Peran Pemuda dalam Gerakan Dakwah Oleh: Ust. Hilmi

Saya selalu merasa sangat bergembira kalau bertemu dan harus
berbicara di hadapan para pemuda. Ini semua menandakan bahwa pemuda tetap
bersemangat dan serius, karena setiap gerakan yang berhasil pasti memiliki
kemauan yang kuat, harapan yang jauh ke depan, dan orientasi yang jelas
serta terarah terutama di basis pemudanya.

Walaupun kadang-kadang gerakan pemuda kepentok masalah klasik
kekurangan dana, misalnya. Hal itu biasa dan terjadi di mana-mana, di
setiap waktu dan tempat, bukan hanya di Indonesia dan di masa sekarang
saja. Meskipun tidak mempunyai materi berlimpah, semua pergerakan disusun,
dirancang, dan dilaksanakan oleh pemuda. Pemuda aktivis boleh miskin
materi, tetapi jiwanya kaya, sehingga pantang menyerah dan mengeluh.
Mereka tidak mengorbankan iffah, kehormatan diri, hanya untuk
meminta-minta, karena pemuda perintis dan pelopor pergerakan yang berhasil
adalah mereka yang bermental baja.

Kekuatan moral dan spiritual menjadi modal utama dan pertama dalam
setiap pergerakan. Mungkin saja landasan moral dan spiritual sebuah
pergerakan salah atau bathil, tetapi pasti punya semangat. Apatah lagi
kita yang mempunyai landasan moral dan spiritual yang benar, bersumber
dari petunjuk Allah SWT. Kekuatan moral dan spiritual yang benar
akan menghasilkan azam dan iradah qawiyah. Bahkan, orang akan
menjadi muda selamanya dan bergairah terus, jika bergerak atas landasan
moral dan spiritual yang benar. Alhamdulillah, kita telah diberikan
karunia itu oleh Yang Mahakuasa.

Modal kedua ialah kemampuan intelektual. Allah sangat merangsang
manusia melalui ayat-ayat Al Qur’an.
Menurut penelitian, otak manusia yang terpakai hanya 5%
dari volume otak yang sebenarnya. Apalagi otak orang Indonesia yang
mungkin tidak mencapai batas maksimal itu. Bayangkan, jika kemampuan otak
itu ditambah dengan kekuatan pendidikan (tarbiyah) yang kita jalankan,
bagaimana hasilnya. Menurut catatan, anggota gerakan 70% adalah para
sarjana yang diberi petunjuk dan kemudahan oleh Allah untuk bergabung
dalam jamaah dakwah, itu melebihi kualitas kelompok masyarakat pada
umumnya.

Modal ketiga adalah ideologi atau idealisme yang dengannya kita
mempunya visi dan misi perjuangan yang jelas. Ini juga merupakan karunia
Allah kepada kita berupa pemikiran yang paripurna, bisa memiliki pandangan
jauh ke depan, walaupun pada masa-masa sulit. Kita selalu menjadi barisan
pelopor dan perintis dalam kejelasan ideologi.

Modal keempat adalah manhaj atau metodologi. Allah tidak hanya
memberikan perintah saja, melainkan juga konsepsi dan landasan
operasional. Shalat dan haji memang diperintahkan oleh Allah, tetapi dalam
pelaksanaannya Allah mencontohkan melalui tindakan Rasulullah. Dalam
berjuang dan berjihad pun harus mengikuti Rasul, tidak membeo, tapi
memahami dan mengerti maksudnya. Qudwah kepada Rasul merupakan kebutuhan,
bukan hanya sekadar kewajiban, karena tanpa Rasul, maka ajaran Islam tak
bisa jalan. Rasulullah-lah yang mencontohkan kepada kita, bagaimana dakwah
yang jelas, terarah dan sistemik.

Modal kelima adalah kefitrahan. Dinul Islam itulah modal besar,
karena sesuai dengan fitrah manusia, tidak berbenturan dengan kultur
manusia, binatang, dan ekosistem. Bahkan, Allah menegaskan bahwa semua
makhluk itu adalah junud (tentara) Allah. Artinya, kita harus
yakin bahwa pergerakan yang bertentangan dengan fitrah manusia adalah
bertentangan dengan kehendak Allah, karena semuanya bergerak dalam nuansa
dan irama yang sama. Semuanya bertasbih kepada Allah. Jika perjuangan
Islam kompak dengan perjuangan alam (universe), maka perjuangan
itu akan berhasil. Pohon dan tetumbuhan, binatang, cuaca, gejala alam
semuanya menjadi teman-teman perjuangan kita.

Berjuang tanpa fitrah alam akan gagal, karena hukum itu bersifat
baku dan tetap sepanjang zaman. Ini adalah modal yang sangat besar,
walaupun kita tidak merasakannya. Padahal, bantuan Allah lewat alam
(nature) itu sangat banyak. Misalnya, bekerja dalam hujan, tetapi
tidak masuk angin, malah hujan itu menjadi penyegar. Bahkan, semuanya itu
untuk mengokohkan, jika kita berstatus juga sebagai Jundullah. Caranya,
sesuaikanlah sifat jundiyah kita dengan jundiyah angin,
binatang, pohon, dan lain-lain.

Rasulullah sering dibantu oleh para jundi alam ini: tumbuhan,
binatang, cuaca, dan sebagainya. Bahkan, karamah para sahabat
dalam perang Qadisiyah, ketika mereka menyeberang sungai sambil berkata:
”Wahai air, kita sama-sama jundullah, bantulah kami karena sedang
melaksanakan tugas” Akhirnya, air yang dalam dan deras itu menjadi
dangkal dan tenang untuk dilewati.

Modal keenam adalah modal institusional. Kerja kita adalah kerja
Jama’ah yang banyak orang tidak melakukannya. Kita memperoleh
banyak dukungan dari proses jama’i ini, seperti thawashau bil
haq dan thawashau bis shobri. Itu hanya bisa dilakukan
dengan jamaah, karena saling mengingatkan itu diperlukan dalam gerakan
agar tidak tergelincir. Ba’duhum awliya’u
ba’din. Kritik dan peringatan itu perlu.

Kita sedih menyaksikan ada pejabat tinggi pemerintah yang tidak mau
dinasehati salah seorang ikhwah. Padahal kita hanya ingin menyelamatkan
umat, bukan mengincar jabatan. Tetapi, pejabat tersebut setelah menduduki
posisinya justru keenakan dan tidak mau direpoti oleh saran-saran yang
berguna bagi umat.

Itu semua hanya bisa dilakukan dalam proses institusionalisasi,
ketika tantangan dakwah berat dan sulit. Ada tawashau bil haq wa bis
shobri, sehingga menimbulkan daya tahan (QS Ali Imran: 157). Wa
ma dla’ufu wa ma istakanu (mereka tidak lemah dan tidak
menyerah). Juga dilengkapi dengan tawashau bil marhamah. Tatkala
seseorang mendapat musibah dan menderita, maka orang tersebut tidak
sendirian, tetapi bersama-sama dengan banyak orang, sehingga potensinya
tidak terpuruk.

Modal ketujuh bersifat material. Sebenarnya Allah telah banyak
memberikan modal material kepada kita berupa alam semesta beserta segala
isinya, tetapi mungkin kita belum bisa mendayagunakannya. Bahkan, dalam al
Qur’an surat al Hajj ayat 31, Allah berfirman: ”Telah Aku
datangkan segala apa yang kamu butuhkan, wa in ta’uddu
ni’matallah laa tuhsuha” Karena kezaliman dan
ketidakproporsionalan sikap kita, sehingga tidak memiliki daya
inovatif dan kreatif untuk memanfaatkannya. Menyadari dan mensyukuri
nikmat Allah itu penting. Bagaimana nikmatnya udara, sehari kurang lebih
350 kilogram kita memakai oksigen untuk tubuh kita, seperlima diantaranya
dipakai oleh otak.

Kesadaran memiliki modal dasar itu penting demi iradah qawiyah dan
azam yang tinggi. Kalau melihat perjalanan dakwah ke belakang pada
tahun 1980-an, ketika Orde Baru berkuasa, bagaimana dakwah ini dikekang,
diatur dan dikendalikan oleh pemerintah. Bahkan, dai yang menafsirkan
surat Al Ikhlas sebagai ajaran tauhid saja sudah diberangus, sampai
dikejar-kejar, sehingga akhirnya tema ceramah diubah menjadi syarat sahnya
berwudlu. Justru di masa-masa sulitlah dakwah berkembang dan berekspansi,
karena punya modal banyak.

Pada saat itu para muwajjih tidak dijemput dengan mobil,
tetapi banyak yang berjalan kaki, karena keadaan ekonomi yang sulit. Cari
tempat untuk acara pengajian atau daurah juga sulit.
Halaqah dilakukan di kebun binatang, di taman, di lapangan, di
kebun raya tanpa whiteboard dan peralatan tulis memadai.
Itu semua karena kita mempunyai kesadaran bahwa kita kaya, yang
menyebabkan kita selalu menjadi barisan perintis dan pelopor
kebaikan.

Strategi awal dakwah kita adalah harakah at taghyir yang
membutuhkan anashir at taghyir. Karena kita membutuhkan banyak
unsur perubahan, maka kita perlu mendapatkan akses dakwah pada pusat-pusat
perubahan, yaitu markaz at taghyir. Dalam tahap awal, pusat
perubahan yang kita akses adalah wilayah ilmiyah, yaitu
kampus-kampus dan sekolah-sekolah. Setelah itu kita mengakses wilayah
sya’biyah (masyarakat umum) melalui masjid-masjid dan pengajian
umum.

Kampus dan sekolah itu pada dasarnya adalah milik umat. Sesudah itu,
dakwah dalam amal thullabi dilanjutkan dengan amal
mihani (dakwah profesi). Seyogyanya memang amal thullabi dan
amal mihani itu disinergikan, karena mengarahkan kemampuan
profesional harus dimulai sejak masa mahasiswa.

Amal mihani terdiri dari dakwah di kalangan perusahaan
(tenaga kerja) dan pengembangan profesi. Harus disadari bahwa
perusahaan-perusahaan umum itu tidak bisa atau sulit dijadikan
lembaga perjuangan, sehingga hanya dipenuhi dengan karir,
ma’isyah (pekerjaan), rekrutmen dan pengembangan
kafa’ah saja. Yang masih lemah dari para aktivis adalah
memasuki lembaga-lembaga profesi.

Itulah yang bisa dijadikan lembaga perjuangan. Tetapi kenyataannya
sekarang lembaga-lembaga profesi itu banyak yang lemah dari sisi
perjuangan, hanya sekadar tempat kumpul-kumpul, bagi-bagi proyek, dan
kadang-kadang peningkatan kafa’ah saja. Fenomena kelemahan
lembaga profesi ini bukan hanya di Indonesia, tetapi terjadi di
mana-mana.

Dakwah Islam memandang situasi itu sebagai sesuatu yang besar, bahkan
keharusan perjuangan. Di Mesir, tahun 1960-1970 an, aktivitas
kemahasiswaan berjaya dan mulai memasuki dakwah profesi. Lembaga-lembaga
profesi yang tadinya lemah, maka sepuluh tahun kemudian menjadi kuat dan
hampir 90% organisasi profesi dikuasai aktivis dakwah. Ikhwan dan akhwat
yang masuk ke lembaga profesi harus kompetitif, jujur dan amanah. Aktivis
Kristen Koptik di Mesir pun memilih dan mengakui kepemimpinan aktivis
dakwah yang dinilai paling amanah dan memiliki etos perjuangan.

Semua proses tersebut berjalan secara wajar dan terjadi pemberdayaan
yang luar biasa terhadap lembaga profesi. Lembaga profesi teknik
(persatuan insinyur) tidak hanya bekerja pada bidang teknik, tetapi juga
membuat RUU dan advokasi keteknikan yang bernuansa Islam, karena aktivis
dakwah mampu mewarnai lembaga tersebut. Akhirnya lembaga profesi itu
bertindak seperti partai politik dan pressure groups terhadap
pemerintah. Karena aktivis mewarnai dan menguasai banyak lembaga profesi,
maka seakan-akan mereka memiliki banyak partai politik dan kelompok
penekan yang mengontrol pemerintah dengan kebijakan dasar yang sama.

Pada tahun 1995, pemerintah Mesir menyadari hal itu, sehingga
lembaga-lembaga profesi mau dibredel, tetapi sulit karena terkait dengan
institusi negara, infrastruktur dan suprastruktur politik. Kalau
dibubarkan sulit, karena bertentangan dengan UU dan bisa membentuk
lembaga yang baru lagi. Kalau kantornya ditutup, pemerintah dituntut lewat
pengadilan. Aktivis bisa membuka kantor yang baru, atau menguasai dan
mewarnai lembaga profesi sejenis. Kalau aktivisnya ditangkapi dan
dipenjarakan, industri dan pelayanan jasa (terutama rumah sakit, konsultan
proyek, dan pengacara) akan mengeluh, karena tidak bisa berjalan, sebab
tidak ada tenaga ahlinya. Maka, proses pembangunan pun bisa
terhambat.

Kelompok Salsabil di Mesir, misalnya, membuat perusahaan komputer dan
berkembang sampai bisa mengikuti tender penyediaan software di
Departemen Pertahanan Mesir, karena murah dan paling baik, akhirnya
menang. Setelah pejabat militer sadar bahwa perusahaan tersebut milik
aktivis dakwah, maka mereka ketakutan dan menggerebek serta menyegel
kantornya. Peristiwa itu menjadi berita besar, karena secara beramai-ramai
lembaga profesi di Mesir bersuara, mulai dari lembaga profesi teknik,
komputer, pengacara dan lainnya, hingga akhirnya dibebaskan dan dibuka
kembali.

Para dokter di Mesir juga menggelar acara munasharah untuk
kasus Bosnia sampai terkumpul dana sebesar US$ 4 juta, tetapi dilarang
pemerintah. Akhirnya kasus itu menjadi berita besar lagi, karena dibela
oleh lembaga profesi kedokteran, keperawatan, pengacara dan sebagainya.
Kasus itu dibawa ke pengadilan dan akhirnya dinyatakan menang, walaupun
dananya terpaksa dibagi dua (fifty-fifty) untuk lembaga
pemerintah dan lembaga dakwah.

Jika ada bencana alam, gempa bumi, kebakaran dan sebagainya, aktivis
selalu terdepan bersama masyarakat menyantuni korban. Itu semua adalah
hasil dakwah thullabi yang dilanjutkan dakwah profesi. Yang lebih
penting lagi di mihwar muassasi ini, tanpa pengembangan profesi
akan sulit, karena kita membutuhkan para ahli dalam bidangnya yang bisa
menjawab dan menjelaskan tantangan zaman melalui kacamata Islam.
Konsep-konsep Islam harus dirumuskan dan dilaksanakan sebagai solusi bagi
persoalan bangsa ini. Semuanya itu mengharuskan kita, mau tidak mau, untuk
terjun dalam lembaga profesi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: