Pacaran…? Gimana ya…?

Pada satu malam di tepi pantai pulau Selayar. Aku berjalan sambil melepas pandangan jauh ke tengah laut yang gelap diselingi deru ombak terus-menerus memukul bibir pantai berhias tiang-tiang dermaga. Kejenuhan selama  berada di dalam rumah telah menuntunku untuk menuju pantai sekedar melepas penat mencari  inspirasi baru. Nyaman rasanya berada di tepi pantai dengan angin sepoi menjadikan badanku terasa segar walaupun hawa dingin turut serta menyelimutiku. Namun suasana teduh pantai yang nyaman mengalahkannya dengan segera. Sambil menikmati suasana pantai aku berjalan pelan menuruti langkah kakiku menyusuri pasir hitam yang basah oleh air laut yang dingin. Setelah berjalan beberapa lama tibalah aku di satu tempat yang cukup luas berdiri diatas bibir pantai. Karena malam suasananya sepi serta cahaya lampu kecil dan redup membuat tempat ini remang-remang. Akupun naik ke tempat ini dari bibir pantai yang telah ku susuri sejak tempat pertama kudatangi. Sedikit heran aku melihat ada beberapa motor terparkir di tepi bangunan yang menjorok ke laut. Setelah aku amati lebih teliti terpampang satu adegan mengusik pikiran sehatku karena menurut hati kecilku kurang layak dilihat ditempat umum seperti itu. Sepasang muda-mudi dengan tanpa merasa canggung berpelukan mesra seakan tidak ada yang memperhatikan mereka. Sesekali mereka tertawa lepas sambil menikmati pantai dengan ombak terus berderu menambah suasana semakin romastis bagi mereka. Bukan hanya satu dua pasang yang aku lihat tapi beberapa juga melakukan hal yang sama, bahkan ada yang turun ke bawah bangunan dengan berpasang-pasangan. Dan saya tidak tahu apa yang mereka lakukan karena terhalang oleh bangunan yang menyerupai panggung diatas pantai. Terhenyak aku melihat pemandangan di depan mataku, satu pulau yang terpencil dan jauh dari peradaban kota besar ternyata sedemikian rusaknya pergaulan remaja, bahkan menyerupai kota-kota besar yang lebih dahulu rusak. Ironi sekali kondisi ini. Ternyata kerusakan pergaulan remaja dan pemuda telah sedemikian akut dan menjamah seluruh pelosok negeri ini, bukan hanya di kota besar yang telah maju dalam hal teknologi dan informasi, namun juga di desa yang terpencil pun telah terjamah nilai-nilai rusak tersebut. Pikiranku menerawang mencari satu jawaban singkat yang dapat menjelaskan suasana malam ini, belum lagi kutemukan jawabannya, pikiranku diserbu berbagai pertanyaan yang rumit. Ada apa dengan bangsa ini? Inikah potret masa depan bangsa ini? Bukanlah pertanyaan yang salah ketika melihat kondisi pergaulan remaja saat ini. Pacaran seakan menjadi gaya hidup bagi remaja. Bukan dimulai dari usia yang cukup baligh, bahkan di SD pun mereka sudah terjangkiti virus mematikan ini. Kalau dimasa usia-usia rawan dalam kehidupannya telah terserang virus ini, maka potensi besar mereka telah terkebiri dan tumbuh kerdil. Karena dalam benak mereka hanyalah bagaimana memperoleh pasangan (pacar) dan mengisi hari-harinya dengan pasangannya. Tentunya aktivitas yang akan dijalani di hari-hari setelah virus ini mulai bekerja akan semakin kacau dan tidak bermutu. Simak saja aktivitas mereka yang telah terserang akut virus ini, kita bisa tengok dari pagi-pagi mereka bangun sudah sibuk dengan sms-sms tidak bermutu mulai dari ”Lagi ngapain? Dah bangun belom? Hari ini ada acara? Tadi malam ngimpiin aku ndak? Dan sederet sms yang kurang bermutu lainnya. Kemudian di siang hari selepas mereka sekolah sering kita jumpai sepasang remaja nongkrong di mall, pusat perbelanjaan, lokasi hiburan, taman rekreasi hingga jalan-jalan sepi yang romantis. Setelah malam mereka mengajak keluar untuk nongkrong, dan aktivitas lainnya yang tidak bermutu. Begitupun ketika mau tidur, bukannya langsung tidur, tapi sms ria dan ngobrol bahkan sampai larut malam mereka masih asyik ngobrol dengan bahan yang tidak berguna sama sekali. Mereka menghabiskan waktu-waktu berharga mereka dengan sia-sia. Waktu-waktu tersebut seharusnya digunakan untuk mengukir masa depan mereka. Waktu yang sangat rawan tersebut dihabiskan begitu saja tanpa menghasilkan satu prestasi yang menghantarnya menjadi pribadi pilihan yang suatu saat akan mewarisi bangsa ini. Mereka larut dalam dunia pergaulan yang hitam dan sulit untuk keluar darinya. Sebenarnya bukanlah kebahagiaan dan kesenangan yang dijanjikan dalam dunia pergaulan semacam ini, bahkan kekecewaan, kesedihan dan keputusaan juga akan diperoleh. Banyak yang bunuh diri karena pustus cinta, ada yang menenggak racun, gantung diri, potong urat tangan, terjun bebas dan sebagainya. Bahkan ada yang patah semangat dan linglung setelah ditinggal pergi pacarnya. Belum lagi resiko yang harus dihadapi dari pergaulan bebas ini, mulai dari hamil diluar nikah, kisah aborsi yang berujung kematian, kucilan dari masyarakat karena perselingkuhan dan seabreg masalah sosial ikutan bagi masing-masing keluarga. Kalau menimbang dengan pikiran bijak kita heran dengan para pemuda dan remaja yang memilih kegiatan pacaran ini sebagai aktivitas mereka. Dimulai dari sedikitnya manfaat, disertai dengan resiko dan banyaknya permasalahan yang akan timbul di kemudian hari apabila telah terjebak dalam aktivitas ini, mulai dari pribadi, keluarga, dan masyarakat. Sesungguhnya kondisi ini adalah sebuah skenario besar untuk menghancurkan sebuah bangsa. Sebuah logika sederhana mampu mengurai permasalahan ini. Jika kita membicarakan suatu bangsa maka salah satu aset berharganya adalah generasi mudanya, karena ada satu pepatah yang mengatakan ’Kondisi pemuda saat ini adalah gambaran kondisi bangsa dimasa mendatang’. Karena mereka akan menjadi penerus yang melanjutkan estafet perjuangan suatu bangsa menuju cita-cita besarnya, ketika suatu bangsa kehilangan satu generasi, maka dapat dipastikan bangsa tersebut akan gagal dan tersungkur dalam keterpurukan yang dalam. Mereka yang sekarang memegang tampuk pemerintahan tidak akan selamanya hidup, tidak akan selamanya berdaya menjawab tantangan jaman yang terus berkembang dan berevolusi. Butuh generasi muda dengan jiwa, semangat darah segarnya mampu menjawab semua tantangan tersebut. Satu masa mempunyai permasalahannya sendiri, dan demikian terus-menerus melengkapi sejarah sebuah bangsa. Diperlukan pahlawan-pahlawan baru yang menjadikan suatu bangsa menjadi besar. Dan para pahlawan yang menghantarkan satu bangsa berjaya disuplai dari generasi muda, tidak ada pahlawan yang datang dari generasi tua yang kembali berjaya, sejarah telah membuktikannya. Peristiwa Rengasdengklok yang menjadi cikal bakal kemerdekaan Indonesia adalah dipelopori oleh pemuda, demikian kisah berdirinya Budi Utomo yang jauh hari sebelum gerakan perjuangan menggelora di tanah air juga didirikan oleh pemuda. Selanjutnya salah satu deklarasi yang dicetuskan pada tahun 1928 adalah sumpah pemuda, bukan sumpah tua. Dari sana muncul berbagai organisasi kepemudaan yang sangat berperan besar dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Demikian juga dengan kisah-kisah bangsa lain yang bergulir dan bergerak maju dengan adanya peran pemuda didalamnya.Memang kita tidak bisa dengan serta merta menyalahkan mereka tanpa memberikan satu solusi yang mampu menjaga mereka dari virus berbahaya ini. Sudah sepantasnya kita turut prihatin dan sama-sama menggalang kekuatan menyembuhkan penyakit ini. Kalau bukan kita siapa lagi yang akan peduli dengan mereka? Apakah kita rela bangsa ini terpuruk dengan kualitas pemuda yang semakin rendah karena terkontaminasi virus berbahaya ini. Kita akan mencoba mengurai satu solusi yang kita tawarkan sebagai bentuk keprihatinan yang mendalam. Semoga solusi tersebut berguna tentunya dengan segala kekurangan yeng menyertainya.Kita dapat membagi solusi tersebut menjadi dua bagian utama yaitu internal dan eksternal. Internal adalah satu solusi yang berasal dari pribadi remaja, sedangkan eksternal berasal dari luar yang mampu memperkuat solusi internal dan sifatnya sebagai pendukung dari solusi yang pertama. Namun dalam usulan ini tidak dipisahkan secara langsung, tapi dianggap sebagai satu kesatuan yang diharapkan mampu dilaksanakan dilapangan secara padu yang membidik dari dua sisi internal dan ekternal Solusi yang kita usulkan adalah sebagai berikut : 1.      Memperkuat karakter keagamaan remaja melalui pelajaran agama dan mentoring di sekolah2.      Menggalakkan seminar dan talkshow tentang peran remaja dan pemuda terhadap kejayaan suatu bangsa di sekolah dan kampus3.      Menggalakkan seminar bahaya pergaulan bebas di sekolah dan kampus4.      Menyediakan sarana edukatif dan kreatif sebagai penyalur bakat remaja5.      Mengurangi program tayangan televisi yang bertemakan cinta anak remaja dan derivasinya6.      Membuat undang-undang dan membentuk  badan pemerintah yang membatasi aktivitas pacaran7.      Memberlakukan jam malam bagi pelajar dibawah usia 17 tahun8.      Mengurangi aktivitas bersama antara remaja putri dan remaja putra baik dilingkungan sekolah dan kampus9.      Mengkampanyekan peran penting keluarga sebagai pembentuk kepribadian remaja melalui pengawasan dan pembinaan intensif di lingkungan keluarga Pembahasan dari berapa usulan solusi. Solusi yang pertama adalah memperkuat karakter keagamaan remaja melalui pelajaran agama dan mentoring di sekolah. Solusi ini adalah yang utama dari solusi-solusi lain. Karena agama merupakan  Mungkin solusi-solusi diatas adalah solusi teoritis, diperlukan satu sarana yang mampu menterjemahkannya dalam tataran praktis sehingga jauh akan lebh efektif dan edisien untuk mengatasi permasalahan yang ada dilapangan.

Satu Tanggapan

  1. assalamu’alaikum wr.wb
    apakah hanya dengan sms itu dapat menimbulkan madharat bagi kaum remaja?dan bagaimna cara menghindari dari bebasnya pergaulan di masa kini?terima kasih.
    wasswlamu’alaikum wr.wb

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: