapun kecuali telapak kakiku, tidak akan ada manusia lain yang melaluinya. Keyakinan itulah bekalku saat ini, mengharapkan seorang teman yang bersedia menemaniku dalam meyusuri jalan kehidupan ini, yang selalu setia dalam keadaan suka dan duka. Seorang teman yang terus membantuku menemukan kehidupanku diujung masa, dengan segala kerendahan hatinya ia memberikan nasehat berharga menentang kesulitan yang tersebar disepanjang jalan. Dengan kesetiaanya tanpa terbersit kata khianat melihat gemerlap dunia yang menghiasi dalam setiap persinggahan jalan panjang ini. Sungguh bebanku seakan berkurang separuh dari yang seharusnya aku pikul. Alangkah bahagianya jika teman hidupku akan segera datang diusiaku yang sedang rapuh menghadapi cobaan hidupku, kegamangan yang terus bertambah dari waktu yang terus bergerak maju. Walaupun sekarang masih jauh, tapi aku yakin engkau akan datang kepadaku. Teman hidupku yang selalu menghiasi hari-hariku.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/shaifullah.wordpress.com/109/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/shaifullah.wordpress.com/109/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/shaifullah.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/shaifullah.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/shaifullah.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/shaifullah.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/shaifullah.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/shaifullah.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/shaifullah.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/shaifullah.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/shaifullah.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/shaifullah.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/shaifullah.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/shaifullah.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/shaifullah.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/shaifullah.wordpress.com/109/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=shaifullah.wordpress.com&amp;blog=763319&amp;post=109&amp;subd=shaifullah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://shaifullah.wordpress.com/2007/07/21/teman-hidup/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/12cc1bf658e00f36fa7d24506100c13a?s=96&#38;d=" medium="image">
			<media:title type="html">yayan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Billionaire Attitude</title>
		<link>http://shaifullah.wordpress.com/2007/07/19/billionaire-attitude/</link>
		<comments>http://shaifullah.wordpress.com/2007/07/19/billionaire-attitude/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Jul 2007 03:15:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>shaifullah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bisnis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://shaifullah.wordpress.com/2007/07/19/billionaire-attitude/</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Sepuluh unsur kepribadian seorang billionaire yang saya sarikan berdasarkan komunikasi dan pergaulan pribadi dengan para billionaies dan beberapa pengusaha sukses adalah sebagai berikut: Satu, keberanian untuk berinisiatif. Di sinilah letak keunikan utama pengusaha kelas kakap dunia. Mereka selalu punya ide-ide jenial. Sebagai contoh, lihat saja si Raja Real Estate, kebangkitannya dari bangkrut beberapa tahun yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=shaifullah.wordpress.com&amp;blog=763319&amp;post=108&amp;subd=shaifullah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Sepuluh unsur kepribadian seorang billionaire yang saya sarikan<br />
berdasarkan komunikasi dan pergaulan pribadi dengan para billionaies dan<br />
beberapa pengusaha sukses adalah sebagai berikut:</p>
<p>Satu, keberanian untuk berinisiatif.<br />
Di sinilah letak keunikan utama pengusaha kelas kakap dunia. Mereka<br />
selalu punya ide-ide jenial. Sebagai contoh, lihat saja si Raja Real<br />
Estate,<br />
kebangkitannya dari bangkrut beberapa tahun yang lalu sekarang sudah<br />
membuahkan lebih dari sekedar kerajaan properti belaka. Ada boneka<br />
Donald, ada seri TV The Apprentice, ada online university<br />
TrumpUniversity.com ,bahkan ada t-shirt &#8220;You&#8217;re Fired&#8221; dan buku-buku<br />
best-sellernya.<br />
Semua<br />
berangkat dari inisiatif belaka, yang bisa kita pelajari dan tiru.</p>
<p>Dua, tepat waktu.<br />
Selalu menepati janji dan tepat waktu karena ini adalah bukti kemampuan<br />
memanage sesuatu yang paling terbatas di dalam hidup kita, yaitu<br />
waktu. Kemampuan untuk hadir sesuai janji adalah kunci dari semua<br />
keberhasilan, terutama keberhasilan berbisnis. Respek terhadap waktu<br />
merupakan<br />
pencerminan dari respek terhadap diri send iri dan partner bisnis.</p>
<p>Tiga, senang melayani dan memberi.<br />
Seorang billionaire pasti mempunyai kepribadian sebagai pemimpin dan<br />
seorang pemimpin adalah pelayan dan pemberi. The more you give to others,<br />
the more respect you get in return. Syukur-syukur kalau ada karma baik<br />
sehingga mendapat kebaikan juga dari orang lain. Paling tidak dengan<br />
memberi dan melayani, kita sudah menunjukkan kepada dunia betapa<br />
berlimpahnya kita. Alam bawah sadar kita akan terus membentuk blue print<br />
sukses berdasarkan kemampuan memberi ini.</p>
<p>Empat, membuka diri terlebih dahulu.<br />
Pernah Anda bertemu orang yang selalu mau bertanya soal hal-hal pribadi<br />
tentang orang lain namun tidak pernah mau membuka diri? Mereka<br />
biasanya hidup dalam ketakutan dan kecurigaan, yang pasti mereka akan<br />
sangat<br />
sulit untuk mencapai kesuksesan karena dua hal ini adalah lawan dari<br />
unsur-unsur yang membangun sukses. Rasa percaya dan kebesaran hati untuk<br />
membuka diri terhadap lawan bicara merupakan cermin bahwa kita nyaman<br />
dengan diri sendiri, lantas tidak ada yang perlu ditutupi, sesuatu yang<br />
dicari oleh para partner bisnis sejati. (Siapa yang mau bekerja sama<br />
dengan orang yang misterius?)</p>
<p>Lima, senang bekerja sama dan membina hubungan baik dengan para partner<br />
bisnis.<br />
Teamwork jelas adalah salah satu kunci keberhasilan utama. Donald Trump<br />
dan Martha Stewart pun mempunyai tim-tim mereka yang sangat loyal<br />
sehingga mereka bisa mencapai sukses luar biasa. &#8220;No man is an island,&#8221;<br />
kita semua perlu membangun network kerja yang baik, sehingga jalan menuju<br />
sukses semakin terbuka lebar.</p>
<p>Enam, senang mempelajari hal-hal baru.<br />
Kembali kita mengambil contoh Pak Trump yang baru saja membuka online<br />
university. Apakah beliau adalah ahli pendidikan? Seorang profesor?<br />
Jelas tidak, namun dengan kegemarannya mencari hal-hal baru serta<br />
langsung mengaplikasikannya, maka dunia bisnis semakin terbuka luas<br />
baginya.Dunia bisnis baginya adalah tempat bermain yang luas dan tidak<br />
terbatas. Kuncinya hanya satu: senang belajar dan mencari hal-hal baru.</p>
<p>Tujuh, jarang mengeluh, profesionalisme adalah yang paling utama. Lance<br />
Armstrong pernah berkata, &#8220;There are two kinds of days: good days and<br />
great days.&#8221; Hanya ada dua macam hari: hari yang baik dan hari yang<br />
sangat baik.Jangan sekali-kali mengeluh di dalam bisnis, walaupun suatu<br />
hari mungkin<br />
Anda akan jatuh dan gagal. Mengapa? Karena setiap kali gagal adalah<br />
kesempatan untuk belajar mengatasi kegagalan itu sendiri sehingga tidak<br />
terulang lagi di kemudian hari. Hari di mana Anda gagal tetap adalah<br />
agood day (hari yang baik).</p>
<p>Delapan, berani menanggung resiko.<br />
Jelas, tanpa ini tidak ada kesemp atan sama sekali untuk menuju<br />
sukses.Sebenarnya setiap hari kita menanggung resiko, walaupun tidak<br />
disadari<br />
penuh. Resiko hanyalah akan berakibat dua macam: be a good or a great<br />
day (lihat di atas). So, untuk apa takut? Kegagalan pun hanyalah<br />
kesempatan belajar untuk tidak mengulangi hal yang sama di kemudian<br />
hari kan?</p>
<p>Sembilan, tidak menunjukkan kekhawatiran (berpikir positif setiap<br />
saat).<br />
Berpikir positif adalah environment atau default state di mana<br />
keseluruhan eksistensi kita berada. Jika kita gunakan pikiran negatif<br />
sebagai<br />
default<br />
state, maka semua perbuatan kita akan berdasarkan ini (kekhawatiran<br />
atau cemas). Dengan pikiran positif, maka perbuatan kita akan didasarkan<br />
oleh getaran positif, sehingga hal positif akan semakin besar<br />
kemungkinannya.</p>
<p>Sepuluh, &#8220;comfortable in their own skin&#8221; alias nyaman dengan diri<br />
sendiri tanpa perlu berusaha menut up-nutupi sesuatu maupun supaya tampak<br />
&#8220;lebih&#8221; dari lawan bicaranya. Pernah bertemu dengan billionaire yang<br />
rendah diri alias tidak nyaman dengan diri mereka sendiri? Saya yakin<br />
tidak ada. Kenyamanan  menjadi diri sendiri tidak perlu ditutup-tutupi<br />
supaya lawan bicara tidak tersinggung karena setiap orang mempunyai<br />
tempat<br />
tersendiri di dunia yang tidak bisa digantikan oleh orang lain.</p>
<p>Saya adalah saya, mereka adalah mereka. Dengan menjadi diri saya<br />
sendiri, saya tidak akan mengusik keberadaan mereka. Jika mereka<br />
merasa tidak<br />
nyaman, itu bukan karena kepribadian saya, namun karena mindset yang<br />
berbeda dan kekurangmampuan mereka dalam mencapai kenyamanan dengan diri<br />
sendiri.</p>
<p>Apakah Anda mempunyai kepribadian seorang billionaire? Hanya Anda yang<br />
bisa menjawab. Salam sukses, sampai bertemu di puncak gunung kesuksesan&#8221;</p>
<p>Semoga bermanfaat&#8230;.</p>
<p>Wassalamu&#8217;allaikum warahmatullah wabarakah&#8230;</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/shaifullah.wordpress.com/108/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/shaifullah.wordpress.com/108/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/shaifullah.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/shaifullah.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/shaifullah.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/shaifullah.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/shaifullah.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/shaifullah.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/shaifullah.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/shaifullah.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/shaifullah.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/shaifullah.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/shaifullah.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/shaifullah.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/shaifullah.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/shaifullah.wordpress.com/108/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=shaifullah.wordpress.com&amp;blog=763319&amp;post=108&amp;subd=shaifullah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://shaifullah.wordpress.com/2007/07/19/billionaire-attitude/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/12cc1bf658e00f36fa7d24506100c13a?s=96&#38;d=" medium="image">
			<media:title type="html">yayan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bergeraklah Tulang-Tulang Perkasa</title>
		<link>http://shaifullah.wordpress.com/2007/06/09/bergeraklah-tulang-tulang-perkasa/</link>
		<comments>http://shaifullah.wordpress.com/2007/06/09/bergeraklah-tulang-tulang-perkasa/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 09 Jun 2007 02:36:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>shaifullah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nasehat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://shaifullah.wordpress.com/2007/06/09/bergeraklah-tulang-tulang-perkasa/</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Allah yang menciptakan kalian dari keadaan lemah,kemudian menjadikan sesudah kelemahan itu kekuatan, lalu menjadikan sesudah kuat itu lemah kembali dan beruban&#8230;&#8230;(QS. Ar Rum : 54) Betapa siklus yang ditetapkan Allah itu berberjalan sempurna dalam diri kita. Periode kekuatan itu kini datang menghampiri kita, memberikan potensi dasyat yang dibatasi oleh waktu. Kalau tak cerdas mengelolanya menjadi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=shaifullah.wordpress.com&amp;blog=763319&amp;post=107&amp;subd=shaifullah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Allah yang menciptakan kalian dari keadaan lemah,kemudian menjadikan sesudah kelemahan itu kekuatan, lalu menjadikan sesudah kuat itu lemah kembali dan beruban&#8230;&#8230;(QS. Ar Rum : 54)<br />
Betapa siklus yang ditetapkan Allah itu berberjalan sempurna dalam diri kita. Periode kekuatan itu kini datang menghampiri kita, memberikan potensi dasyat yang dibatasi oleh waktu. Kalau tak cerdas mengelolanya menjadi gerak produktif, tentu kita takkan merasakan nikmatnya kelincahan usia muda. Kita akan tetap menjadi bayi lemah yang akan langsung pikun dan beruban, tanpa pernah bisa merasakan dan mensyukuri nikmatnya kekuatan. Ya kekuatan itu memang tersembunyi. Hanya gerak yang mampu menunjukkan eksistensi kekuatan itu. Tapi apa makna gerak bagi masing-masing kita ?<br />
Gerak inilah tanda kehidupan, yang mati tidak bergerak, dan sholat tanpa gerak apapun bernama sholat jenazah. Dengan gerak pula ikan dilaut terselamatkan dari resapan kadar garam yang tinggi. Lebih jauh, hanya gerak yang bisa menyelamatkan air dari pembusukan, genangan menjijikkan dan penyakit bersarang.<br />
&#8220;&#8230;..Beramallah, maka Allah akan melihat karya kalian, juga Rosulullah dan orang-orang beriman&#8230;..(QS. At Taubah :105)<br />
Siapa yang tak menyibukkan diri dengan aktivitas surgawi maka syaithon yang akan menyibukkannya dengan aktivitas nerakawi. Pemuda yang pendek akal hanya mengisi usianya dengan berfoya, menjadi budak syahwat yang tak pernah terpuaskan, apa yang bisa diharapkan selain neraka ?<br />
Karena potensi fisik, akal dan ruh itu terlalu berharga untuk diisikan  dalam kekufuran atas nikmat Allah. Anda pernah mencoba berkuda, berenang, melempar atau memanah sebagaimana dituntunkan Rosulullah ? Cobalah sekali-kali, iringi dengan mambaca, hafalan, diskusi, manulis atau latihan orasi. dan lengkaplah ketika puasa, tilawah, tahajjud, dan dhuha menjadi hiasan hidup. Jadilah remaja/pemuda dengan hidup prestatif. Allahuakbar..!!!!<br />
Selalu ada rasa berat untuk memulai. mungkin ada satu kata kunci untuk membantu memacu anda bergrak. KOMPETISI, pilihlah sebaik-baik teman yang dalam ungkapan Rosulullah baagi penjual minyak wangi, kemudian bersainglah dengannya, bersaiglah untuk menjadi yang paling wangi.<br />
&#8220;&#8230;itulahmereka sedang menyusuli aku. Dan aku bersegera kepadaMu ya Rabbi. Agar Engkau ridha (kepadaku). (QS Thaha : 84)<br />
Bumi Allah dibukakan luas. bagi kita para remaja utnuk belajar dan berkarya. kadang-kadang akan kita temukan bahwa bentuk organisasi membantu komunitasnya untuk selangkah lebih maju dalam wawasan kehidupan. jadi apa yang anda tunggu ? Dunia menanti kiprah Anda wahai remaja muslim sejati. Tengoklah adik-adik kecilmu di Palestina, mereka menggenggam batu dihadapan Apache dan Tank serbu. Naiklah ke ufuk tinggi untuk menapatp dunia dengan kejernihan bashirah muslim sejati&#8230;&#8230;.<br />
(Diambil dari buku NPSP)</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/shaifullah.wordpress.com/107/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/shaifullah.wordpress.com/107/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/shaifullah.wordpress.com/107/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/shaifullah.wordpress.com/107/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/shaifullah.wordpress.com/107/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/shaifullah.wordpress.com/107/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/shaifullah.wordpress.com/107/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/shaifullah.wordpress.com/107/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/shaifullah.wordpress.com/107/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/shaifullah.wordpress.com/107/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/shaifullah.wordpress.com/107/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/shaifullah.wordpress.com/107/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/shaifullah.wordpress.com/107/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/shaifullah.wordpress.com/107/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/shaifullah.wordpress.com/107/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/shaifullah.wordpress.com/107/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=shaifullah.wordpress.com&amp;blog=763319&amp;post=107&amp;subd=shaifullah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://shaifullah.wordpress.com/2007/06/09/bergeraklah-tulang-tulang-perkasa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/12cc1bf658e00f36fa7d24506100c13a?s=96&#38;d=" medium="image">
			<media:title type="html">yayan</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
