Air kehidupanku

Di saat semuanya membayang indah dalam sederet angan yang melenakan. Kita seharusnya ingat bahwa kenyataan itu lebih susah diterka dibanding rencana-rencana manusia. Semua kenyataan harus bertarung dalam sebuah takdir yang telah tergariskan dalam setiap nafas kehidupan ini. Semua angan boleh ditampakkan, setiap harapan masih diperkenankan untuk dirajut dalam sela-sela waktu yang ada dan cita-cita tidak dilarang untuk ditinggikan sejauh-jauhnya. Namun kita harus ingat bahwa semua itu ada bingkai yang membatasinya untuk bergerak liar tanpa kendali. Bingkai itu teramat kokoh untuk sekedar ditembus oleh ambisi manusia yang serakah akan kemewahan. Bingkai yang akan memberikan kita kesadaran penuh bahwa kita ini manusia biasa dan berperan sebagai pelaku dari skenario yang telah terhampar di dunia. Sebuah babak dan episode yang terus bersambung menyusun sejarah kehidupan.
Kita adalah pemain yang terus bergerak menyambut setiap babak yang akan dimainkan oleh sang pembuat kehidupan ini. Setiap hari kita akan dihadapkan pada sebuah tantangan yang hadir silih berganti, membuat tegar bagi yang lemah, membuat berani bagi sang penakut. Tantangan itu kadang hadir menggunung bak tembok besar yang melintang, perlu nyali yang lebih untuk sekedar menatapnya dengan penuh wibawa. Tidak sedikit yang menyerah kalah dan mengkerut dalam benaman kepasrahan. Mereka telah kalah sebelum bertanding, bahkan menjadi pengecut yang lari menjauh dari rintangan untuk mencari padang datar tanpa pendakian yang terjal. Selamanya tubuh mereka kecil karena otot dan badannya tidak terlatih dalam kerja keras perjuangan. Mereka menjadi orang kerdil dan otot mereka melemah dari waktu kewaktu. Tapi mereka bangga dan merasa asyik dengan kondisinya. Begitulah mereka dengan kondisinya akan terus mengalir dalam kehidupannya ibarat air yang mencari ladang datar dan segera bergegas menuruni lahan landai dan turunan yang terkadang menjebaknya untuk terus menghuni lahan terendah tanpa punya kemampuan lagi untuk naik ke permukaan. Mereka terus disitu berdiam diri dalam suasana kepasrahan hingga membusuk dan berubah jadi sarang berbagai penyakit dan kotoran. Mereka enggan dan tidak ingin melonjak naik ke atas karena itu adalah sesuatu yang mustahil untuk dilakukan. Mereka binasa dalam kubangan besar yang terus menjadi penjara akan semua keinginan dan harapan.
Mereka butuh sebuah timba yang akan mengangkatnya keatas untuk melihat kembali lahan tinggi yang membanggakan. Disana mereka akan melihat suasana dan kondisi yang teramat berbeda ketika mereka terperosok dalam kubangan kepasrahan. Kini setelah naik tinggi, air kembali punya daya yang mampu meyalakan lampu. Mereka punya penerang dan harapan baru untuk kembali menapaki hidup ini dan menyelesaikan episode yang terus berjalan hingga akhirnya sampai pada akhir yang mengharukan.

Kisah Hidup Lelaki Renta

Satu sosok renta berjalan pelan tertatih

Wajah sayu menghias jelas dimukanya

Guratan dalam kulit hitam legam dibakar matahari

Dihiasi keringat yang mengalir derasMenampakkan beban berat dalam hidupnyaIbarat lukisan alam saksi perjuangan Dia hidup sebatang karaMenempuh hidup dalam kesendirian kelabuMengais sisa-sisa nyawaYang kian lemah dimakan usia Tiada ingin ia jalani semua iniNamun nasib menghantarkan Mencampakkan dirinya disanaBerusaha tegar menjalani hariTerus berharap esok akan berganti Namun sang mentari seakan enggan terbitDitelan kepahitan kelabu yang kian pekatSinar-sinar itu tiada terlihat kembaliSeakan malu melihat sosok renta Yang tak kunjung meraih harapan dan cita Dia terus berjalan menyusuri waktuHarapan itu masih tergenggam kuatDitangan renta yang gemetar semakin lemahDalam kesunyian dia berjalan sendiriMenyibak takdir esok hari Kini lelaki renta terhuyung menatap jalan panjangDengan bibir tuanya dia bertanya”Akankah sampai diriku diujung jalan ini?”Sunyi, semua bisu dalam keheningan mencekamTiada suara yang menjawab lelaki rentaKarena kepedulian ibarat permataYang kian sulit ditemukan disepanjang jalan ini Lelaki renta tengah meregang nyawaTubuh rentanya tiada lagi kuasaMembawa nyawa suci turut sertaPerlahan dia menatap langitSenyum kecil menghiasi mulutnyaDengan terbata dia berkata”Surgaku adalah citaku…”Akhirnya tibalah diujung usia Lelaki renta telah pergi untuk selamanyaMengejar cita-cita dan impian hidupnya

Pacaran…? Gimana ya…?

Pada satu malam di tepi pantai pulau Selayar. Aku berjalan sambil melepas pandangan jauh ke tengah laut yang gelap diselingi deru ombak terus-menerus memukul bibir pantai berhias tiang-tiang dermaga. Kejenuhan selama  berada di dalam rumah telah menuntunku untuk menuju pantai sekedar melepas penat mencari  inspirasi baru. Nyaman rasanya berada di tepi pantai dengan angin sepoi menjadikan badanku terasa segar walaupun hawa dingin turut serta menyelimutiku. Namun suasana teduh pantai yang nyaman mengalahkannya dengan segera. Sambil menikmati suasana pantai aku berjalan pelan menuruti langkah kakiku menyusuri pasir hitam yang basah oleh air laut yang dingin. Setelah berjalan beberapa lama tibalah aku di satu tempat yang cukup luas berdiri diatas bibir pantai. Karena malam suasananya sepi serta cahaya lampu kecil dan redup membuat tempat ini remang-remang. Akupun naik ke tempat ini dari bibir pantai yang telah ku susuri sejak tempat pertama kudatangi. Sedikit heran aku melihat ada beberapa motor terparkir di tepi bangunan yang menjorok ke laut. Setelah aku amati lebih teliti terpampang satu adegan mengusik pikiran sehatku karena menurut hati kecilku kurang layak dilihat ditempat umum seperti itu. Sepasang muda-mudi dengan tanpa merasa canggung berpelukan mesra seakan tidak ada yang memperhatikan mereka. Sesekali mereka tertawa lepas sambil menikmati pantai dengan ombak terus berderu menambah suasana semakin romastis bagi mereka. Bukan hanya satu dua pasang yang aku lihat tapi beberapa juga melakukan hal yang sama, bahkan ada yang turun ke bawah bangunan dengan berpasang-pasangan. Dan saya tidak tahu apa yang mereka lakukan karena terhalang oleh bangunan yang menyerupai panggung diatas pantai. Terhenyak aku melihat pemandangan di depan mataku, satu pulau yang terpencil dan jauh dari peradaban kota besar ternyata sedemikian rusaknya pergaulan remaja, bahkan menyerupai kota-kota besar yang lebih dahulu rusak. Ironi sekali kondisi ini. Ternyata kerusakan pergaulan remaja dan pemuda telah sedemikian akut dan menjamah seluruh pelosok negeri ini, bukan hanya di kota besar yang telah maju dalam hal teknologi dan informasi, namun juga di desa yang terpencil pun telah terjamah nilai-nilai rusak tersebut. Pikiranku menerawang mencari satu jawaban singkat yang dapat menjelaskan suasana malam ini, belum lagi kutemukan jawabannya, pikiranku diserbu berbagai pertanyaan yang rumit. Ada apa dengan bangsa ini? Inikah potret masa depan bangsa ini? Bukanlah pertanyaan yang salah ketika melihat kondisi pergaulan remaja saat ini. Pacaran seakan menjadi gaya hidup bagi remaja. Bukan dimulai dari usia yang cukup baligh, bahkan di SD pun mereka sudah terjangkiti virus mematikan ini. Kalau dimasa usia-usia rawan dalam kehidupannya telah terserang virus ini, maka potensi besar mereka telah terkebiri dan tumbuh kerdil. Karena dalam benak mereka hanyalah bagaimana memperoleh pasangan (pacar) dan mengisi hari-harinya dengan pasangannya. Tentunya aktivitas yang akan dijalani di hari-hari setelah virus ini mulai bekerja akan semakin kacau dan tidak bermutu. Simak saja aktivitas mereka yang telah terserang akut virus ini, kita bisa tengok dari pagi-pagi mereka bangun sudah sibuk dengan sms-sms tidak bermutu mulai dari ”Lagi ngapain? Dah bangun belom? Hari ini ada acara? Tadi malam ngimpiin aku ndak? Dan sederet sms yang kurang bermutu lainnya. Kemudian di siang hari selepas mereka sekolah sering kita jumpai sepasang remaja nongkrong di mall, pusat perbelanjaan, lokasi hiburan, taman rekreasi hingga jalan-jalan sepi yang romantis. Setelah malam mereka mengajak keluar untuk nongkrong, dan aktivitas lainnya yang tidak bermutu. Begitupun ketika mau tidur, bukannya langsung tidur, tapi sms ria dan ngobrol bahkan sampai larut malam mereka masih asyik ngobrol dengan bahan yang tidak berguna sama sekali. Mereka menghabiskan waktu-waktu berharga mereka dengan sia-sia. Waktu-waktu tersebut seharusnya digunakan untuk mengukir masa depan mereka. Waktu yang sangat rawan tersebut dihabiskan begitu saja tanpa menghasilkan satu prestasi yang menghantarnya menjadi pribadi pilihan yang suatu saat akan mewarisi bangsa ini. Mereka larut dalam dunia pergaulan yang hitam dan sulit untuk keluar darinya. Sebenarnya bukanlah kebahagiaan dan kesenangan yang dijanjikan dalam dunia pergaulan semacam ini, bahkan kekecewaan, kesedihan dan keputusaan juga akan diperoleh. Banyak yang bunuh diri karena pustus cinta, ada yang menenggak racun, gantung diri, potong urat tangan, terjun bebas dan sebagainya. Bahkan ada yang patah semangat dan linglung setelah ditinggal pergi pacarnya. Belum lagi resiko yang harus dihadapi dari pergaulan bebas ini, mulai dari hamil diluar nikah, kisah aborsi yang berujung kematian, kucilan dari masyarakat karena perselingkuhan dan seabreg masalah sosial ikutan bagi masing-masing keluarga. Kalau menimbang dengan pikiran bijak kita heran dengan para pemuda dan remaja yang memilih kegiatan pacaran ini sebagai aktivitas mereka. Dimulai dari sedikitnya manfaat, disertai dengan resiko dan banyaknya permasalahan yang akan timbul di kemudian hari apabila telah terjebak dalam aktivitas ini, mulai dari pribadi, keluarga, dan masyarakat. Sesungguhnya kondisi ini adalah sebuah skenario besar untuk menghancurkan sebuah bangsa. Sebuah logika sederhana mampu mengurai permasalahan ini. Jika kita membicarakan suatu bangsa maka salah satu aset berharganya adalah generasi mudanya, karena ada satu pepatah yang mengatakan ’Kondisi pemuda saat ini adalah gambaran kondisi bangsa dimasa mendatang’. Karena mereka akan menjadi penerus yang melanjutkan estafet perjuangan suatu bangsa menuju cita-cita besarnya, ketika suatu bangsa kehilangan satu generasi, maka dapat dipastikan bangsa tersebut akan gagal dan tersungkur dalam keterpurukan yang dalam. Mereka yang sekarang memegang tampuk pemerintahan tidak akan selamanya hidup, tidak akan selamanya berdaya menjawab tantangan jaman yang terus berkembang dan berevolusi. Butuh generasi muda dengan jiwa, semangat darah segarnya mampu menjawab semua tantangan tersebut. Satu masa mempunyai permasalahannya sendiri, dan demikian terus-menerus melengkapi sejarah sebuah bangsa. Diperlukan pahlawan-pahlawan baru yang menjadikan suatu bangsa menjadi besar. Dan para pahlawan yang menghantarkan satu bangsa berjaya disuplai dari generasi muda, tidak ada pahlawan yang datang dari generasi tua yang kembali berjaya, sejarah telah membuktikannya. Peristiwa Rengasdengklok yang menjadi cikal bakal kemerdekaan Indonesia adalah dipelopori oleh pemuda, demikian kisah berdirinya Budi Utomo yang jauh hari sebelum gerakan perjuangan menggelora di tanah air juga didirikan oleh pemuda. Selanjutnya salah satu deklarasi yang dicetuskan pada tahun 1928 adalah sumpah pemuda, bukan sumpah tua. Dari sana muncul berbagai organisasi kepemudaan yang sangat berperan besar dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Demikian juga dengan kisah-kisah bangsa lain yang bergulir dan bergerak maju dengan adanya peran pemuda didalamnya.Memang kita tidak bisa dengan serta merta menyalahkan mereka tanpa memberikan satu solusi yang mampu menjaga mereka dari virus berbahaya ini. Sudah sepantasnya kita turut prihatin dan sama-sama menggalang kekuatan menyembuhkan penyakit ini. Kalau bukan kita siapa lagi yang akan peduli dengan mereka? Apakah kita rela bangsa ini terpuruk dengan kualitas pemuda yang semakin rendah karena terkontaminasi virus berbahaya ini. Kita akan mencoba mengurai satu solusi yang kita tawarkan sebagai bentuk keprihatinan yang mendalam. Semoga solusi tersebut berguna tentunya dengan segala kekurangan yeng menyertainya.Kita dapat membagi solusi tersebut menjadi dua bagian utama yaitu internal dan eksternal. Internal adalah satu solusi yang berasal dari pribadi remaja, sedangkan eksternal berasal dari luar yang mampu memperkuat solusi internal dan sifatnya sebagai pendukung dari solusi yang pertama. Namun dalam usulan ini tidak dipisahkan secara langsung, tapi dianggap sebagai satu kesatuan yang diharapkan mampu dilaksanakan dilapangan secara padu yang membidik dari dua sisi internal dan ekternal Solusi yang kita usulkan adalah sebagai berikut : 1.      Memperkuat karakter keagamaan remaja melalui pelajaran agama dan mentoring di sekolah2.      Menggalakkan seminar dan talkshow tentang peran remaja dan pemuda terhadap kejayaan suatu bangsa di sekolah dan kampus3.      Menggalakkan seminar bahaya pergaulan bebas di sekolah dan kampus4.      Menyediakan sarana edukatif dan kreatif sebagai penyalur bakat remaja5.      Mengurangi program tayangan televisi yang bertemakan cinta anak remaja dan derivasinya6.      Membuat undang-undang dan membentuk  badan pemerintah yang membatasi aktivitas pacaran7.      Memberlakukan jam malam bagi pelajar dibawah usia 17 tahun8.      Mengurangi aktivitas bersama antara remaja putri dan remaja putra baik dilingkungan sekolah dan kampus9.      Mengkampanyekan peran penting keluarga sebagai pembentuk kepribadian remaja melalui pengawasan dan pembinaan intensif di lingkungan keluarga Pembahasan dari berapa usulan solusi. Solusi yang pertama adalah memperkuat karakter keagamaan remaja melalui pelajaran agama dan mentoring di sekolah. Solusi ini adalah yang utama dari solusi-solusi lain. Karena agama merupakan  Mungkin solusi-solusi diatas adalah solusi teoritis, diperlukan satu sarana yang mampu menterjemahkannya dalam tataran praktis sehingga jauh akan lebh efektif dan edisien untuk mengatasi permasalahan yang ada dilapangan.

Selembar kertas kusut dari perjalanan singkat di Pontianak dan Sulawesi Selatan

Dengan sebuah semangat besar untuk memberikan manfaat kepada orang lain melalui kegiatan berdagang (bisnis) itulah, seorang mahasiswa di surabaya mencoba untuk berkiprah. Sebelum memasuki gerbang aktivitas ini, terkadang ada satu beban menggayut berat, bayangan dan rintangan yang harus dihadapi, mulai dari keluarga, teman kuliah, dan seabreg tantangan dilapangan yang nantinya akan dia masuki. Langkah yang sedikit galau bercampur cemas membuatnya harus berkonsultasi dengan beberapa orang yang bisa diajak diskusi untuk memantapkan langkahnya. Disitulah dia memulai sebuah proses pendewasaan diri di dunia pasca kampus, saatnya baginya berkiprah setelah digodog di kawah candradimuka tarbiyah kampus. Berbekal nasehat dan semangat yang masih kuat di dadanya, buah dari tarbiyah yang dia dapatkan, ia mulai melangkah pelan dan mantap. Kini hari-harinya dihiasi dengan perjalanan jauh ke pulau-pulau kecil di Indonesia yang memungkinkan aktivitas dagangnya bisa berjalan. Disanalah dia melihat satu kondisi nyata di Indonesia tentang nasib dan kehidupan rakyat pinggiran. Hatinya basah melihat kondisi tragis dimasyarakat yang telah bersusah payah mengurus lahannya kemudian memetik hasil buminya dan dihargai dengan ala kadarnya. Hasil dari jerih payahnya tidaklah sebanding dengan pengorbanannya. Para pengelola perkebunan ini sangat sulit untuk hidup berkecukupan, bahkan hanya cukup untuk sekedar bertahan melanjutkan nafas kehidupannya. Bukan hanya itu, kesulitan hidup itupun bertambah karena kondisi alam dengan hasil perkebunannya sangat sulit untuk menghasilkan bahan pangan yang bisa dimakan, suplai ke darahnya pun sangat terbatas sehingga harga makanan membumbung tinggi. Kondisi itupun diperparah dengan adanya sistem monopoli yang menggandeng sistem ijon dalam proses jual beli hasil perkebunan. Kesengsaraan mereka nyaris sempurna dengan kondisi alam yang kian tidak menentu menjadikan hasil perkebunannya kurang maksimal, kondisi ini yang sering disebut global warming yang lagi santer dibicarakan dalam forum internasional.
Kisah pilu masyarakat ini bisa digambarkan dari satu daerah terpencil di Pontianak, bernama pulau Batu Ampar. Untuk mencapainya diperlukan perjalanan selama 3 jam menggunakan speed boat dengan tarif Rp. 200.000,- sekali jalan. Sedangkan kalau menggunakan kapal kecil atau kapal klotok ditempuh selama 8 jam lebih dengan tarif Rp.30.000,- sekali jalan. Dikesempatan itu saya dan seorang teman juga dari surabaya tinggal selama 6 hari disana, banyak sekali informasi yang kami dapatkan, terutama bagi saya karena mampu membuka mata dan wawasan saya bahwa masih banyak masyarakat Indonesia yang hidup dibawah garis kemiskinan yang terus berharap ada satu kekuatan besar mengangkatnya dari kungkungan kemisknan. Berbagai pengalaman baru saya peroleh karena rumah yang saya tinggali adalah salah satu tokoh desa yang akan mencalonkan diri menjadi lurah atau kepala desa, sehingga banyak yang sering datang untuk berbincang-bincang. Suatu saat saya makan di warung dekat rumah, satu porsi nasi goreng seharga Rp. 10.000,- dan setelah saya melihat papan harga disana semua masakan berharga sama, mulai dari soto, mie rebus dan menu sederhana lainnya. Dan itu satu-satunya warung yang saya jumpai selama disitu, harga yang menurut saya cukup tinggi jika dibandingkan dengan kondisi ekonomi daerah itu, karena untuk mendapatkan uang sejumlah itu masyarakat harus kerja ekstra. Perbandingannya adalah upah dari seorang tukang panjat kelapa hanya dihargai Rp. 1000,- per pohon. Rata-rata dia dapat memanjat 70 pohon kelapa.
Sempat suatu sore selepas sholat maghrib saya berbincang dengan seorang bapak. Dia bertutur pelan memulai perbincangan itu tentang kondisi masyarakat disana, dibawah lampu redup yang dihasilkan dari generator kecil disamping masjid yang mensuplai satu desa, dia bercerita dengan ramah dan lugu. Lampu kecil yang terkadang kian redup itupun menyala hanya mulai jam enam sore hingga jam sepuluh malam.

Dengan suara parau dia memulia ceritanya,”Yah seperti inilah kondisi desa kami” dengan bahasa Indonesia yang kurang lancar.
“Kami disini hanya mengandalkan hasil dari kebun kelapa kami, Ya dari hasil bikin kopra” Dia diam sebentar sambil melinting bakau untuk diisap sebagai ganti rokok, setelah dilinting, dia nyalakan dengan korek api, kemudian menyambung ceritanya. “Masyarakat disini ada juga sebagian yang menebang kayu dihutan untuk di jual kepada penadah yang kebanyakan adalah orang cina, sehari kadang bisa dapat seratus ribu, itupun kami juga harus waspada kalau ada polisi hutan yang datang, karena kalau ketahuan urusannya jadi rumit. Pekerjaan itu terpaksa mereka lakukan untuk menyambung asap di dapur karena kelapa kami hanya bisa dipanen setiap tiga bulan sekali”.
Sesekali bapak ini menghisap rokok lintingannya, terus kembali melanjutkan ceritanya. “Kadang kalau ada keperluan mendesak kami ambil uang dulu ke pengumpul kopra dan kami janjikan dengan buah kelapa kami yang masih hijau dipohon untuk pembayarannya. Walaupun kami tahu resikonya harga kopra kami akan dihargai jauh lebih rendah, tapi gimana lagi karena terdesak kebutuhan”.
Terkadang bapak yang mulai memutih rambutnya ini batuk-batuk karena pengaruh rokok lintingannya, kemudian kembali bertutur,”Karena uang hasil penjualan kopra kami hanya cukup untuk hidup sekitar satu bulan hingga satu setengah bulan, dan sisanya kami harus mencari dari yang lain. Kadang melaut dan mengganti nasi dengan singkong yang kami tanam di kebun belakang rumah. Kami sebenarnya sangat berharap perubahan terhadap kondisi kami, kalau bukan kami yang merasakan, mungkin anak atau cucu kami. Walaupun saya bukan orang yang begitu tahu tentang politik, tapi sejak beberapa tahun yang lalu ada satu partai politik datang. Tapi saya heran kok pemimpinnya yang kampanye disini seorang ustadz. Yah semoga itu pertanda baik”.
Mimik muka bapak ini mulai serius,”Karena selama ini kami banyak dijanjikan ini itu dari partai politik yang datang disini, namun setelah selesai pemilihan mereka pergi meninggalkan kami dalam kondisi yang sama tanpa perubahan”.
Dengan memalingkan muka memandang wajah saya bapak tadi bertanya,”Oh ya anak ini dari mana tadi asalnya?”.
Dengan cepat saya menyahut,”Dari Surabaya pak, tapi Aslinya Jawa Tengah”. Kemudian bapak melanjutkan pertanyaannya,”Kondisi di Jawa pasti jauh lebih baik dari disini ya? Disana lebih makmur dari sini?”.
Dengan menghela nafas aku menjawab,”Ya memang dijawa lebih baik dari disini pak, dalam hati saya berkata, -jauh lebih baik-, Mungkin nanti bapak berkesempatan pergi ke Jawa sendiri sehingga bisa melihatnya”.
Sambung sang bapak,”Saya sudah tua, tapi kalau yang diatas masih memberi kesempatan bisa jadi”. Setelah menghisap rokok lintingnya dia melanjutkan ceritanya, “Kami disini sangat sulit karena hidup dipulau kecil yang terpencil, dan jauh dari kota. Harga-harga sangat mahal. Itupun kami sangat tergantung dengan mereka yang punya kapal besar untuk mengangkut barang-barang dari kota. Sekolah disini gratis, tapi sedikit yang mau sekolah karena mereka kebanyakan kerja dikebun membantu orang tuanya untuk mencari penghasilan”.
Dengan mimik muka yang ramah bapak mengajak ke rumahnya, ”Nak main kerumah, itu di seberang jalan itu rumah bapak. Saya pulang dulu kalau nanti punya banyak waktu main ke rumah ya. Mari nak bapak permisi dulu”.
Setelah salaman bapak tadi pergi meninggalkan musholla untuk pulang kerumah. Sebentar tubuh bapak sudah hilang dibalik tembok musholla dan melanjutkan ke rumah panggung sederhana yang berdiri dekat dari musholla. Selepas pembicaraan itu banyak pikiran yang bersarang di kepalaku. Rasa simpati, haru, bersatu mengenang pembicaraan kami.
Keharuan itupun terus menggumpal menajamkan tekadku untuk terus berdagang. Selepas itu terdengar panggilan dari ujung jalan,”Mas pulang dulu!” dengan logat Pontianak. Mendengar suara yang tidak asing ditelinga itu, aku melihat dengan seksama ke asal suara memastikan siapa yang mengajak pulang, ternyata Mas Abbas.
Dengan segera aku menyahut,”Ya mas sebentar…”. Setelah itu aku bergegas ambil sandal dan pulang bersama mas Abbas.
Mas Abbas, begitu sering aku memanggilnya. Dia adalah seorang pemuda, kakak dari teman saya di Pontianak yang mengajakku datang ke Padang Tikar. Mas Abbas punya saudara kembar yang mau mencalonkan diri menjadi Kades, beliau bernama Syafruddin, biasa dipanggil Didin. Keduanya belum menikah, tapi Mas Didin sudah tunangan, rencana bulan depan dia sudah menikah dengan seorang guru sekolah disana. Tapi Mas Abbas belum ada niatan untuk menyusul saudara kembarnya itu untuk menikah.
Dalam sebuah perbincangan santai aku pernah bertanya kepada mas Abbas,”Kapan nikah mas?”,
Dengan santai dia menjawab,”Belum ada rencana, masih mikir pekerjaan. Disini pekerjaan sulit. Jadi banyak perjaka yang terlambat kawin. Gimana lagi, mereka ndak tahu harus mencari penghasilan dari mana untuk menafkahi istri dan anaknya. Termasuk saya”.
Dengan singkat aku menyambung,”Ohhh…gitu ya! Berapa usia mas Abbas?” dengan nada sedikit menurun takut membuatnya tersinggung.
Mas Abbas menjawab,”Saya sudah tiga puluh tahun, kenapa? Aneh ya? Kalau di daerah mas pasti dah menikah seumuran saya. Yah mungkin belum ada jodoh juga.”
Sambil berpindah posisi duduk, aku menjawab,”Ndak…Di Jawa juga ada yang nikah terlambat sampai hampir empat puluh tahun, tapi ya lagi-lagi jodoh mungkin yang berbicara.”
Dengan segera aku mencoba ganti topik pembicaraan karena melihat mas Abbas kurang nyaman,”Mas pernah ke Jawa?”
Dengan segera dia menjawab,”Pernah, saya dulu kerja di Jakarta menjadi peternak udang di sana sama-sama dengan Didin. Yah kira-kira tiga tahunanlah, sebenarnya hasilnya cukup lumayan. Tapi karena suatu hal kami putuskan untuk pulang ke kampung.” Kemudian dia mengambil rokok di meja dan menyulutnya,”Maaf saya sambil merokok ya..!.”
Aku menyahut, ’Oh ya silahkan ndak apa-apa kok…”
Setelah menghisap rokok dan kelihatan santai dia mulai melanjutkan ceritanya,”Di kampung saya dulu pernah punya pengalaman yang mengkin unik untuk mas. Saya pernah menjadi penarik harta karun di dalam tanah dengan teman-teman”
Dengan wajah penasaran saya berucap,”Penarik harta karun, maksudnya? Terus gimana caranya?”
Sambil memegang rokok dan membetulkan tempat duduk, dia berkata,” Ya bener. Penarik harta karun yang lama terpendam di bawah tanah. Cara kita mencarinya dengan magis gitulah penjelasan sederhananya”
”Trus sudah pernah berhasil”, sambungku
”Kalau harta berupa emas dan perak kami tidak pernah berhasil, tapi ada yang pernah berhasil mendapatkan kayu jati yang besar dan bagus di dalam tanah terpendam dibawah rumah. Ia peroleh dari mimpi dan keahliannya dengan profesinya sebagai pencari harta karun” jelasnya.
”Oooo….jadi disini banyak ya mas yang berprofesi seperti itu?”, tanyaku karena semakin penasaran.
”Ndak banyak tapi ada”, jawabnya singkat.
Kemudian datang ibu mas Abbas membawa tiga minuman teh. ”Mari silahkan diminum!” suruhnya setelah semua minuman tersaji di depan kami.
”Oh ya mari mas diminum, lumayan untuk teman ngobrol…” sambung mas Abbas.
Setelah kami menikmati teh manis dan beberapa kue yang ada, mas Abbas memulai pembicaraan lagi. ”Trus gimana mas rencananya untuk berbisnis kopra?”
Sahutku,”Kita masih survey dan hitung semuanya, serta lihat-lihat sarana dan kemampuan kopra disini. Kalau kapasitas yah lumayan besar tapi ada beberapa masalah yang mungkin menjadi pertimbangan untuk melanjutkan bisnis kopra disini”
”Ooo…tapi jadi kan beli kopra disini?” sambung mas Abbas.
”Tergantung nanti dari hasil semua survey, karena untuk keuangannya sangat sulit. Disini ndak ada bank. Setelah tadi kami ke kantor pos satu-satunya dipulau ini untuk membicarakan keuangan, dia tidak berani menjanjikan bawa uang diatas sepuluh juta dalam satu minggu dari kota. Permasalahan kedua adalah kualitas kopra disini kurang bagus. Masih agak basah. Terus kita kesulitan dalam trasnportasi karena tidak ada truk, pick-up atau grobag untuk membawa kopra dalam jumlah besar ke dermaga”.
Dengan mimik serius dia berkata,”Yah seperti ini memang kondisi desa kami, jalannya masih kecil itupun mudah rusak karena Cuma beton. Transportasi utama menggunakan sampan atau ojek. Jadi ndak bisa mas ya…?”
Sambungku,”Belum final tapi sepertinya cukup berat disini, apalagi harga juga lumayan tinggi dengan kualitas seperti itu. Kami ndak ada lahan untuk mengeringkan sebelum dikirim ke pabrik”
”Oh kalau masalah lahan nanti bisa saya carikan, disamping desa kami masih banyak lahan kosong, tenang saja, kalau masalah itu…” sambungnya.
”Yah semoga nanti bisa kita lanjutkan…Eh sudah adzan nih mas kita sholat dulu!”,ajakku ke mas Abbas.
”Oh ya…sebentar aku ambil sarung dulu…!”, jawabnya singkat.
Setelah beberapa saat kami jalan bareng ke musholla dekat rumah sambil sesekali bercanda di jalan. Maklum anak muda walaupun baru saja kenal tapi dah kelihatan cukup akrab.
…….
Malam hari setelah makan, kami kumpul di ruang depan, dengan serius kami memulai pembicaraan,”Mas Abbas dan Mas Didin, kami rencananya besok mau pulang ke Pontianak. Kesimpulan dari survey kami disini masih kami pikirkan solusinya disana. Semoga saja nanti bisa berjalan. Saya sangat berterimakasih dengan keramahan keluarga ini menyambut kami. InsyaAllah nanti kami singgah lagi kesini untuk berkunjung. Dan juga terimakasih atas semua bantuan dari Mas berdua, karena tanpa kalian kami ndak bisa berbuat banyak”
Sambung dari mas Didin,”Oh jadi besok mau pulang, Kenapa ndak disini lebih lama?. Kami senang kalau sekiranya kalian masih mau singgah lebih lama disini. Tapi kami menyadari kalian harus terus keliling untuk melanjutkan bisnis kopranya. Yah semoga lancar untuk usahanya. Kami sekeluarga ndak bisa memberikan lebih banyak karena keterbatasan dari kami, maklum kampung mas. Kami sekeluarga Cuma bisa mendoakan semoga usahanya lancar aja.”
Setelah kami berpamitan, besoknya pagi-pagi kami berkemas untuk pulang. Karena harus berburu waktu dengan kapal yang mau ke Pontianak. Kami tidak menggunakan speed boat lagi karena uang saku kami habis dan ndak mencukupi. Dalam perjalanan pulang itu, kami melihat pemandangan yang cukup memilukan hati. Sebuah potret kehidupan nyata terpampang di depan mata kami. Kondisi rakyat bangsa ini yang terpuruk dalam kemiskinan. Memang bukan hanya di Pontianak, bahkan di Jawapun kita masih banyak menjumpai pemandangan yang serupa. Tapi pemandangan ini memilukan hati karena ditengah keterpurukan itu tersimpan potensi yang besar. Ditengah-tengah mereka ada potensi yang luar biasa untuk mengubah sejarah hidup mereka. Ada kekayaan melimpah yang tersimpan, namun tidak mampu mereka manfaatkan untuk kesejahteraan hidupnya. Keterbatasan akal dan kebodohan seakan menjadi dinding tebal yang menghalangi mereka. Bahkan seakan ada satu kekuatan besar yang membiarkan kebodohan dan keterbelakangan itu terus ada, sehingga mereka bisa mengambil keuntungan dari kondisi tersebut. Ironi sekali kondisi masyarakat ini, sambil mengusap mukaku yang basah oleh keringat aku terpaku melihat gubug kecil, reot dan sangat sederhana ditepi sungai tempat kapalku berlayar. Dibawahnya ada sampan kecil yang menjadi kendaraan penghuninya untuk memancing. Di dalam gubug reot itu terlihat wajah-wajah sayu. Pilu hati saya memandang kondisi itu, seandainya aku punya waktu ingin rasanya singgah sebentar untuk mengulum senyum dan menghapus duka mereka walau hanya sebentar. Wajah tua yang berkerut karena guratan jaman dan kerasnya kehidupan, wajah itu terus ada di kepalaku seakan memanggil-manggil. Terus dan terus aku berandai-andai menjadi seorang kaya yang berkuasa, pastilah aku dapat membantu mereka. Tapi khayalan tetaplah khayalan yang cepat dan mudah hilang dihapus kejutan hidup yang nyata.
Setelah dua bulan berlalu dan berkeliling dari satu daerah ke daerah yang lain di Pontianak, ternyata pemandangan nyaris sama seperti yang kulihat di tepi sungai juga saya temukan. Kesimpulanku adalah memang inilah potret nyata masyarakat pedesaan di Pontianak yang teramat jauh berbeda dengan kondisi di kota. Di kota tempat Universitas Tanjung Pura berdiri, aku melihat wajah-wajah mahasiswa dan masyarakat Pontianak yang larut dalam suasana hura-hura. Setiap malam minggu ada panggung besar berdiri tempat band-band anak muda melantunkan lagu-lagu tidak bermutu. Dalam satu jalan sepanjang satu hingga dua kilometer bukan hanya satu panggung, bahkan ada tiga panggung besar. Belum lagi melihat cara mereka berhura-hura dari segi pakaian dan pergaulan. Itu kondisi di dalam kampus dan di tepi jalan, kalau seandainya kita masuk lebih kedalam di klab-klab malam dan bar-bar yang ada tentu kondisinya lebih ngeri lagi.
Rasa penatku setelah berputar-putar seakan semakin berat karena aku menahan nafas melihat satu pemandangan yang cukup memilukan, seharusnya mereka yang menjadi garda depan untuk memikirkan solusi praktis terhadap kemiskinan yang melanda daerah ini, tapi selayang pandang membuatku seakan pupus harapan adanya perubahan dalam masyarakat dalam kondisi yang memilukan itu. Sebuah harapan muncul perlahan. Aku berhusnudzon, semoga pemandangan ini bukanlah mencerminkan semua pemuda dan masyarakat di Pontianak ini, saya berharap masih ada sekelompok pemuda dan pihak-pihak yang terus memutar otak untuk mengatur langkah menghadapi kemiskinan di daerah tersebut dan di Indonesia secara umum.
Setelah tiba di kost saya langsung menuju lantai atas dan berbaring untuk melepas lelah. Yang kami sebut kost adalah sebuah kantor Trusco cabang Pontianak. Trusco adalah sebuah lembaga pelatihan pengembangan diri yang melayani pelatihan-pelatihan dan berbagai game yang mendidik.

Andaikan Mereka Tahu Cinta Kita….

” sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rosul dari kamu sendiri, berat terasa
olehnya penderitaanmu, sangat mengiginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat
belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin”. Itulah pujian Allah yang
diberikan kepada Rasulullah, karakter yang mulia, karakter yang juga sekaligus
menjadi “rahasia” kesuksesan dakwah Rasulullah. beliau begitu empati pada masalah
umat, begitu peduli dan juga begitu cinta. Cukuplah ucapan “ummati… ummati…”
(umatku…umatku) menjelang beliau wafat sebagai buktinya. Cinta kepada ummatnya
tidak hanya didunia, tapi dibawa sampai ke akhirat, beliau akan memeberikan syafaat
kepada umatnya, beliau akan menjadi manusia terakhir dikalangan umat Islam yang
masuk surga. Bukan karena beliau tidak bisa masuk sorga sendirian, tetapi karena
cintanya kepada umat, memastikan bahwa seluruh umatnya masuk surga. subhanallah.
Masih ingatkah kita tentang kisah yang begitu luar biasa pasca kewafatan rasulullah.
Abu bakar sebagai khalifah pengganti Rasul mengantikan seluruh peran rasul sebagai
pemimpin umat. termasuk meneruskan amanat pribadi rasul . Setiap hari abu bakar
datang ke rumah orang yahudi yang buta dan sangat tua, untuk memberikan makan
sekaligus juga menyuapi orang tua tersebut.”Tugas” yang selama ini dilakukan Rasul,
tanpa diketahui oleh orang tua tersebut. Tetapi uniknya orang tua tersebut selalu
memaki-maki Rasulullah dalam setiap kesempatan, karena orang tua tersebut buta, dan
juga rasul tidak pernah menyebut identitasnya dihadapan orang tua tersebut. Tetapi
yang lebih “unik” adalah rasul tetap istiqomah memberikan makan dan sekaligus
menyuapinya. Seperti yang kita ketahui, orang yang pernah menyuapi kita adalah orang
yang paling mencintai kita, salah satunya adalah ibu. Berarti begitu besar cinta
rasul kepada orang tua tersebut walaupun dimaki-maki setiap hari.
Tahukah antum, orang tua itu baru tahu bahwa yang memberikan makan kepadanya dan
yang menyuapinya selama ini adalah Rasul yang mulia, yang selama ini pula ia
maki-maki. orang itu baru tahu setelah diberi tahu oleh abu bakar. yang akhirnya
mebuat dia sadar dan bertaubat dan akhirnya memeluk agama Islam. Subhanallah.
Itulah salah satu rahasia keberhasilan dakwah Rasul. Sebuah risalah yang jelas
kebenaranya yang kemuadian disampaikan kepada umat manusia dengan kasih sayang,
cinta, pengorbana, empati dan semangat untuk menyelematkan umat dengan mengajak
kepada Islam. Sekali lagi Islam tidak hanya benar, tetapi didakwahkan secara benar.
Ada sebuah penuturan yang cukup menarik dari mantan rohaniawan sebuah agama, yang
akhirnya ia memeluk Islam. Dalam agamanya yang lama, “daya tarik” agama tersebut
bukan pada kebenaran agama tersebut, karena memang ajarannya tidak sesuai dengan
fitrah dan tidak masuk akal dan yang jelas buatan manusia. Oleh karena itu betapa
banyak orang yang sudah mencapai tarap “ulama” dalam agama tersebut, akhirnya mereka
memeluk agama Islam setelah menyadari kesalahan ajaran agama tersebut dan menyadari
kebenaran Islam. Tetapi, lanjut mantan rohaniawan agama tersebut, yang menjadi “daya
tarik” agama tersebut adalah jargon cinta dan kasih sayang yang mereka kemas
sedemikian rupa, yang mereka lembagakan, yang mereka kurikulumkan, yang mereka
doktrinkan secara sistematis melalui sekolah calon rohaniawan mereka, mereka kemas
jargon cinta dan kasih sayang mereka dengan pemahaman antropologi dan sosiokultural
yang begitu mendalam, penguasaan psikilogi manusia maupun
psikologi sosial. Bagaiman secara cerdas mereka bisa masuk ke jantung pertahanan
umat islam. Mereka secara gilang-gemilang mengambil satu-persatu umat islam dari
pangkuan islam, bukan dengan modal kebenaran agama mereka atau kesalahan agama
Islam, tetapi dengan modal “cinta dan kasih sayang”. Mereka paham betul yang
dibutuhkan oleh orang yang kelaparan adalah makanan, mereka paham betul yang
diperlukan oleh masyarakat marjinal adalah perhatian dan kasih sayang, mereka paham
betul yang diperlukan oleh pengangguran adalah pekerjaan yang layak, mereka paham
betul yang diperlukan orang tua adalah pendidikan yang pantas dan murah bagi
anak-anak mereka. Dan mereka bisa memberikan semuanya. Mereka datangi kawasan kumuh
-yang para da’i belum menyentuhnya-, mereka bagikan makann, mereka beri pekerjaan
pemuda mereka, mereka berikan ketrampilan kepada mereka, mereka berikan pendidikan
gratis. Mereka advolasi, mereka rela tidur ditempat kumuh, bahkan ada kisah yang
cukup kesohor adalah bagaimana seorang rohaniawan agama tersebut rela tidur
berbulan-bulan lamanya bersama dengan mereka “dengan atas nama cinta”. Siapa yang
tidak kepincut dengan “cinta” mereka. dan akhirnya sang rohaniawan tersebut secara
perlahan tapi pasti berhasil memurtadakan umat Islam. Di sisi lain memang benarlah
sabda Rasul bahwa kefakiran mendekatkan pada kekafiran. Diakhir pemaparannya
amantan rohaniawan agama tertentu yana akhirnya masuk Islam menyimpulkan bahwa,
agama lamanya tersebut sangat tergantung dengan “performance” cinta para pengemban
misinya. Berbeda dengan Islam yang memang sudah benar dari “sononya”, asal sedikit
saja manusia berpikir oblektif dan berpikir rasional, pasti manusia akan memilih
Islam.
Apakah disini saya mengajak untuk meneladani mereka? demi Allah tidak, sekali lagi
demi allah tidak. cukuplah rasul sebagai teladan kita. Cinta rasul kepada umat
manusia dibangun atas dasar iman, begitu pula seharusnya kita. cinta kita kepada
manusia bukan atas dasar dorongan psikologi atau sekolah kepribadian tapi atas dasar
iman.
Dengan landasan cinta kepada umat inilah Insya Allah dakwah Islam akan kembali
menemui kejayannya. Orang akan berbondong-bondong mendukung barisan dakwah. Cinta
kita bukan cinta semu,cinta kita bukan sekedar janji tapi cinta kita adalah cinta
yang terbukti, cinta yang diwujudkan dengan nyata. hasan al-banna pernah
menyampaikan ” seandainya umat ini tahu bahwa mereka lebih kami cintai daripada diri
kami sendiri niscaya umat ini akan berbondong-bondong untuk mendukung dakwah ini”.
wallahu a’lam bisshawab

Peran Pemuda dalam Gerakan Dakwah Oleh: Ust. Hilmi

Saya selalu merasa sangat bergembira kalau bertemu dan harus
berbicara di hadapan para pemuda. Ini semua menandakan bahwa pemuda tetap
bersemangat dan serius, karena setiap gerakan yang berhasil pasti memiliki
kemauan yang kuat, harapan yang jauh ke depan, dan orientasi yang jelas
serta terarah terutama di basis pemudanya.

Walaupun kadang-kadang gerakan pemuda kepentok masalah klasik
kekurangan dana, misalnya. Hal itu biasa dan terjadi di mana-mana, di
setiap waktu dan tempat, bukan hanya di Indonesia dan di masa sekarang
saja. Meskipun tidak mempunyai materi berlimpah, semua pergerakan disusun,
dirancang, dan dilaksanakan oleh pemuda. Pemuda aktivis boleh miskin
materi, tetapi jiwanya kaya, sehingga pantang menyerah dan mengeluh.
Mereka tidak mengorbankan iffah, kehormatan diri, hanya untuk
meminta-minta, karena pemuda perintis dan pelopor pergerakan yang berhasil
adalah mereka yang bermental baja.

Kekuatan moral dan spiritual menjadi modal utama dan pertama dalam
setiap pergerakan. Mungkin saja landasan moral dan spiritual sebuah
pergerakan salah atau bathil, tetapi pasti punya semangat. Apatah lagi
kita yang mempunyai landasan moral dan spiritual yang benar, bersumber
dari petunjuk Allah SWT. Kekuatan moral dan spiritual yang benar
akan menghasilkan azam dan iradah qawiyah. Bahkan, orang akan
menjadi muda selamanya dan bergairah terus, jika bergerak atas landasan
moral dan spiritual yang benar. Alhamdulillah, kita telah diberikan
karunia itu oleh Yang Mahakuasa.

Modal kedua ialah kemampuan intelektual. Allah sangat merangsang
manusia melalui ayat-ayat Al Qur’an.
Menurut penelitian, otak manusia yang terpakai hanya 5%
dari volume otak yang sebenarnya. Apalagi otak orang Indonesia yang
mungkin tidak mencapai batas maksimal itu. Bayangkan, jika kemampuan otak
itu ditambah dengan kekuatan pendidikan (tarbiyah) yang kita jalankan,
bagaimana hasilnya. Menurut catatan, anggota gerakan 70% adalah para
sarjana yang diberi petunjuk dan kemudahan oleh Allah untuk bergabung
dalam jamaah dakwah, itu melebihi kualitas kelompok masyarakat pada
umumnya.

Modal ketiga adalah ideologi atau idealisme yang dengannya kita
mempunya visi dan misi perjuangan yang jelas. Ini juga merupakan karunia
Allah kepada kita berupa pemikiran yang paripurna, bisa memiliki pandangan
jauh ke depan, walaupun pada masa-masa sulit. Kita selalu menjadi barisan
pelopor dan perintis dalam kejelasan ideologi.

Modal keempat adalah manhaj atau metodologi. Allah tidak hanya
memberikan perintah saja, melainkan juga konsepsi dan landasan
operasional. Shalat dan haji memang diperintahkan oleh Allah, tetapi dalam
pelaksanaannya Allah mencontohkan melalui tindakan Rasulullah. Dalam
berjuang dan berjihad pun harus mengikuti Rasul, tidak membeo, tapi
memahami dan mengerti maksudnya. Qudwah kepada Rasul merupakan kebutuhan,
bukan hanya sekadar kewajiban, karena tanpa Rasul, maka ajaran Islam tak
bisa jalan. Rasulullah-lah yang mencontohkan kepada kita, bagaimana dakwah
yang jelas, terarah dan sistemik.

Modal kelima adalah kefitrahan. Dinul Islam itulah modal besar,
karena sesuai dengan fitrah manusia, tidak berbenturan dengan kultur
manusia, binatang, dan ekosistem. Bahkan, Allah menegaskan bahwa semua
makhluk itu adalah junud (tentara) Allah. Artinya, kita harus
yakin bahwa pergerakan yang bertentangan dengan fitrah manusia adalah
bertentangan dengan kehendak Allah, karena semuanya bergerak dalam nuansa
dan irama yang sama. Semuanya bertasbih kepada Allah. Jika perjuangan
Islam kompak dengan perjuangan alam (universe), maka perjuangan
itu akan berhasil. Pohon dan tetumbuhan, binatang, cuaca, gejala alam
semuanya menjadi teman-teman perjuangan kita.

Berjuang tanpa fitrah alam akan gagal, karena hukum itu bersifat
baku dan tetap sepanjang zaman. Ini adalah modal yang sangat besar,
walaupun kita tidak merasakannya. Padahal, bantuan Allah lewat alam
(nature) itu sangat banyak. Misalnya, bekerja dalam hujan, tetapi
tidak masuk angin, malah hujan itu menjadi penyegar. Bahkan, semuanya itu
untuk mengokohkan, jika kita berstatus juga sebagai Jundullah. Caranya,
sesuaikanlah sifat jundiyah kita dengan jundiyah angin,
binatang, pohon, dan lain-lain.

Rasulullah sering dibantu oleh para jundi alam ini: tumbuhan,
binatang, cuaca, dan sebagainya. Bahkan, karamah para sahabat
dalam perang Qadisiyah, ketika mereka menyeberang sungai sambil berkata:
”Wahai air, kita sama-sama jundullah, bantulah kami karena sedang
melaksanakan tugas” Akhirnya, air yang dalam dan deras itu menjadi
dangkal dan tenang untuk dilewati.

Modal keenam adalah modal institusional. Kerja kita adalah kerja
Jama’ah yang banyak orang tidak melakukannya. Kita memperoleh
banyak dukungan dari proses jama’i ini, seperti thawashau bil
haq dan thawashau bis shobri. Itu hanya bisa dilakukan
dengan jamaah, karena saling mengingatkan itu diperlukan dalam gerakan
agar tidak tergelincir. Ba’duhum awliya’u
ba’din. Kritik dan peringatan itu perlu.

Kita sedih menyaksikan ada pejabat tinggi pemerintah yang tidak mau
dinasehati salah seorang ikhwah. Padahal kita hanya ingin menyelamatkan
umat, bukan mengincar jabatan. Tetapi, pejabat tersebut setelah menduduki
posisinya justru keenakan dan tidak mau direpoti oleh saran-saran yang
berguna bagi umat.

Itu semua hanya bisa dilakukan dalam proses institusionalisasi,
ketika tantangan dakwah berat dan sulit. Ada tawashau bil haq wa bis
shobri, sehingga menimbulkan daya tahan (QS Ali Imran: 157). Wa
ma dla’ufu wa ma istakanu (mereka tidak lemah dan tidak
menyerah). Juga dilengkapi dengan tawashau bil marhamah. Tatkala
seseorang mendapat musibah dan menderita, maka orang tersebut tidak
sendirian, tetapi bersama-sama dengan banyak orang, sehingga potensinya
tidak terpuruk.

Modal ketujuh bersifat material. Sebenarnya Allah telah banyak
memberikan modal material kepada kita berupa alam semesta beserta segala
isinya, tetapi mungkin kita belum bisa mendayagunakannya. Bahkan, dalam al
Qur’an surat al Hajj ayat 31, Allah berfirman: ”Telah Aku
datangkan segala apa yang kamu butuhkan, wa in ta’uddu
ni’matallah laa tuhsuha” Karena kezaliman dan
ketidakproporsionalan sikap kita, sehingga tidak memiliki daya
inovatif dan kreatif untuk memanfaatkannya. Menyadari dan mensyukuri
nikmat Allah itu penting. Bagaimana nikmatnya udara, sehari kurang lebih
350 kilogram kita memakai oksigen untuk tubuh kita, seperlima diantaranya
dipakai oleh otak.

Kesadaran memiliki modal dasar itu penting demi iradah qawiyah dan
azam yang tinggi. Kalau melihat perjalanan dakwah ke belakang pada
tahun 1980-an, ketika Orde Baru berkuasa, bagaimana dakwah ini dikekang,
diatur dan dikendalikan oleh pemerintah. Bahkan, dai yang menafsirkan
surat Al Ikhlas sebagai ajaran tauhid saja sudah diberangus, sampai
dikejar-kejar, sehingga akhirnya tema ceramah diubah menjadi syarat sahnya
berwudlu. Justru di masa-masa sulitlah dakwah berkembang dan berekspansi,
karena punya modal banyak.

Pada saat itu para muwajjih tidak dijemput dengan mobil,
tetapi banyak yang berjalan kaki, karena keadaan ekonomi yang sulit. Cari
tempat untuk acara pengajian atau daurah juga sulit.
Halaqah dilakukan di kebun binatang, di taman, di lapangan, di
kebun raya tanpa whiteboard dan peralatan tulis memadai.
Itu semua karena kita mempunyai kesadaran bahwa kita kaya, yang
menyebabkan kita selalu menjadi barisan perintis dan pelopor
kebaikan.

Strategi awal dakwah kita adalah harakah at taghyir yang
membutuhkan anashir at taghyir. Karena kita membutuhkan banyak
unsur perubahan, maka kita perlu mendapatkan akses dakwah pada pusat-pusat
perubahan, yaitu markaz at taghyir. Dalam tahap awal, pusat
perubahan yang kita akses adalah wilayah ilmiyah, yaitu
kampus-kampus dan sekolah-sekolah. Setelah itu kita mengakses wilayah
sya’biyah (masyarakat umum) melalui masjid-masjid dan pengajian
umum.

Kampus dan sekolah itu pada dasarnya adalah milik umat. Sesudah itu,
dakwah dalam amal thullabi dilanjutkan dengan amal
mihani (dakwah profesi). Seyogyanya memang amal thullabi dan
amal mihani itu disinergikan, karena mengarahkan kemampuan
profesional harus dimulai sejak masa mahasiswa.

Amal mihani terdiri dari dakwah di kalangan perusahaan
(tenaga kerja) dan pengembangan profesi. Harus disadari bahwa
perusahaan-perusahaan umum itu tidak bisa atau sulit dijadikan
lembaga perjuangan, sehingga hanya dipenuhi dengan karir,
ma’isyah (pekerjaan), rekrutmen dan pengembangan
kafa’ah saja. Yang masih lemah dari para aktivis adalah
memasuki lembaga-lembaga profesi.

Itulah yang bisa dijadikan lembaga perjuangan. Tetapi kenyataannya
sekarang lembaga-lembaga profesi itu banyak yang lemah dari sisi
perjuangan, hanya sekadar tempat kumpul-kumpul, bagi-bagi proyek, dan
kadang-kadang peningkatan kafa’ah saja. Fenomena kelemahan
lembaga profesi ini bukan hanya di Indonesia, tetapi terjadi di
mana-mana.

Dakwah Islam memandang situasi itu sebagai sesuatu yang besar, bahkan
keharusan perjuangan. Di Mesir, tahun 1960-1970 an, aktivitas
kemahasiswaan berjaya dan mulai memasuki dakwah profesi. Lembaga-lembaga
profesi yang tadinya lemah, maka sepuluh tahun kemudian menjadi kuat dan
hampir 90% organisasi profesi dikuasai aktivis dakwah. Ikhwan dan akhwat
yang masuk ke lembaga profesi harus kompetitif, jujur dan amanah. Aktivis
Kristen Koptik di Mesir pun memilih dan mengakui kepemimpinan aktivis
dakwah yang dinilai paling amanah dan memiliki etos perjuangan.

Semua proses tersebut berjalan secara wajar dan terjadi pemberdayaan
yang luar biasa terhadap lembaga profesi. Lembaga profesi teknik
(persatuan insinyur) tidak hanya bekerja pada bidang teknik, tetapi juga
membuat RUU dan advokasi keteknikan yang bernuansa Islam, karena aktivis
dakwah mampu mewarnai lembaga tersebut. Akhirnya lembaga profesi itu
bertindak seperti partai politik dan pressure groups terhadap
pemerintah. Karena aktivis mewarnai dan menguasai banyak lembaga profesi,
maka seakan-akan mereka memiliki banyak partai politik dan kelompok
penekan yang mengontrol pemerintah dengan kebijakan dasar yang sama.

Pada tahun 1995, pemerintah Mesir menyadari hal itu, sehingga
lembaga-lembaga profesi mau dibredel, tetapi sulit karena terkait dengan
institusi negara, infrastruktur dan suprastruktur politik. Kalau
dibubarkan sulit, karena bertentangan dengan UU dan bisa membentuk
lembaga yang baru lagi. Kalau kantornya ditutup, pemerintah dituntut lewat
pengadilan. Aktivis bisa membuka kantor yang baru, atau menguasai dan
mewarnai lembaga profesi sejenis. Kalau aktivisnya ditangkapi dan
dipenjarakan, industri dan pelayanan jasa (terutama rumah sakit, konsultan
proyek, dan pengacara) akan mengeluh, karena tidak bisa berjalan, sebab
tidak ada tenaga ahlinya. Maka, proses pembangunan pun bisa
terhambat.

Kelompok Salsabil di Mesir, misalnya, membuat perusahaan komputer dan
berkembang sampai bisa mengikuti tender penyediaan software di
Departemen Pertahanan Mesir, karena murah dan paling baik, akhirnya
menang. Setelah pejabat militer sadar bahwa perusahaan tersebut milik
aktivis dakwah, maka mereka ketakutan dan menggerebek serta menyegel
kantornya. Peristiwa itu menjadi berita besar, karena secara beramai-ramai
lembaga profesi di Mesir bersuara, mulai dari lembaga profesi teknik,
komputer, pengacara dan lainnya, hingga akhirnya dibebaskan dan dibuka
kembali.

Para dokter di Mesir juga menggelar acara munasharah untuk
kasus Bosnia sampai terkumpul dana sebesar US$ 4 juta, tetapi dilarang
pemerintah. Akhirnya kasus itu menjadi berita besar lagi, karena dibela
oleh lembaga profesi kedokteran, keperawatan, pengacara dan sebagainya.
Kasus itu dibawa ke pengadilan dan akhirnya dinyatakan menang, walaupun
dananya terpaksa dibagi dua (fifty-fifty) untuk lembaga
pemerintah dan lembaga dakwah.

Jika ada bencana alam, gempa bumi, kebakaran dan sebagainya, aktivis
selalu terdepan bersama masyarakat menyantuni korban. Itu semua adalah
hasil dakwah thullabi yang dilanjutkan dakwah profesi. Yang lebih
penting lagi di mihwar muassasi ini, tanpa pengembangan profesi
akan sulit, karena kita membutuhkan para ahli dalam bidangnya yang bisa
menjawab dan menjelaskan tantangan zaman melalui kacamata Islam.
Konsep-konsep Islam harus dirumuskan dan dilaksanakan sebagai solusi bagi
persoalan bangsa ini. Semuanya itu mengharuskan kita, mau tidak mau, untuk
terjun dalam lembaga profesi.

Plis Dong, Akh! Oleh: Nova Ayu Maulita

Plis Dong, Akh!
Oleh: Nova Ayu Maulita

“Hallo, Ukhti!” suara melengking itu spontan membuatku mendongak.
Tommy terlihat sumringah saat melihatku.

“Apa kabar nih? Lama nggak ketemu. Jadi kangen!”

Mulutku tercekat. Hari gini dia bilang kangen sama aku? Ugh. Rasanya
aku ingin tenggelam ditelan bumi. Masalahnya saat itu aku tidak
sendirian. Aku sedang bersama adik mentoringku. Masalahnya lagi, baru
lima menit yang lalu aku mengisi mentoring tentang manajemen hati dan
sikap. Nah, kalau sekarang aku disapa Tommy seperti itu kan jadi
rumit. Bisa-bisa dikira aku punya skandal dengan ikhwan yang satu ini.

“Iya, liburan kemana aja, Ukh? Cerita-cerita dong!” Tommy masih
nyerocos tanpa merasa bersalah sama sekali. Sementara itu aku
senin-kamis menahan malu sambil menghindari tatapan adik-adik mentorku
yang sesekali tersenyum nakal dan berdehem-dehem. Mungkin saat itu
mukaku sudah berubah menjadi traffic light, merah kuning hijau. Tapi
dia tetap saja cuek dan pasang innocent face.

Tommy adalah teman sekelas SD-ku. Enam tahun sekelas dengan nomor
absen berurutan membuat kami lumayan akrab. Sering ngobrol, sering
kerja kelompok, sering merancang ide-ide konyol, tapi sering
bertengkar juga. Pokoknya dulu bisa dikatakan kami berteman baik deh.
Waktu lulus SD, dia pindah ke luar kota. Tidak pernah ada kabar sampai
tiba-tiba dia sudah satu jurusan, bahkan sekelas denganku di
universitas. Tapi tentu saja semua sudah berubah. Paling tidak
sekarang aku sedikit-sedikit juga tahu adab bergaul dengan lawan jenis.

Tapi, entahlah bagaimana dengan Tommy. Dia memang terbuka, suka
bergaul, bercanda, dan ngobrol dengan siapa saja. Sepertinya sekarang
dia juga sudah cukup paham. Sekarang kami sama-sama bergabung di rohis
fakultas. Tommy sering juga ikut kajian umum di fakultas, sering
terlihat kumpul bareng ikhwan-ikhwan mushala, sering ikut dalam
kepanitiaan SKI, dan juga cukup sering menyebutkan dalil-dalil yang
menunjukkan pengetahuan Islamnya cukup terakreditasi. Tapi untuk
masalah ‘centilnya’ ini, ah entahlah… .

“Kok diem terus sih, Van! Ngomong dong! Ngomong…!” Disuruh ngomong aku
malah semakin kikuk. Apa lagi kalau mengingat nada suaranya yang
mirip-mirip iklan operator telepon selular yang beberapa waktu lalu
sempat populer, “Ngomong dong, sayang..!” Weeit…!

“Iya, ya, liburanku biasa-biasa aja kok. Pulang cuma seminggu, belum
hilang kangennya sama orang rumah. Kemari… nggak jadi deh!” aku nyaris
saja keterusan bicara. Tadinya aku mau cerita kalau kemarin aku ketemu
sama Dela, teman kami dalam hal gila-gilaan waktu di SD dulu. Wah,
kalau tadi aku cerita, pasti obrolan nostalgia SD akan jadi panjang.

“Kemarin kenapa? Cerita dong… aku jadi penasaran nih.”

“Nggak usah, nggak penting kok! Anggap aja tadi aku nggak ngomong apa-apa”

“Uh… dari dulu kamu nggak berubah. Bikin orang penasaran.”

Aku cuma ngiyem mendengarnya.

“Eh, Van, Van. Kamu liat akhwat itu nggak?” Kali ini Tommy mengalihkan
pembicaraan. Matanya mengarah pada seorang akhwat yang berbaju abu-abu
di seberang. “Emangnya kenapa?” Aku terpancing ingin tahu.

“Itu tuh, bajunya kok nggak match ya. Liat tuh, bajunya abu-abu,
bawahannya hijau, jilbabnya item, eh… tasnya merah. Bagusan kan kalau
roknya item dan tasnya apa gitu kek, yang penting jangan merah. Trus
kaos kakinya itu lho, kok kuning. Aduh…!” Tommy sok-sok memberikan
penilaian bak seorang desainer sambil memukul-mukulkan telapak tangan
ke jidatnya. “Payah ah, penampilannya! Kalau kamu hari ini sudah cukup
match kok, Van. Bagus, bagus!” Tommy memandangi sekilas setelan biru
yang kupakai.

Aku sudah tidak tahan mendengar komentar-komentarny a tadi. Siapa yang
butuh komentar darinya? Kalau saja kami masih jadi anak SD, sudah
kutonjok dia dari tadi. Hiiihhh!

“Plis dong, Akh! Penting nggak sih buat kamu? Kasian lagi kalau
beliaunya denger kamu ngomongin dia kaya gitu. Bisa kehilangan pede.
Lagian harusnya kan antum jaga pandangan dong!” jawabku ketus disertai
tampang bete. Khusus kalau sedang bicara dengan Tommy kata-kataku jadi
campur aduk, tergantung mood. Kadang pakai istilah akhi, antum, afwan,
atau istilah-istilah Arab lain. Tapi kadang juga keluar aku, kamu,
kasian deh lu, dan bahasa-bahasa gaul lainnya yang dulu biasa kami pakai.

“Emang nggak boleh ya komentar kaya gitu? Kalau aku malah seneng kalo
ada yang ngeritik. Ah, wanita memang susah dimengerti.”

Aku menahan diri untuk tidak berkomentar sambil mengepal-kepalkan
telapak tanganku di samping baju. Rasanya darahku sudah mendidih
sampai ke otak. Melawan kata-katanya hanya akan memicu perdebatan yang
sulit diramalkan endingnya.

“Eh, udah deh, aku pergi dulu ya.”

Tiba-tiba rongga dadaku terasa lega mendengar kalimat terakhirnya itu.
Lega.

“Tapi Ukh, sebelumnya tolong liatin muka saya ada tip-exnya nggak?”

Saking gembiranya, aku langsung menuruti persyaratan untuk membuatnya
menghilang dari hadapanku. Aku mendongak menatap wajah yang ditumbuhi
sehelai jenggot itu. “Nggak ada, kok,” jawabku.

“Makasih ya, Ukh! Tapi bukannya kita nggak boleh memandang wajah lawan
jenis? Sudah ya, wassalamu’alaikum… !”

Tinggal aku yang bengong dan gondok habis. Ugh… kena deh! Awas ya!

***

“Assalamu’alaikum… ” Sosok Tommy sudah muncul di depan kostku. Aku
celingukan mencari teman yang mungkin dibawanya serta. Nihil.

“Waalaikum salam warah-matullah. . sendirian aja, Tom? Nggak bawa
temen?” aku jadi kikuk. Serba salah. Setahuku kalau ada dua orang
laki-laki dan perempuan maka ketiganya ada setan. Hiyy. Di sini ada
setan dong!

Tommy sudah empat kali berkunjung ke kostku. Aku juga sudah selalu
berpesan kalau dia harus mengajak seorang teman biar kami nggak
ngobrol berdua. Tapi sampai sekarang dia masih suka nekat datang
sendirian. Dan aku juga belum bisa mengusirnya dengan tegas. Nggak tega.

“Afwan, tadi cuma mampir karena habis beli jus dekat sini. Udah bikin
tugas analisis konflik dan perdamaian, Ukh?”

“Udah, baru aja selesai.” Aku berusaha menghemat kata-kataku.

“Aku bingung nih, masalahnya gimana sih? Bisa minta tolong dijelasin
nggak?”

Pertanyaannya bikin aku garuk-garuk kepala. Memaksaku untuk menjawab
panjang lebar. “Bisa nggak kalo nanya di kampus aja?”

“Tapi aku kan mau ngerjain nanti malem. Besok kita juga nggak ketemu
di kampus. Padahal lusa harus dikumpulin.” Suaranya bernada kecewa.

“Emang nggak bisa nanya ke yang lain?!”

“Eh, kok ketus banget sih, Van! Aku kan udah bilang, mampir kesini
karena kebetulan habis beli jus di samping kostmu, trus inget kalau
ada tugas yang aku nggak ngerti. Jadi sekalian nanya. Malu bertanya
sesat di jalan. Kita kan nggak boleh menyembunyikan ilmu yang kita
miliki. Ya udah kalau nggak boleh.”

Tiba-tiba hatiku meluluh. Kena jebakan kata-katanya. “Emang mau nanya
apa sih?”

Tommy nyengir. “Nah, gitu dong!”

Akhirnya terjadilah diskusi kecil kami selama hampir setengah jam.

“Makasih banyak, Vanti! Entar namamu kucantumin di daftar pustaka
deh.” Tommy berusaha melucu.

Tapi bagiku yang sudah bete banget jadi tidak lucu sama sekali. Plis
dong, Akh!

“Pulang dulu ya. Sampai jumpa. Mimpi indah ya! Bu bye..”

Gleg. “Kok sampai jumpa sih? Pake bubye pula.”

“Eh, iya, afwan. Assalamu’alaikum… ”

“Alaikum salam warahmatullah. ”

***

Sepertinya belakangan ini Tommy menjadi sebuah masalah bagiku. Dan
entah kenapa banyak kebetulan-kebetulan yang menyebabkan aku harus
bersama dengannya. Misalnya pernah waktu jalan tiba-tiba kebetulan dia
juga sedang jalan kaki dan tanpa sungkan-sungkan langsung mengajak
ngobrol. Waktu beli makan di kantin juga ketemu. Tiga kali ketemu di
toko buku. Ke perpustakaan juga ketemu. Di luar kebetulan-kebetulan
itu, Tommy juga sering sekali mengirim sms, menelepon, dan menanyakan
hal-hal yang sama sekali tidak penting. Suka curi-curi pandang, suka
memujiku, dan hal-hal lain yang menurutku sangat menjengkelkan.
Rasanya aku ingin beberapa hari cuti jadi orang yang mengenalnya, biar
kalau ketemu lagi aku tidak perlu merasa begitu bosan seperti sekarang.

“Jangan-jangan kalian jodoh” Aku hampir tersedak waktu Ika tiba-tiba
mengucapkan hal itu. Memecahkan keasyikanku menikmati makan siang di
kantin Yu Jum.

“Uhuk… uhuk… hari gini ngomongin jodoh?!” aku buru-buru minum karena
tenggorokanku tercekat.

“Emangnya nggak boleh? Kuliah sudah semester lima, umur sudah kepala
dua. Kalau memang jodoh kan bisa segera…” Ika cengar-cengir melihatku.

“Astaghfirullah, ngapain sih ngomong kaya gitu, Ka? Jodoh itu rahasia
Allah, dengan siapa dan kapan itu rahasia Allah. Nggak usah dipikirin
pun toh kalau sudah tiba waktunya akan datang sendiri. Nggak bisa
diundur dan nggak bisa dipercepat.”

“Iya, tapi kan kalau memang sudah siap maka makruh hukumnya
menunda-nunda pernikahan.” Kali ini Ika mengedip-ngedipkan matanya
centil. Membuatku serasa semakin ingin menghilang.

“Yee, siapa yang bilang sudah siap nikah?”

“Lho, kamu belum tahu ya? Tommy kan mau nikah muda! Jadi…
jangan-jangan dia sudah punya calon. Siapa tahu…! Inget lho, kalau
sudah ketemu jodoh dan mampu, maka makruh hukumnya menunda
pernikahan.” Ika kembali bersemangat sekali membuatku jengkel.

“Udah ah… kamu bikin aku kehilangan nafsu makan aja, Ka! Kalau kamu
berminat, bungkus deh buat kamu!” Ika hanya terkekeh mendengarnya.

***

Entah kenapa tanpa kusadari, obrolan dengan Ika itu menghantui
pikiranku. “Iya, jangan-jangan, jangan-jangan… oh tidak! Paling hanya
aku yang ke-geer-an.

New sms! Handphoneku tiba-tiba mengoceh sendiri.

Ups, dari Tommy!

Vanti yang baik, tolong ya siapin surat izin pinjam tempat buat syura
besok. Plizz, you are my only hope =)

Ih, apa-apaan sih ini kok minta tolong saja merayunya sampai maut
begini. Nggak menghargai banget, masa ngomong sama akhwat masih tetap
gombal-gambel kaya gini sih. Tiba-tiba pikiranku kembali melayang pada
perkataan Ika siang tadi. Jangan-jangan… . Kadang sikapnya memang suka
aneh sih, suka ngajak ngobrol lama-lama, suka memuji, suka sok
kebetulan mampir dengan alasan beli jus. Padahal di dekat kostnya
pasti juga ada yang jual jus, ngapain juga jauh-jauh beli jus sampai
ke sini. SMS yang model begitu juga bukan barang baru lagi. Ihh.

***

“Hati-hati lho, Van!”

“Kenapa?” alis mataku terangkat refleks.

“Hati-hati lah… sama ikhwan kaya gitu!” tukas Evi, tetangga kamarku.

“Tahu nggak, kemarin Tommy ke sini lagi lho…”

“O ya?” kini mataku yang terbelalak.

“Hati-hati sama hatimu sendiri. Kan kamu sendiri yang bilang apa tuh…
witing tresna jalaran suka kulina. Nah, kalau kamu tiba-tiba jadi suka
sama dia gara-gara dia sering ke sini gimana?” Evi menatapku serius.

“Apalagi kalian sudah kenal sejak kecil kan?” pertanyaannya semakin
menusukku.

“So what gitu lho…”

“Ya silakan ditafsirkan sendiri… aku cuma mengingatkan, setan itu
cerdik bin lihai lho…”

Aku manggut-manggut.

“Harus bisa tegas!” tambah Evi lagi.

“Tegas? Maksudnya, kalau dia dateng lagi aku harus apa? Kalau dia sms
nggak usah dibales gitu?”

“Iyalah… kalau dia dateng tuh, nggak usah dibukain pintu! Kalau sms
nggak usah dibales. Kalau becanda nggak usah diladeni, pokoknya
bersikaplah dingin!”

“O… gitu ya?”

***

Ternyata saran Evi cukup jitu. Tommy tidak lagi menjadi masalah bagiku
dalam tiga minggu terakhir. Senangnya….

“New sms!”

Kuraih handphoneku.

Tommy!

Ass. Van, tidak saya kira, anti juga bisa bersikap tegas dan cool.
Cocok dengan kriteria saya. Jadi, kapan anti siap menikah?

Pliss dong, Akh!

Tiba-tiba mataku memanas. Aku tidak sanggup bernapas lagi.

[Mata adalah penuntun, dan hati adalah pendorong dan penuntut. Mata memiliki
kenikmatan pandangan dan hati memiliki kenikmatan pencapaian. Keduanya
merupakan sekutu yang mesra dalam setiap tindakan dan amal perbuatan
manusia, dan tidak bisa dipisahkan antara satu dengan yang lain]
**YATHIE**