Selembar kertas kusut dari perjalanan singkat di Pontianak dan Sulawesi Selatan

Dengan sebuah semangat besar untuk memberikan manfaat kepada orang lain melalui kegiatan berdagang (bisnis) itulah, seorang mahasiswa di surabaya mencoba untuk berkiprah. Sebelum memasuki gerbang aktivitas ini, terkadang ada satu beban menggayut berat, bayangan dan rintangan yang harus dihadapi, mulai dari keluarga, teman kuliah, dan seabreg tantangan dilapangan yang nantinya akan dia masuki. Langkah yang sedikit galau bercampur cemas membuatnya harus berkonsultasi dengan beberapa orang yang bisa diajak diskusi untuk memantapkan langkahnya. Disitulah dia memulai sebuah proses pendewasaan diri di dunia pasca kampus, saatnya baginya berkiprah setelah digodog di kawah candradimuka tarbiyah kampus. Berbekal nasehat dan semangat yang masih kuat di dadanya, buah dari tarbiyah yang dia dapatkan, ia mulai melangkah pelan dan mantap. Kini hari-harinya dihiasi dengan perjalanan jauh ke pulau-pulau kecil di Indonesia yang memungkinkan aktivitas dagangnya bisa berjalan. Disanalah dia melihat satu kondisi nyata di Indonesia tentang nasib dan kehidupan rakyat pinggiran. Hatinya basah melihat kondisi tragis dimasyarakat yang telah bersusah payah mengurus lahannya kemudian memetik hasil buminya dan dihargai dengan ala kadarnya. Hasil dari jerih payahnya tidaklah sebanding dengan pengorbanannya. Para pengelola perkebunan ini sangat sulit untuk hidup berkecukupan, bahkan hanya cukup untuk sekedar bertahan melanjutkan nafas kehidupannya. Bukan hanya itu, kesulitan hidup itupun bertambah karena kondisi alam dengan hasil perkebunannya sangat sulit untuk menghasilkan bahan pangan yang bisa dimakan, suplai ke darahnya pun sangat terbatas sehingga harga makanan membumbung tinggi. Kondisi itupun diperparah dengan adanya sistem monopoli yang menggandeng sistem ijon dalam proses jual beli hasil perkebunan. Kesengsaraan mereka nyaris sempurna dengan kondisi alam yang kian tidak menentu menjadikan hasil perkebunannya kurang maksimal, kondisi ini yang sering disebut global warming yang lagi santer dibicarakan dalam forum internasional.
Kisah pilu masyarakat ini bisa digambarkan dari satu daerah terpencil di Pontianak, bernama pulau Batu Ampar. Untuk mencapainya diperlukan perjalanan selama 3 jam menggunakan speed boat dengan tarif Rp. 200.000,- sekali jalan. Sedangkan kalau menggunakan kapal kecil atau kapal klotok ditempuh selama 8 jam lebih dengan tarif Rp.30.000,- sekali jalan. Dikesempatan itu saya dan seorang teman juga dari surabaya tinggal selama 6 hari disana, banyak sekali informasi yang kami dapatkan, terutama bagi saya karena mampu membuka mata dan wawasan saya bahwa masih banyak masyarakat Indonesia yang hidup dibawah garis kemiskinan yang terus berharap ada satu kekuatan besar mengangkatnya dari kungkungan kemisknan. Berbagai pengalaman baru saya peroleh karena rumah yang saya tinggali adalah salah satu tokoh desa yang akan mencalonkan diri menjadi lurah atau kepala desa, sehingga banyak yang sering datang untuk berbincang-bincang. Suatu saat saya makan di warung dekat rumah, satu porsi nasi goreng seharga Rp. 10.000,- dan setelah saya melihat papan harga disana semua masakan berharga sama, mulai dari soto, mie rebus dan menu sederhana lainnya. Dan itu satu-satunya warung yang saya jumpai selama disitu, harga yang menurut saya cukup tinggi jika dibandingkan dengan kondisi ekonomi daerah itu, karena untuk mendapatkan uang sejumlah itu masyarakat harus kerja ekstra. Perbandingannya adalah upah dari seorang tukang panjat kelapa hanya dihargai Rp. 1000,- per pohon. Rata-rata dia dapat memanjat 70 pohon kelapa.
Sempat suatu sore selepas sholat maghrib saya berbincang dengan seorang bapak. Dia bertutur pelan memulai perbincangan itu tentang kondisi masyarakat disana, dibawah lampu redup yang dihasilkan dari generator kecil disamping masjid yang mensuplai satu desa, dia bercerita dengan ramah dan lugu. Lampu kecil yang terkadang kian redup itupun menyala hanya mulai jam enam sore hingga jam sepuluh malam.

Dengan suara parau dia memulia ceritanya,”Yah seperti inilah kondisi desa kami” dengan bahasa Indonesia yang kurang lancar.
“Kami disini hanya mengandalkan hasil dari kebun kelapa kami, Ya dari hasil bikin kopra” Dia diam sebentar sambil melinting bakau untuk diisap sebagai ganti rokok, setelah dilinting, dia nyalakan dengan korek api, kemudian menyambung ceritanya. “Masyarakat disini ada juga sebagian yang menebang kayu dihutan untuk di jual kepada penadah yang kebanyakan adalah orang cina, sehari kadang bisa dapat seratus ribu, itupun kami juga harus waspada kalau ada polisi hutan yang datang, karena kalau ketahuan urusannya jadi rumit. Pekerjaan itu terpaksa mereka lakukan untuk menyambung asap di dapur karena kelapa kami hanya bisa dipanen setiap tiga bulan sekali”.
Sesekali bapak ini menghisap rokok lintingannya, terus kembali melanjutkan ceritanya. “Kadang kalau ada keperluan mendesak kami ambil uang dulu ke pengumpul kopra dan kami janjikan dengan buah kelapa kami yang masih hijau dipohon untuk pembayarannya. Walaupun kami tahu resikonya harga kopra kami akan dihargai jauh lebih rendah, tapi gimana lagi karena terdesak kebutuhan”.
Terkadang bapak yang mulai memutih rambutnya ini batuk-batuk karena pengaruh rokok lintingannya, kemudian kembali bertutur,”Karena uang hasil penjualan kopra kami hanya cukup untuk hidup sekitar satu bulan hingga satu setengah bulan, dan sisanya kami harus mencari dari yang lain. Kadang melaut dan mengganti nasi dengan singkong yang kami tanam di kebun belakang rumah. Kami sebenarnya sangat berharap perubahan terhadap kondisi kami, kalau bukan kami yang merasakan, mungkin anak atau cucu kami. Walaupun saya bukan orang yang begitu tahu tentang politik, tapi sejak beberapa tahun yang lalu ada satu partai politik datang. Tapi saya heran kok pemimpinnya yang kampanye disini seorang ustadz. Yah semoga itu pertanda baik”.
Mimik muka bapak ini mulai serius,”Karena selama ini kami banyak dijanjikan ini itu dari partai politik yang datang disini, namun setelah selesai pemilihan mereka pergi meninggalkan kami dalam kondisi yang sama tanpa perubahan”.
Dengan memalingkan muka memandang wajah saya bapak tadi bertanya,”Oh ya anak ini dari mana tadi asalnya?”.
Dengan cepat saya menyahut,”Dari Surabaya pak, tapi Aslinya Jawa Tengah”. Kemudian bapak melanjutkan pertanyaannya,”Kondisi di Jawa pasti jauh lebih baik dari disini ya? Disana lebih makmur dari sini?”.
Dengan menghela nafas aku menjawab,”Ya memang dijawa lebih baik dari disini pak, dalam hati saya berkata, -jauh lebih baik-, Mungkin nanti bapak berkesempatan pergi ke Jawa sendiri sehingga bisa melihatnya”.
Sambung sang bapak,”Saya sudah tua, tapi kalau yang diatas masih memberi kesempatan bisa jadi”. Setelah menghisap rokok lintingnya dia melanjutkan ceritanya, “Kami disini sangat sulit karena hidup dipulau kecil yang terpencil, dan jauh dari kota. Harga-harga sangat mahal. Itupun kami sangat tergantung dengan mereka yang punya kapal besar untuk mengangkut barang-barang dari kota. Sekolah disini gratis, tapi sedikit yang mau sekolah karena mereka kebanyakan kerja dikebun membantu orang tuanya untuk mencari penghasilan”.
Dengan mimik muka yang ramah bapak mengajak ke rumahnya, ”Nak main kerumah, itu di seberang jalan itu rumah bapak. Saya pulang dulu kalau nanti punya banyak waktu main ke rumah ya. Mari nak bapak permisi dulu”.
Setelah salaman bapak tadi pergi meninggalkan musholla untuk pulang kerumah. Sebentar tubuh bapak sudah hilang dibalik tembok musholla dan melanjutkan ke rumah panggung sederhana yang berdiri dekat dari musholla. Selepas pembicaraan itu banyak pikiran yang bersarang di kepalaku. Rasa simpati, haru, bersatu mengenang pembicaraan kami.
Keharuan itupun terus menggumpal menajamkan tekadku untuk terus berdagang. Selepas itu terdengar panggilan dari ujung jalan,”Mas pulang dulu!” dengan logat Pontianak. Mendengar suara yang tidak asing ditelinga itu, aku melihat dengan seksama ke asal suara memastikan siapa yang mengajak pulang, ternyata Mas Abbas.
Dengan segera aku menyahut,”Ya mas sebentar…”. Setelah itu aku bergegas ambil sandal dan pulang bersama mas Abbas.
Mas Abbas, begitu sering aku memanggilnya. Dia adalah seorang pemuda, kakak dari teman saya di Pontianak yang mengajakku datang ke Padang Tikar. Mas Abbas punya saudara kembar yang mau mencalonkan diri menjadi Kades, beliau bernama Syafruddin, biasa dipanggil Didin. Keduanya belum menikah, tapi Mas Didin sudah tunangan, rencana bulan depan dia sudah menikah dengan seorang guru sekolah disana. Tapi Mas Abbas belum ada niatan untuk menyusul saudara kembarnya itu untuk menikah.
Dalam sebuah perbincangan santai aku pernah bertanya kepada mas Abbas,”Kapan nikah mas?”,
Dengan santai dia menjawab,”Belum ada rencana, masih mikir pekerjaan. Disini pekerjaan sulit. Jadi banyak perjaka yang terlambat kawin. Gimana lagi, mereka ndak tahu harus mencari penghasilan dari mana untuk menafkahi istri dan anaknya. Termasuk saya”.
Dengan singkat aku menyambung,”Ohhh…gitu ya! Berapa usia mas Abbas?” dengan nada sedikit menurun takut membuatnya tersinggung.
Mas Abbas menjawab,”Saya sudah tiga puluh tahun, kenapa? Aneh ya? Kalau di daerah mas pasti dah menikah seumuran saya. Yah mungkin belum ada jodoh juga.”
Sambil berpindah posisi duduk, aku menjawab,”Ndak…Di Jawa juga ada yang nikah terlambat sampai hampir empat puluh tahun, tapi ya lagi-lagi jodoh mungkin yang berbicara.”
Dengan segera aku mencoba ganti topik pembicaraan karena melihat mas Abbas kurang nyaman,”Mas pernah ke Jawa?”
Dengan segera dia menjawab,”Pernah, saya dulu kerja di Jakarta menjadi peternak udang di sana sama-sama dengan Didin. Yah kira-kira tiga tahunanlah, sebenarnya hasilnya cukup lumayan. Tapi karena suatu hal kami putuskan untuk pulang ke kampung.” Kemudian dia mengambil rokok di meja dan menyulutnya,”Maaf saya sambil merokok ya..!.”
Aku menyahut, ’Oh ya silahkan ndak apa-apa kok…”
Setelah menghisap rokok dan kelihatan santai dia mulai melanjutkan ceritanya,”Di kampung saya dulu pernah punya pengalaman yang mengkin unik untuk mas. Saya pernah menjadi penarik harta karun di dalam tanah dengan teman-teman”
Dengan wajah penasaran saya berucap,”Penarik harta karun, maksudnya? Terus gimana caranya?”
Sambil memegang rokok dan membetulkan tempat duduk, dia berkata,” Ya bener. Penarik harta karun yang lama terpendam di bawah tanah. Cara kita mencarinya dengan magis gitulah penjelasan sederhananya”
”Trus sudah pernah berhasil”, sambungku
”Kalau harta berupa emas dan perak kami tidak pernah berhasil, tapi ada yang pernah berhasil mendapatkan kayu jati yang besar dan bagus di dalam tanah terpendam dibawah rumah. Ia peroleh dari mimpi dan keahliannya dengan profesinya sebagai pencari harta karun” jelasnya.
”Oooo….jadi disini banyak ya mas yang berprofesi seperti itu?”, tanyaku karena semakin penasaran.
”Ndak banyak tapi ada”, jawabnya singkat.
Kemudian datang ibu mas Abbas membawa tiga minuman teh. ”Mari silahkan diminum!” suruhnya setelah semua minuman tersaji di depan kami.
”Oh ya mari mas diminum, lumayan untuk teman ngobrol…” sambung mas Abbas.
Setelah kami menikmati teh manis dan beberapa kue yang ada, mas Abbas memulai pembicaraan lagi. ”Trus gimana mas rencananya untuk berbisnis kopra?”
Sahutku,”Kita masih survey dan hitung semuanya, serta lihat-lihat sarana dan kemampuan kopra disini. Kalau kapasitas yah lumayan besar tapi ada beberapa masalah yang mungkin menjadi pertimbangan untuk melanjutkan bisnis kopra disini”
”Ooo…tapi jadi kan beli kopra disini?” sambung mas Abbas.
”Tergantung nanti dari hasil semua survey, karena untuk keuangannya sangat sulit. Disini ndak ada bank. Setelah tadi kami ke kantor pos satu-satunya dipulau ini untuk membicarakan keuangan, dia tidak berani menjanjikan bawa uang diatas sepuluh juta dalam satu minggu dari kota. Permasalahan kedua adalah kualitas kopra disini kurang bagus. Masih agak basah. Terus kita kesulitan dalam trasnportasi karena tidak ada truk, pick-up atau grobag untuk membawa kopra dalam jumlah besar ke dermaga”.
Dengan mimik serius dia berkata,”Yah seperti ini memang kondisi desa kami, jalannya masih kecil itupun mudah rusak karena Cuma beton. Transportasi utama menggunakan sampan atau ojek. Jadi ndak bisa mas ya…?”
Sambungku,”Belum final tapi sepertinya cukup berat disini, apalagi harga juga lumayan tinggi dengan kualitas seperti itu. Kami ndak ada lahan untuk mengeringkan sebelum dikirim ke pabrik”
”Oh kalau masalah lahan nanti bisa saya carikan, disamping desa kami masih banyak lahan kosong, tenang saja, kalau masalah itu…” sambungnya.
”Yah semoga nanti bisa kita lanjutkan…Eh sudah adzan nih mas kita sholat dulu!”,ajakku ke mas Abbas.
”Oh ya…sebentar aku ambil sarung dulu…!”, jawabnya singkat.
Setelah beberapa saat kami jalan bareng ke musholla dekat rumah sambil sesekali bercanda di jalan. Maklum anak muda walaupun baru saja kenal tapi dah kelihatan cukup akrab.
…….
Malam hari setelah makan, kami kumpul di ruang depan, dengan serius kami memulai pembicaraan,”Mas Abbas dan Mas Didin, kami rencananya besok mau pulang ke Pontianak. Kesimpulan dari survey kami disini masih kami pikirkan solusinya disana. Semoga saja nanti bisa berjalan. Saya sangat berterimakasih dengan keramahan keluarga ini menyambut kami. InsyaAllah nanti kami singgah lagi kesini untuk berkunjung. Dan juga terimakasih atas semua bantuan dari Mas berdua, karena tanpa kalian kami ndak bisa berbuat banyak”
Sambung dari mas Didin,”Oh jadi besok mau pulang, Kenapa ndak disini lebih lama?. Kami senang kalau sekiranya kalian masih mau singgah lebih lama disini. Tapi kami menyadari kalian harus terus keliling untuk melanjutkan bisnis kopranya. Yah semoga lancar untuk usahanya. Kami sekeluarga ndak bisa memberikan lebih banyak karena keterbatasan dari kami, maklum kampung mas. Kami sekeluarga Cuma bisa mendoakan semoga usahanya lancar aja.”
Setelah kami berpamitan, besoknya pagi-pagi kami berkemas untuk pulang. Karena harus berburu waktu dengan kapal yang mau ke Pontianak. Kami tidak menggunakan speed boat lagi karena uang saku kami habis dan ndak mencukupi. Dalam perjalanan pulang itu, kami melihat pemandangan yang cukup memilukan hati. Sebuah potret kehidupan nyata terpampang di depan mata kami. Kondisi rakyat bangsa ini yang terpuruk dalam kemiskinan. Memang bukan hanya di Pontianak, bahkan di Jawapun kita masih banyak menjumpai pemandangan yang serupa. Tapi pemandangan ini memilukan hati karena ditengah keterpurukan itu tersimpan potensi yang besar. Ditengah-tengah mereka ada potensi yang luar biasa untuk mengubah sejarah hidup mereka. Ada kekayaan melimpah yang tersimpan, namun tidak mampu mereka manfaatkan untuk kesejahteraan hidupnya. Keterbatasan akal dan kebodohan seakan menjadi dinding tebal yang menghalangi mereka. Bahkan seakan ada satu kekuatan besar yang membiarkan kebodohan dan keterbelakangan itu terus ada, sehingga mereka bisa mengambil keuntungan dari kondisi tersebut. Ironi sekali kondisi masyarakat ini, sambil mengusap mukaku yang basah oleh keringat aku terpaku melihat gubug kecil, reot dan sangat sederhana ditepi sungai tempat kapalku berlayar. Dibawahnya ada sampan kecil yang menjadi kendaraan penghuninya untuk memancing. Di dalam gubug reot itu terlihat wajah-wajah sayu. Pilu hati saya memandang kondisi itu, seandainya aku punya waktu ingin rasanya singgah sebentar untuk mengulum senyum dan menghapus duka mereka walau hanya sebentar. Wajah tua yang berkerut karena guratan jaman dan kerasnya kehidupan, wajah itu terus ada di kepalaku seakan memanggil-manggil. Terus dan terus aku berandai-andai menjadi seorang kaya yang berkuasa, pastilah aku dapat membantu mereka. Tapi khayalan tetaplah khayalan yang cepat dan mudah hilang dihapus kejutan hidup yang nyata.
Setelah dua bulan berlalu dan berkeliling dari satu daerah ke daerah yang lain di Pontianak, ternyata pemandangan nyaris sama seperti yang kulihat di tepi sungai juga saya temukan. Kesimpulanku adalah memang inilah potret nyata masyarakat pedesaan di Pontianak yang teramat jauh berbeda dengan kondisi di kota. Di kota tempat Universitas Tanjung Pura berdiri, aku melihat wajah-wajah mahasiswa dan masyarakat Pontianak yang larut dalam suasana hura-hura. Setiap malam minggu ada panggung besar berdiri tempat band-band anak muda melantunkan lagu-lagu tidak bermutu. Dalam satu jalan sepanjang satu hingga dua kilometer bukan hanya satu panggung, bahkan ada tiga panggung besar. Belum lagi melihat cara mereka berhura-hura dari segi pakaian dan pergaulan. Itu kondisi di dalam kampus dan di tepi jalan, kalau seandainya kita masuk lebih kedalam di klab-klab malam dan bar-bar yang ada tentu kondisinya lebih ngeri lagi.
Rasa penatku setelah berputar-putar seakan semakin berat karena aku menahan nafas melihat satu pemandangan yang cukup memilukan, seharusnya mereka yang menjadi garda depan untuk memikirkan solusi praktis terhadap kemiskinan yang melanda daerah ini, tapi selayang pandang membuatku seakan pupus harapan adanya perubahan dalam masyarakat dalam kondisi yang memilukan itu. Sebuah harapan muncul perlahan. Aku berhusnudzon, semoga pemandangan ini bukanlah mencerminkan semua pemuda dan masyarakat di Pontianak ini, saya berharap masih ada sekelompok pemuda dan pihak-pihak yang terus memutar otak untuk mengatur langkah menghadapi kemiskinan di daerah tersebut dan di Indonesia secara umum.
Setelah tiba di kost saya langsung menuju lantai atas dan berbaring untuk melepas lelah. Yang kami sebut kost adalah sebuah kantor Trusco cabang Pontianak. Trusco adalah sebuah lembaga pelatihan pengembangan diri yang melayani pelatihan-pelatihan dan berbagai game yang mendidik.

2 Tanggapan

  1. Tulisan anda menarik,krn padang tikar adalah kampung halaman sy,padang tikar desa kecil yg bpotensi besar tp entah kpn potensi itu tergali,smoga ada investor yg bminat mbuka pluang kerja dsana,sy sndiri hengkang kekota sekadau krn tdk ad pluang yg baik utk profesi sy sbg tenaga laboratorium jika menetap dpadang tikar.Oh iya,sy mengenal baik tokoh dlm cerita anda krn mereka adalah tetangga sy. Mungkin teman anda bernama Amri? Sikembar Abbas & Didin bernama asli Basarudin & Mujahidin(bukan Syafrudin).

  2. Saya amat tertarik dengan penulisan saudara mengenai perkampungan ppadang tikar…sebenarnya saya cuba2 mencari asal usul keturunan keluarga di sebelah ibu….moyang kami lari bawa diri ke Semenanjung…seingat saya, asalnya dari pontianak tetapi desanya, saya tidak tahu….sambil2 mencari2 sejarah berkenaan Sulawesi, saya terjumpa Blog ini…. sungguh menyayat hati….kami masih ramai saudara-mara disana dan terputus hubungan terus…ada juga ibu menulis surat dulu2….tapi tulisan dalam bahasa bugis dan kami generasi sekarang tidak memahaminya…pertuturan disini juga udah beda!..moyang kami Hj Sauk bin Magaliang pun sudah lama meninggalkan kami, seingat saya masa saya berumur 15 tahun….jadi sudah 21 tahun moyang meninggalkan kami.teringin benar rasanya untuk mengenal saudara-mara disana, rasanya saya seorang sahaja yg berminat untuk mencari mereka…dari cerita saudara, saya amat bersimpati dgn keadaan hidup mereka yg masih daif…..jika umur saya masih panjang, insyaallah ingin rasanya saya pergi melawat kesana….ke pontianak. generasi yang tua2 yg tahu megenai cerita dan boleh berbahasa bugis semuanya sudah meninggal dunia….cuma tinggal kami generasi pelapis sahaja yang masih mencuba2 nasib…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: