Menjadi dewasa karena waktu

Terbayang ketika kita masih berada di perut ibu yang hangat dan nyaman. Disana kita memperoleh asupan gizi dari sari pati makanan yang ibu makan. Kian hari kita terus berkembang sempurna, untuk selanjutnya kita berhak menghirup udara dunia setelah keluar dari rahimnya. Dalam kondisi yang teramat lemah kita jalani hari-hari pertama kita di dunia dalam buaian kasih ibu, dengan kesabaran dan kasih sayang yang luar biasa. Hari itu kita hanya menangis tatkala menginginkan sesuatu. Kita lapar, maka tangis kita meledak. Kita pipis, maka kita menangis keras. Kita berak, juga menangis. Dan segala yang kita inginkan kita ungkapkan dengan tangisan tanpa peduli waktu. Siang, malam, pagi bahkan dini hari sekalipun kita tidak peduli. Namun ibu kita terus setia dengan tulus ikhlas merawat dan melayani kita, tanpa kenal lelah. Beliau mengabaikan ngantuk yang sangat, capek yang teramat berat, yang terlukis diwajahnya adalah senyum tulus yang menghiasi hari-hari kita sehingga kita terus tertawa riang dalam ayunannya. Tatkala kita sakit maka rasa bimbang, cemas dan gelisah terus bergayut dalam benaknya. Ketika badan kita panas, maka panik yang luar biasa beliau tampakkan. Berbagai upaya rela dilakukan demi melihat tawa riang kita yang kembali menghiasi hidupnya.

Dalam perkembangan yang kian bertambah usia itulah berbagai peristiwa turut menyertai kita. Kini usia kita terus bertambah. Aktivitas kita juga meningkat. Kita bukan bayi mungil yang tergeletak lemah dalam ayunan bunda lagi. Kini kita telah mahir bergerak, merangkak. Jatuh bangun kita mulai berdiri, berjalan dan berlari. Sekarang kita telah menjadi manusia utuh, tutur kata mulai menghiasi bibir kita. Semua berjalan cepat menandakan kita mulai siap untuk hidup di dunia. Proses berpikir juga menemukan bentuknya, hingga kita minta untuk masuk ke sekolah. Teman dan pergaulan kita bertambah luas, banyak hal baru di dunia ini mulai kita kenal. Perlahan namun pasti, kita tumbuh menjadi manusia sempurna dengan jasad lengkap dan pikiran yang tertata. Begitulah waktu terus membentuk dan menyempurnakan kita. Dalam proses yang cukup panjang penuh makna itulah kepribadian dan karakter kita terbentuk. Didikan orang tua , khususnya ibu, telah menyusun semuanya. Rosulullah pernah bersabda, “Sesungguhnya semua bayi yang terlahir ke dunia secara kodrati adalah Islam, namun ibu bapaknya yang telah menjadikannya Yahudi, Nasrani dan Majusi”. Yah orang tua kitalah yang punya andil besar membentuk kepribadian dan karakter kita. Maka sudah sepantasnya kita punya penghormatan yang besar kepada keduanya yang telah mengajari kita segalanya, serta menyayangi kita dalam ketulusan yang luar biasa. Tanpa mereka mungkin kita tidak akan pernah berada didunia ini.

Dalam perjalanan waktu yang terus bergulir itulah, terkadang kita diharuskan untuk meninggalkan mereka. Pergi jauh dari sampingnya yang hangat. Disertai do’a bahkan deraian air mata, kita melangkah jauh mengejar impian yang tergantung dilangit yang lain. Dengan rasa cemas dan bimbang, langkah kita dilepas mereka. Kini kita berjibaku, menempa diri untuk mengejar mimpi itu. Tak sedikit orang yang lupa dengan satu kekuatan do’anya terus menyertai setiap usaha dan perjuangan kita, merekalah ibu dan bapak kita. Dari kejauhan mereka terus berdo’a untuk kesuksesan dan keselamatan kita di rantau. Terkadang dengan hadirnya kawan dan sahabat baru, kita lupa untuk sekedar kirim kabar dan pulang menjenguk mereka. Sekedar mengecup tangan lembut mereka, dan mengusap kesedihan yang terlihat dari raut mukanya yang telah keriput dimakan usia. Mereka tidak mengharap banyak, hanya kabar kita yang baik itulah yang mereka inginkan. Melihat anak-anaknya tumbuh dalam kewajaran. Mereka tidak meminta upah atas pelayanan dan penjagaannya, mereka tidak mengharap balas jasa atas semua jerih payahnya hingga melahirkan anak-anak peradaban. Seandainya itu yang mereka minta, maka tidak seorangpun yang mampu membayarnya, walaupun dunia ini diserahkan kepadanya dari timur hingga barat. Kini engkau bukan lagi bayi mungil yang lemah, kini engkau bukan anak kecil yang selalu merengek. Kini engkau adalah singa-singa peradaban dengan segenap kemampuan dan kekuatan. Waktu telah menempamu hingga ke puncak prestasi manusia. Janganlah engkau lupakan rangkaian waktu hidupmu. Dari waktu itulah engkau mengenal siapa sesungguhnya dirimu. Seandainya engkau bisa berbicara dengan waktu, maka engkau akan mampu mengerti tentang hidup dan kehidupan. Karena disanalah semua kisah dan sejarah terekam sempurna. Disanalah semua kisah tersusun rapi dengan berbagai hikmah yang dalam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: